Rabu, 02 September 2026 13:00 UTC

Ilustrasi: Data Tubuh Berharga. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Data pribadi di aplikasi AI kesehatan sering masuk tanpa banyak disadari. Tinggi badan, berat badan, pola tidur, detak jantung, jadwal menstruasi, makanan, lokasi olahraga, hingga riwayat keluhan dapat terkumpul dalam satu ekosistem digital.
Sebagian informasi tersebut memang berguna. Aplikasi membutuhkan data agar rekomendasi latihan atau pemantauan kebugaran terasa relevan.
Namun, ada perbedaan besar antara memberi tahu aplikasi bahwa kita berlari lima kilometer dan mengunggah hasil pemeriksaan medis lengkap hanya untuk mendapatkan jawaban yang lebih personal.
Satu Ponsel Bisa Menyimpan Potret Tubuh yang Sangat Detail
Bayangkan rutinitas pagi yang cukup umum di Surabaya. Seseorang bersepeda sebelum bekerja, smartwatch merekam detak jantung dan rute, aplikasi mencatat durasi latihan, lalu AI diminta mengevaluasi performanya.
Dalam satu sesi, beberapa jenis informasi bisa terbentuk sekaligus. Lokasi memperlihatkan rute perjalanan. Waktu latihan memberi petunjuk mengenai rutinitas. Sensor wearable merekam aktivitas tubuh. Jika data tidur dan pola makan ikut terhubung, profilnya semakin lengkap.
Di Indonesia, persoalan tersebut mempunyai dasar hukum yang jelas. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi mengelompokkan data dan informasi kesehatan sebagai data pribadi yang bersifat spesifik.
Status itu masuk akal. Informasi kesehatan dapat mengungkap sesuatu yang jauh lebih pribadi daripada nama pengguna atau alamat surel.
WHO juga menempatkan data kesehatan sebagai informasi sensitif yang membutuhkan standar keamanan tinggi. Dalam pertimbangan regulasinya untuk AI kesehatan, WHO menyoroti perlunya perlindungan sepanjang siklus data, mulai pengumpulan, penyimpanan, pengelolaan, pengiriman, analisis, pembagian hingga pemusnahan. Jadi, persoalannya tidak berhenti pada “aplikasi ini punya password atau tidak”.
AI Membutuhkan Data, tetapi Tidak Harus Mendapat Semuanya
Ada dorongan alami untuk memberikan detail sebanyak mungkin kepada AI. Pengguna berharap semakin lengkap ceritanya, semakin akurat pula jawabannya.
Untuk beberapa kebutuhan, detail memang membantu. Tetapi prinsip yang lebih aman adalah memberikan informasi sesuai tujuan.
Jika hanya ingin meminta contoh latihan tiga kali seminggu, AI mungkin cukup mengetahui tingkat pengalaman, waktu yang tersedia, jenis aktivitas yang disukai, dan perlengkapan.
Nama lengkap, tanggal lahir persis, alamat rumah, foto kartu identitas, atau nomor rekam medis jelas tidak diperlukan. Hal serupa berlaku pada tangkapan layar hasil pemeriksaan.
Sebelum mengunggahnya, lihat kembali seluruh gambar. Nama pasien, tanggal lahir, nomor rekam medis, alamat, barcode, nama fasilitas kesehatan, atau informasi lain mungkin ikut terbawa meski pertanyaan sebenarnya hanya mengenai satu istilah.
Prinsip pembatasan data juga terlihat pada tata kelola sistem kesehatan resmi Indonesia. SATUSEHAT Data membedakan akses menjadi dua kategori, publik dan privat. Data yang tersedia untuk publik berupa data yang telah diolah dan berbentuk agregasi, sedangkan informasi rahasia dan terbatas hanya dapat diakses pihak yang memiliki kewenangan.
SATUSEHAT juga menerapkan masking atau penyamaran pada data pribadi untuk mengurangi informasi rahasia yang ditampilkan.
Praktik tersebut memberi pelajaran sederhana untuk pengguna sehari-hari: data kesehatan memang seharusnya tidak dibuka lebih luas daripada yang diperlukan.
Risiko AI Bukan Cuma Jawaban yang Keliru
Pembicaraan tentang AI kesehatan sering berpusat pada akurasi. Padahal keamanan data menjadi bagian lain yang sama pentingnya.
