Logo

Gaya Hidup Ramah Lingkungan Kini Jadi Simbol Kelas Menengah Baru

Pilihan sehari-hari seperti thrifting dan membawa tumbler kini ikut membentuk identitas sosial urban.
Reporter:,Editor:

Kamis, 21 May 2026 10:00 UTC

Gaya Hidup Ramah Lingkungan Kini Jadi Simbol Kelas Menengah Baru

Ilustrasi gaya hidup ramah lingkungan kini juga menjadi bagian dari identitas sosial anak muda urban. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Gaya hidup ramah lingkungan perlahan berubah menjadi bagian dari budaya urban Indonesia. Apa yang dulu dianggap sekadar kebiasaan alternatif kini mulai menjadi identitas sosial baru, terutama di kalangan anak muda kelas menengah perkotaan.

 

Fenomena ini terlihat dari semakin populernya thrifting, penggunaan tumbler, tote bag, sepeda lipat, produk lokal berkelanjutan, hingga coffee shop yang menawarkan konsep eco-friendly. Di kota-kota seperti Bandung, Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta, gaya hidup sustainable kini tidak lagi identik dengan aktivis lingkungan saja, tetapi sudah masuk ke budaya sehari-hari masyarakat urban.

 

Menariknya, perubahan ini bukan hanya didorong oleh kepedulian terhadap bumi. Ada faktor gaya hidup, citra sosial, hingga perubahan cara generasi muda memandang konsumsi modern.

 

Di media sosial, misalnya, estetika hidup minimalis dan sustainable semakin sering muncul. Rak thrift yang rapi, botol minum stainless, belanja produk lokal, sampai kebiasaan naik transportasi publik kini ikut menjadi simbol gaya hidup modern yang dianggap lebih sadar dan relevan dengan zaman.

 

 

Anak Muda Mulai Mengubah Cara Konsumsi

 

Dalam beberapa tahun terakhir, isu lingkungan semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebelumnya menunjukkan produksi sampah nasional terus meningkat setiap tahun, sementara isu polusi plastik makin sering dibahas di media sosial maupun komunitas urban.

 

Di saat yang sama, generasi muda mulai mempertanyakan pola konsumsi cepat yang dianggap berlebihan. Tren thrifting menjadi salah satu contohnya. Banyak anak muda kini lebih tertarik membeli pakaian bekas berkualitas dibanding fast fashion baru yang diproduksi massal.

 

Selain lebih murah, thrifting dianggap punya nilai personal dan lebih ramah lingkungan. Barang yang dibeli terasa unik, tidak pasaran, dan dianggap memiliki “cerita”.

 

Fenomena ini juga didukung perubahan perilaku konsumen global. Laporan Deloitte beberapa tahun terakhir menunjukkan generasi muda, terutama Gen Z dan milenial, cenderung lebih memperhatikan isu keberlanjutan ketika memilih produk atau brand.

 

Di Indonesia, perubahan itu mulai terlihat jelas di kawasan urban yang dekat dengan budaya digital dan komunitas kreatif.

 

 

Sustainable Lifestyle Kini Punya Nilai Sosial

 

Menariknya, gaya hidup ramah lingkungan sekarang tidak hanya dilihat sebagai pilihan praktis, tetapi juga bagian dari citra diri.

 

Membawa tumbler, memakai tote bag, atau membeli produk lokal sering dianggap merepresentasikan kesadaran sosial tertentu. Ada kesan bahwa seseorang lebih peduli lingkungan, lebih modern, dan lebih “aware” terhadap isu global.

 

Fenomena ini mirip dengan perubahan budaya konsumsi kelas menengah di banyak kota besar dunia. Produk tidak lagi dibeli hanya karena fungsi, tetapi juga karena nilai yang melekat di baliknya.

 

Karena itu, banyak brand mulai menyesuaikan strategi mereka. Kemasan eco-friendly, kampanye sustainability, hingga konsep green lifestyle kini semakin sering digunakan untuk menarik perhatian konsumen muda.

 

Namun di balik tren ini, ada hal menarik yang sering luput dibahas: gaya hidup ramah lingkungan juga perlahan berubah menjadi simbol status sosial baru.

 

 

Ramah Lingkungan Kadang Masih Jadi “Estetika”

 

Meski tren sustainable lifestyle berkembang positif, realitasnya tidak selalu sesederhana yang terlihat di media sosial. Sebagian kebiasaan ramah lingkungan memang masih berhenti di level estetika atau citra digital.

 

Misalnya, membeli banyak produk eco-friendly tetapi tetap konsumtif, atau mengikuti tren sustainable hanya karena terlihat menarik secara visual.

 

Fenomena ini sering disebut sebagai green consumerism, ketika isu lingkungan ikut menjadi bagian dari budaya konsumsi modern. Orang ingin terlihat peduli lingkungan, tetapi belum tentu benar-benar mengubah pola hidup secara mendalam.

 

Meski begitu, banyak pengamat sosial menilai perubahan kecil tetap memiliki dampak positif. Kebiasaan membawa botol minum sendiri, mengurangi kantong plastik, atau membeli barang bekas setidaknya menunjukkan adanya perubahan kesadaran publik dibanding beberapa tahun lalu.

 

Perubahan budaya memang sering dimulai dari simbol kecil sebelum akhirnya menjadi kebiasaan kolektif yang lebih besar.

 

 

Kenapa Tren Ini Akan Terus Berkembang?

 

Ada beberapa alasan kenapa gaya hidup ramah lingkungan kemungkinan akan terus berkembang di Indonesia, terutama di kalangan urban muda.

 

Pertama, isu lingkungan kini semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Cuaca ekstrem, suhu kota yang makin panas, banjir, hingga polusi membuat masyarakat mulai merasakan dampaknya secara langsung.

 

Kedua, generasi muda sekarang tumbuh di era ketika identitas sosial sangat dipengaruhi pilihan konsumsi. Apa yang dibeli, dipakai, dan diposting di media sosial ikut membentuk citra personal seseorang.

 

Ketiga, gaya hidup sustainable menawarkan sesuatu yang dicari banyak orang urban modern: rasa lebih sadar dan lebih bermakna di tengah budaya konsumsi cepat.

 

Di tengah tekanan hidup kota besar yang serba instan, banyak orang mulai mencari cara hidup yang terasa lebih personal, lebih lambat, dan lebih punya nilai emosional.

 

Karena itu, sustainable lifestyle hari ini bukan hanya soal lingkungan. Ia sudah berkembang menjadi bagian dari cara masyarakat urban membangun identitas, komunitas, dan rasa relevansi dengan perubahan zaman.

 

Dan mungkin, itu sebabnya membawa tumbler atau belanja thrift sekarang terasa lebih dari sekadar kebiasaan kecil biasa.