Rabu, 02 September 2026 05:00 UTC

Ilustrasi: Latihan Makin Personal. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - AI fitness coach perlahan mengubah kebiasaan orang merencanakan olahraga. Cukup memasukkan target, waktu yang tersedia, pengalaman latihan, dan perlengkapan, sebuah aplikasi berbasis kecerdasan buatan dapat menyusun rutinitas dalam hitungan detik.
Kemudahan semacam ini terasa masuk akal di kota seperti Surabaya. Jadwal kerja padat, perjalanan harian, serta udara yang cepat menghangat setelah pagi membuat waktu olahraga perlu diatur lebih praktis. Seseorang mungkin hanya punya 30 menit sebelum bekerja, sementara orang lain baru sempat berlatih selepas matahari turun.
AI masuk ke ruang kecil tersebut: membantu membuat rencana yang terasa lebih personal. Namun, personal menurut algoritma belum tentu sama dengan personal menurut kondisi tubuh.
Ketika Jadwal Latihan Tak Lagi Harus Seragam
Dunia kebugaran memang sedang bergerak semakin dekat dengan teknologi. American College of Sports Medicine (ACSM) menempatkan wearable technology sebagai tren kebugaran nomor satu dunia untuk 2026. Peringkat itu disusun berdasarkan survei terhadap sekitar 2.000 klinisi, peneliti, dan profesional olahraga.
Dalam daftar yang sama, aplikasi olahraga seluler berada di posisi keempat, sedangkan teknologi berbasis data menempati posisi kedelapan. Dua hal tersebut memberi gambaran bahwa olahraga modern semakin akrab dengan data tubuh dan perangkat digital.
AI fitness coach membawa kebiasaan itu selangkah lebih jauh.
Alih-alih sekadar mencatat langkah atau durasi lari, sistem dapat mengolah informasi pengguna menjadi jadwal latihan. Misalnya, tiga sesi dalam seminggu dengan kombinasi latihan kekuatan, kardio, dan pemulihan.
Fleksibilitasnya cukup berguna bagi orang yang sering gagal mengikuti program olahraga generik. Jadwal satu jam setiap hari mungkin terdengar ideal di layar, tetapi sulit dilakukan ketika rapat mundur, perjalanan pulang macet, atau hujan datang saat waktu latihan tiba.
AI bisa membantu menyusun ulang jadwal. Bagian inilah yang membuatnya praktis.
Masalah Kebugaran Kita Bukan Kekurangan Aplikasi
Teknologi kebugaran berkembang ketika persoalan kurang bergerak masih jauh dari selesai. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan sekitar 31 persen orang dewasa dunia pada 2022 belum memenuhi rekomendasi aktivitas fisik.
Jumlahnya mencapai sekitar 1,8 miliar orang. Proporsi ketidakaktifan fisik global bahkan meningkat sekitar lima poin persentase dibandingkan 2010.
Indonesia memiliki persoalan serupa. Riskesdas 2018 Kementerian Kesehatan mencatat proporsi penduduk berusia di atas 10 tahun yang kurang aktivitas fisik mencapai 33,5 persen. Pada 2013, angkanya masih 26,1 persen.
Jarak lima tahun tersebut memperlihatkan ironi kehidupan modern. Teknologi mempermudah banyak pekerjaan, tetapi kemudahan yang sama dapat memangkas kesempatan tubuh untuk bergerak.
Di Surabaya, situasinya mudah dikenali dalam keseharian. Naik kendaraan untuk jarak dekat, bekerja berjam-jam di depan layar, memesan makanan melalui aplikasi, lalu menghabiskan malam dengan ponsel membuat gerak tubuh mudah tersisih.
AI fitness coach tidak otomatis menyelesaikan persoalan tersebut. Program latihan paling detail tetap membutuhkan seseorang untuk berdiri dari kursinya dan mulai bergerak.
AI Bisa Mengatur Program, Bukan Membaca Tubuh Sepenuhnya
Ada batas yang perlu dibuat jelas sejak awal. Rencana latihan dari AI berbeda dengan pemeriksaan langsung oleh tenaga kesehatan atau pelatih kompeten.
WHO telah menaruh perhatian serius pada penggunaan AI dalam kesehatan. Pedoman organisasi tersebut menempatkan enam prinsip utama dalam tata kelola AI kesehatan, termasuk perlindungan otonomi manusia, keselamatan, transparansi, akuntabilitas, inklusivitas, serta keberlanjutan.