WHO menerbitkan panduan khusus mengenai model AI multimodal besar untuk kesehatan dengan lebih dari 40 rekomendasi bagi pemerintah, perusahaan teknologi, dan penyedia layanan kesehatan.
Salah satu perhatian WHO adalah kerentanan model AI terhadap risiko keamanan siber. Dampaknya dapat menyentuh informasi pasien, keandalan algoritma, bahkan kepercayaan terhadap pelayanan kesehatan.
Persoalan tersebut semakin rumit karena AI dapat bekerja dengan banyak bentuk masukan. Model multimodal bisa menerima teks, gambar, video, dan jenis informasi lain.
Sebuah foto, misalnya, membawa informasi lebih banyak daripada pertanyaan tertulis.
Pengguna mungkin bermaksud menunjukkan ruam pada kulit. Namun, gambar dapat ikut memperlihatkan wajah, lingkungan rumah, dokumen di meja, atau informasi lain di latar belakang. Hal-hal kecil semacam ini jarang terpikir ketika perhatian sedang tertuju pada keluhan kesehatan.
WHO juga pernah menggelar konsultasi teknis khusus selama tiga hari, 12–14 Desember 2023, bersama para ahli internasional untuk membahas ancaman keamanan siber masa depan dalam kesehatan digital. Pembahasannya kemudian diterbitkan dalam laporan pada 2024.
Keamanan kesehatan digital memang sudah menjadi persoalan tersendiri, jauh sebelum pengguna memutuskan aplikasi fitness mana yang akan dipasang.
Lima Menit Memeriksa Izin Aplikasi Bisa Berguna
Tidak semua orang ingin membaca puluhan halaman kebijakan privasi sebelum mulai olahraga. Pendekatan yang lebih realistis adalah memeriksa beberapa hal yang paling dekat dengan penggunaan sehari-hari.
Mulailah dari izin aplikasi pada ponsel. Aplikasi penghitung langkah mungkin membutuhkan akses tertentu agar berfungsi. Namun, pengguna tetap dapat mempertanyakan mengapa sebuah layanan meminta mikrofon, kontak, galeri penuh, atau lokasi sepanjang waktu jika fitur yang dipakai tidak membutuhkannya.
Lihat juga apakah akun memiliki pilihan autentikasi tambahan, pengaturan berbagi data, ekspor data, serta penghapusan akun.
Untuk perangkat wearable, periksa aplikasi apa saja yang terhubung. Data yang awalnya berada pada satu perangkat dapat berpindah ke layanan lain ketika pengguna mengaktifkan integrasi.
Kebiasaan mengganti password yang lemah juga layak diperbaiki. Akun kesehatan sebaiknya tidak menggunakan kata sandi sederhana yang sama dengan banyak akun lain.
Langkah-langkah tersebut memang tidak membuat risiko menjadi nol. Setidaknya pengguna mengetahui pintu mana yang sedang dibuka.
Personalisasi Punya Harga dalam Bentuk Informasi
Ada pertukaran yang terjadi hampir setiap kali teknologi kesehatan dibuat lebih personal. Aplikasi membutuhkan sesuatu tentang pengguna untuk menghasilkan sesuatu bagi pengguna.
Masalahnya muncul ketika pertukaran itu berjalan tanpa disadari. Seseorang mungkin senang mendapat rekomendasi waktu tidur yang sangat spesifik, tetapi tidak pernah mengecek data apa yang dikumpulkan untuk menghasilkan saran tersebut.
WHO telah menekankan enam prinsip dalam tata kelola AI kesehatan sejak 2021. Salah satunya adalah melindungi otonomi manusia, termasuk privasi dan kerahasiaan.
Prinsip lain mencakup keselamatan, transparansi, tanggung jawab, inklusivitas, serta keberlanjutan. Teknologi yang sehat seharusnya tetap memberi manusia ruang untuk memilih.
AI fitness, smartwatch, pencatat makanan, dan aplikasi kesehatan tidak perlu dijauhi. Banyak di antaranya membuat kebiasaan sehat lebih mudah dipantau dan dipahami.
Hanya saja, sesudah bersepeda pagi di Surabaya dan melihat ringkasan aktivitas pada layar, ada satu kebiasaan digital yang sama baiknya dengan mengecek jumlah kalori: sesekali buka menu Privacy.
Data latihan mungkin terlihat seperti sekumpulan angka. Ketika digabungkan dengan lokasi, identitas, tidur, dan informasi medis, angka-angka itu bisa menceritakan banyak hal tentang pemiliknya.
