Senin, 18 May 2026 09:30 UTC

Ilustrasi: Tak bisa lepas layar. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Kecanduan gadget modern kini tidak selalu terlihat ekstrem. Banyak orang tetap bekerja normal, bersosialisasi, dan menjalani aktivitas harian seperti biasa. Namun, ada satu perubahan kecil yang makin terasa: semakin banyak orang sulit duduk tenang tanpa membuka layar.
Saat menunggu makanan datang, orang membuka media sosial. Saat rapat berjalan lambat, tangan otomatis mencari ponsel. Bahkan beberapa menit tanpa notifikasi bisa terasa membosankan.
Fenomena ini kembali ramai dibicarakan setelah viral video anggota DPRD Jember yang bermain game saat rapat membahas stunting. Reaksi publik bukan hanya soal etika, tetapi juga menggambarkan kenyataan baru bahwa banyak orang modern makin sulit bertahan tanpa stimulasi digital.
Otak Modern Terbiasa dengan Hiburan Instan
Salah satu alasan utama orang sulit jauh dari gadget adalah perubahan pola kerja otak akibat stimulasi digital yang terus-menerus.
Media sosial, video pendek, game mobile, dan notifikasi dirancang untuk mempertahankan perhatian selama mungkin. Setiap swipe memberi kemungkinan hiburan baru. Setiap notifikasi menciptakan rasa penasaran kecil.
Profesor Anna Lembke dari Stanford University menjelaskan bahwa manusia hidup di era “dopamine overload”, ketika otak terus dibanjiri rangsangan instan dari teknologi digital. Dalam wawancaranya bersama American Psychiatric Association, ia menyebut kondisi ini membuat manusia semakin sulit menikmati aktivitas yang lambat dan tenang. (psychiatry.org)
Dopamin sendiri bukan hormon kebahagiaan semata. Zat ini berperan besar dalam sistem motivasi dan pencarian hadiah. Ketika otak terlalu sering menerima stimulasi cepat, aktivitas biasa mulai terasa kurang menarik. Karena itu, duduk diam beberapa menit saja bisa terasa mengganggu bagi sebagian orang.
Kecanduan Gadget Modern Sering Tidak Disadari
Berbeda dengan kecanduan klasik, kecanduan gadget modern sering terlihat normal karena dilakukan hampir semua orang.
Banyak orang merasa masih “baik-baik saja” meski terus membuka HP setiap beberapa menit. Padahal, pola tersebut dapat memengaruhi fokus, kualitas komunikasi, dan ketahanan mental terhadap rasa bosan.
Riset Reviews.org pada 2025 menemukan rata-rata pengguna smartphone memeriksa ponsel lebih dari 200 kali per hari. Sebagian besar responden juga mengaku merasa cemas ketika ponsel tertinggal atau baterai habis. (reviews.org)
Psikolog Gloria Mark dari University of California, Irvine, juga menemukan bahwa perhatian manusia kini jauh lebih mudah terpecah dibanding dua dekade lalu. Perpindahan fokus yang terlalu cepat membuat otak sulit mempertahankan konsentrasi panjang. (apa.org)
Akibatnya, banyak orang mulai merasa tidak nyaman saat tidak melakukan apa pun. Diam terasa membosankan. Menunggu terasa lama. Percakapan panjang terasa melelahkan.
Gadget Menjadi Pelarian Mikro dari Tekanan Harian
Tidak semua orang membuka HP karena ingin hiburan. Banyak juga yang menggunakannya sebagai pelarian cepat dari tekanan mental sehari-hari.
Ketika pekerjaan terasa berat, game menjadi distraksi singkat. Saat suasana rapat membosankan, scrolling media sosial memberi jeda emosional kecil. Ketika hidup terasa penuh tekanan, layar menawarkan rasa nyaman instan.
Profesor Jean Twenge dari San Diego State University menjelaskan bahwa generasi digital tumbuh dengan pola hubungan emosional yang sangat dekat dengan perangkat pribadi. Smartphone bukan lagi alat tambahan, tetapi bagian dari rutinitas psikologis sehari-hari. (sdsu.edu)
Masalahnya, pelarian kecil yang terus berulang dapat membentuk ketergantungan. Seseorang mungkin hanya membuka game “sebentar”, tetapi otak perlahan belajar bahwa setiap rasa bosan harus segera dihindari. Padahal, kemampuan bertahan dalam situasi monoton sebenarnya penting untuk fokus, disiplin, dan pengambilan keputusan.
Dunia Modern Membuat Manusia Takut Sepi
Kehadiran gadget juga mengubah hubungan manusia dengan kesunyian. Dulu, orang terbiasa menunggu tanpa hiburan. Kini, beberapa detik tanpa layar terasa kosong. Banyak orang langsung membuka HP saat suasana mulai hening.
Peneliti MIT Sherry Turkle menyebut teknologi digital membuat manusia semakin sulit menikmati kesendirian. Dalam penelitiannya, ia menjelaskan bahwa banyak orang takut kehilangan koneksi dan stimulasi ketika jauh dari perangkat digital. (mit.edu)
Padahal, momen diam sebenarnya penting bagi otak. Saat tidak terus-menerus menerima informasi, manusia punya ruang untuk berpikir, memproses emosi, dan memulihkan fokus.
Karena itu, tantangan terbesar masyarakat modern bukan sekadar mengurangi screen time. Tantangannya adalah belajar nyaman kembali dengan jeda.
Tidak semua momen harus diisi notifikasi. Tidak semua rasa bosan harus dilawan dengan scrolling. Pada akhirnya, kecanduan gadget modern bukan hanya soal teknologi, tetapi soal bagaimana manusia kehilangan kemampuan sederhana untuk hadir tanpa distraksi.