Peringatan menjadi semakin relevan setelah AI generatif berkembang pesat. Dalam panduan mengenai large multi-modal models, WHO mengingatkan bahwa model AI dapat menghasilkan pernyataan yang keliru atau tidak lengkap. Bias pada data pelatihan juga dapat memengaruhi hasil yang diberikan.
Untuk dunia fitness, masalahnya sangat praktis.
Aplikasi mungkin mengetahui usia, berat badan, durasi latihan, atau jumlah langkah seseorang. Namun, ia belum tentu memahami nyeri lutut yang muncul ketika menaiki tangga, teknik squat yang kurang tepat, kualitas gerakan, riwayat cedera yang tidak dimasukkan, atau kelelahan setelah hari kerja yang panjang.
Memberi lebih banyak data pun bukan jaminan sempurna. Data kesehatan termasuk informasi yang sensitif. WHO sejak pedoman AI kesehatan 2021 telah menekankan perlindungan privasi, kerahasiaan, dan kendali manusia atas keputusan kesehatan.
Maka, memasukkan seluruh riwayat kesehatan ke chatbot umum hanya agar memperoleh jadwal gym yang lebih detail bukan kebiasaan yang bijak.
Patokan Latihan Tetap Datang dari Ilmu Olahraga
Program yang terlihat canggih tetap perlu diuji dengan pedoman dasar. WHO merekomendasikan orang dewasa melakukan sekitar 150–300 menit aktivitas aerobik intensitas sedang per minggu, atau 75–150 menit aktivitas intensitas berat. Kombinasi keduanya juga dapat digunakan. Latihan penguatan kelompok otot utama dianjurkan sedikitnya dua hari setiap minggu.
Rekomendasi tersebut memberi perspektif penting saat menggunakan AI fitness coach. Pengguna tidak perlu mengejar program tujuh hari hanya karena aplikasi mampu membuatnya.
Seseorang yang baru kembali olahraga setelah lama berhenti bisa memulai dari porsi yang lebih realistis. Jalan cepat di pagi hari, latihan kekuatan sederhana beberapa kali seminggu, kemudian meningkatkan beban secara bertahap jauh lebih masuk akal daripada langsung mengikuti jadwal agresif. Hari pemulihan juga tidak berarti gagal latihan.
Program yang baik memberi ruang bagi tubuh untuk beradaptasi. Jika AI terus menyarankan peningkatan volume sementara tubuh mengalami nyeri yang tidak biasa, pusing, sesak, atau keluhan lain, respons yang tepat bukan mengetik prompt baru agar program menjadi lebih keras.
Latihan perlu dihentikan atau disesuaikan, dan keluhan yang mengkhawatirkan layak diperiksa oleh tenaga kesehatan.
Jadikan AI Asisten yang Bisa Dikoreksi
Cara paling masuk akal menggunakan AI fitness coach mungkin justru tidak terlalu futuristik. Perlakukan teknologi tersebut seperti alat bantu menyusun agenda.
Berikan informasi yang relevan tanpa membagikan data sensitif secara berlebihan. Sebutkan pengalaman olahraga, jumlah hari yang tersedia, durasi setiap sesi, perlengkapan, dan jenis aktivitas yang disukai. Minta pula alternatif ketika jadwal berubah.
Rencana kemudian perlu diperiksa lagi. Apakah volume latihannya masuk akal? Ada hari istirahat? Apakah gerakannya sesuai kemampuan? Apakah program terlalu cepat menaikkan intensitas?
Untuk latihan dengan beban besar, teknik kompleks, pemulihan cedera, penyakit kronis, kehamilan, atau kondisi kesehatan tertentu, masukan profesional tetap lebih tepat daripada mengandalkan jawaban otomatis.
Teknologi akhirnya paling berguna ketika membuat olahraga lebih mudah dijalankan, bukan lebih rumit.
Pagi di Surabaya mungkin cukup dimulai dengan sepatu olahraga, botol minum, dan jadwal 30 menit yang realistis. AI boleh membantu menentukan latihan hari itu. Setelah layar ponsel dikunci, pekerjaan sesungguhnya tetap dilakukan oleh tubuh.
