Logo

Es Tradisional Menjadi Pelepas Dahaga Saat Musim Kemarau

Kesegaran tidak selalu datang dari sesuatu yang baru. Banyak cita rasa lama tetap menjadi pilihan hingga kini.
Reporter:,Editor:

Jumat, 31 July 2026 11:00 UTC

Es Tradisional Menjadi Pelepas Dahaga Saat Musim Kemarau

Ilustrasi: Segarnya Minuman Tradisional. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Es tradisional masih menjadi favorit masyarakat Indonesia ketika suhu udara mulai meningkat pada musim kemarau.

 

Es dawet, es cincau, es campur, es kelapa muda, hingga es selendang mayang tetap mudah ditemukan di pasar tradisional, pusat kuliner, maupun pedagang kaki lima.

 

Minuman-minuman tersebut bukan hanya menyegarkan, tetapi juga menyimpan nilai budaya yang diwariskan lintas generasi.

 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan sebagian besar wilayah Indonesia memasuki musim kemarau pada periode April hingga Agustus, dengan puncaknya terjadi pada Juli–Agustus di banyak daerah.

 

Kondisi tersebut membuat kebutuhan masyarakat terhadap minuman dingin cenderung meningkat sebagai cara sederhana untuk menyegarkan tubuh setelah beraktivitas di luar ruangan.

 

Di Surabaya, cuaca pada musim kemarau sering terasa lebih terik pada siang hari. Suasana ini turut menghidupkan kembali pedagang minuman tradisional yang ramai dikunjungi warga selepas berbelanja, pulang bekerja, maupun saat menikmati waktu bersama keluarga.

 

 

 

Minuman Tradisional Tumbuh dari Kekayaan Bahan Lokal

 

Keunikan es tradisional Indonesia terletak pada bahan-bahan yang digunakan. Santan, gula aren, cincau, cendol, kelapa muda, kolang-kaling, hingga berbagai jenis buah tropis menjadi komponen utama yang mudah diperoleh di berbagai daerah.

 

Setiap wilayah memiliki racikan khas yang berkembang sesuai hasil pertanian lokal. Keragaman ini membuat Indonesia memiliki puluhan jenis minuman tradisional dengan karakter rasa yang berbeda-beda.

 

Di Jawa Timur, es dawet dan es cincau masih menjadi pilihan yang mudah ditemukan. Kesederhanaan bahan membuat minuman tersebut tetap bertahan meski banyak minuman modern bermunculan.

 

 

 

Pedagang Tradisional Terus Beradaptasi

 

Persaingan dengan gerai minuman modern tidak membuat pedagang minuman tradisional kehilangan pelanggan. Banyak pelaku usaha mulai berinovasi melalui penyajian yang lebih higienis, kemasan yang menarik, hingga sistem pembayaran digital.

 

Transformasi tersebut terlihat di berbagai pusat kuliner Surabaya. Minuman tradisional kini tidak hanya dijual menggunakan gerobak, tetapi juga hadir di kafe, sentra UMKM, hingga layanan pesan antar.

 

Langkah itu menunjukkan bahwa kekuatan utama minuman tradisional bukan sekadar nostalgia. Cita rasa autentik dan penggunaan bahan lokal menjadi nilai yang tetap dicari konsumen.

 

 

 

Kesegaran Tetap Perlu Diimbangi Konsumsi Gula

 

Sebagian besar minuman tradisional menggunakan gula merah atau gula pasir sebagai pemanis. Rasanya memang menjadi lebih nikmat, tetapi jumlah gula tetap perlu diperhatikan.

 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan konsumsi gula tambahan kurang dari 10 persen dari total kebutuhan energi harian.

 

Bahkan, pembatasan hingga di bawah 5 persen, atau sekitar 25 gram gula per hari untuk orang dewasa dengan kebutuhan energi normal, dinilai memberikan manfaat kesehatan yang lebih baik.

 

Anjuran tersebut dapat diterapkan tanpa harus menghilangkan kenikmatan minuman tradisional. Mengurangi kadar gula secara bertahap atau memperbanyak penggunaan bahan alami seperti kelapa muda dan cincau menjadi pilihan yang tetap menjaga cita rasa.

 

 

 

Kuliner yang Menjadi Bagian dari Identitas Daerah

 

Minuman tradisional tidak hanya berbicara tentang rasa. Kehadirannya ikut menggerakkan usaha kecil, memperkuat identitas kuliner daerah, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi banyak pelaku UMKM.

 

Data Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan Indonesia memiliki lebih dari 65 juta pelaku UMKM, dan sektor makanan serta minuman menjadi salah satu bidang usaha dengan jumlah pelaku terbesar. Minuman tradisional menjadi bagian dari ekosistem tersebut karena banyak diproduksi oleh usaha keluarga maupun pedagang kecil.

 

Keberadaan mereka memberi warna pada ruang-ruang publik, mulai dari pasar tradisional hingga kawasan wisata kuliner. Pengunjung tidak hanya membeli minuman, tetapi juga menikmati pengalaman yang sulit digantikan oleh produk seragam dari jaringan usaha besar.

 

Es tradisional membuktikan bahwa warisan kuliner Indonesia mampu bertahan di tengah perubahan gaya hidup masyarakat.

 

Berbekal bahan lokal, resep turun-temurun, dan kemampuan beradaptasi, minuman ini tetap menjadi pelepas dahaga yang akrab bagi berbagai generasi.

 

Di tengah cuaca musim kemarau, segelas es tradisional menghadirkan kesegaran sekaligus mengingatkan bahwa kekayaan kuliner Nusantara selalu memiliki tempat di hati masyarakat.