Logo

AI di Smartwatch Membuat Data Kebugaran Lebih Personal

Jam tangan kini mencatat banyak hal tentang tubuh. Tantangannya justru memahami angka mana yang benar-benar perlu diperhatikan.
Reporter:,Editor:

Rabu, 02 September 2026 08:00 UTC

AI di Smartwatch Membuat Data Kebugaran Lebih Personal

Ilustrasi: Tubuh dalam Data. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - AI di smartwatch membuat olahraga terasa semakin terukur. Selesai berlari, pengguna bisa melihat detak jantung, jarak, kecepatan, estimasi kalori, pola tidur, hingga rekomendasi pemulihan dari benda kecil yang menempel di pergelangan tangan.

Pemandangan itu sudah lumrah di Surabaya. Pagi hari, pelari di jalan-jalan pusat kota atau taman perkotaan sesekali berhenti sambil melihat pergelangan tangan. Seusai latihan, layar kecil tersebut seperti rapor mini untuk aktivitas pagi.

Masalahnya, semakin banyak data belum tentu membuat seseorang semakin memahami tubuhnya.

 

Smartwatch Sudah Bergerak Jauh dari Penghitung Langkah

Perubahan perangkat wearable dalam beberapa tahun terakhir cukup besar. American College of Sports Medicine (ACSM) menempatkan wearable technology sebagai tren kebugaran nomor satu dunia pada 2026. Survei tersebut melibatkan sekitar 2.000 klinisi, peneliti, dan profesional olahraga.

Wearable juga bukan fenomena baru dalam daftar tersebut. Menurut ACSM, teknologi wearable konsisten berada di peringkat pertama sejak 2016, kecuali pada 2018 ketika berada di posisi ketiga dan 2021 di posisi kedua. ACSM memperkirakan sekitar 36–44 persen orang dewasa memiliki teknologi wearable. Kemampuannya ikut berkembang.

Perangkat yang dahulu identik dengan jumlah langkah kini dapat merekam detak jantung, kecepatan dan jarak. Sensor yang lebih maju juga digunakan untuk fitur seperti deteksi jatuh atau tabrakan, ritme jantung, suhu kulit, hingga sejumlah indikator fisiologis lainnya.

AI kemudian bekerja di belakang deretan sensor tersebut. Data yang terkumpul tidak berhenti sebagai angka mentah. Perangkat dan aplikasi dapat mengolah pola beberapa hari atau minggu menjadi skor, tren, peringatan, maupun rekomendasi latihan.

Pengalaman kebugaran akhirnya terasa lebih personal. Dua orang yang berlari lima kilometer pada rute serupa belum tentu mendapatkan evaluasi yang sama.

 

Detak Jantung Lebih Berguna sebagai Pola

Salah satu angka yang paling sering diperiksa adalah detak jantung. Mudah pula tergoda untuk menilai satu hasil sebagai “bagus” atau “buruk”.

Padahal konteks lebih berguna. Detak jantung ketika berjalan santai tentu berbeda dengan ketika berlari. Tidur, stres, suhu lingkungan, kafein, kebugaran, obat tertentu, serta intensitas aktivitas dapat ikut memengaruhi denyut seseorang.

Surabaya menambahkan faktor sederhana yang mudah dirasakan pelari: panas dan kelembapan. Sesi olahraga setelah matahari meninggi dapat terasa sangat berbeda dibandingkan lari pada pagi yang lebih sejuk.

ACSM sendiri mengingatkan bahwa sebagian data wearable berguna dan cukup akurat, sementara metrik lainnya dapat bersifat eksperimental atau kurang dapat diandalkan.

Data wearable sering kali lebih bermanfaat untuk mengamati pola atau perubahan dari waktu ke waktu. Cara membaca smartwatch pun sebaiknya tidak terpaku pada satu sesi.

Jika denyut saat menjalani rute dan intensitas yang serupa berubah konsisten selama beberapa minggu, informasi itu lebih menarik untuk diamati daripada panik karena satu angka muncul berbeda pada Selasa pagi.

AI membantu menemukan pola semacam ini lebih cepat. Namun, interpretasi kesehatan tetap membutuhkan konteks yang tidak semuanya berada di dalam jam tangan.

 

Bahkan WHO Masih Mengkaji Cara Wearable Diukur

Ada alasan mengapa angka pada dua merek smartwatch dapat berbeda meski dipakai oleh orang yang sama. Perangkat, posisi pemakaian, sensor, algoritma, durasi penggunaan, serta cara data diproses dapat memengaruhi hasil. Dunia kesehatan masyarakat pun masih aktif membahas persoalan standardisasi tersebut.

Pada Februari 2026, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menerbitkan laporan 74 halaman mengenai pengukuran aktivitas fisik orang dewasa menggunakan teknologi wearable.

Laporan itu merangkum pertemuan ilmiah yang membahas metrik inti, spesifikasi perangkat, protokol penggunaan, evaluasi bukti, serta kesenjangan penelitian yang masih perlu dijawab.

Tiga bulan kemudian, WHO menerbitkan laporan teknis lain setebal 110 halaman mengenai integrasi wearable ke sistem pemantauan kesehatan populasi. Di dalamnya dibahas pemilihan perangkat, lokasi pemakaian sensor, durasi pemakaian, algoritma pengolahan data, biaya, representativitas hingga standardisasi.

Dua dokumen tersebut memberi perspektif yang jarang terlihat ketika seseorang membuka aplikasi smartwatch. Kalau lembaga kesehatan global masih mengembangkan panduan agar data wearable dapat dibandingkan dan digunakan secara konsisten pada skala populasi, pengguna sehari-hari juga punya alasan untuk tidak memperlakukan setiap skor sebagai ukuran kesehatan yang absolut.

Skor 82 bukan diagnosis. Begitu pula skor pemulihan yang rendah bukan bukti bahwa tubuh sedang sakit.

 

Personalisasi Bisa Membantu Olahraga Lebih Masuk Akal

Kekuatan smartwatch justru muncul pada hal-hal yang lebih sederhana. Seseorang yang ingin lebih aktif dapat melihat berapa banyak ia bergerak selama hari kerja.

Pelari rekreasional bisa membandingkan intensitas beberapa sesi. Pengguna juga dapat mengenali bahwa rutinitasnya jauh lebih pasif pada hari tertentu.

Informasi seperti ini relevan karena kurang aktivitas fisik masih menjadi persoalan kesehatan besar. WHO memperkirakan sekitar 31 persen orang dewasa dunia atau 1,8 miliar orang tidak memenuhi rekomendasi aktivitas fisik pada 2022.

Teknologi tidak membuat 1,8 miliar orang tersebut otomatis bergerak. Namun, umpan balik kecil bisa mengubah keputusan sehari-hari.
Alih-alih mengejar angka sempurna, seseorang mungkin menyadari bahwa ia nyaris tidak berjalan setelah delapan jam bekerja.

Pilihannya kemudian sederhana: berjalan sebentar sebelum pulang, mengambil tangga, atau menambahkan aktivitas ringan setelah makan.

Dalam konteks latihan, AI dapat membantu menyusun rekomendasi berdasarkan riwayat aktivitas. Ketika beban olahraga meningkat, pengguna juga memiliki catatan untuk melihat apakah pola latihan berubah terlalu cepat. Nilainya ada pada konsistensi, bukan kecemasan mengejar skor.


Ada Saatnya Pergelangan Tangan Tak Punya Jawaban

Fitur kesehatan pada smartwatch sering ditempatkan sangat dekat dengan tubuh sehingga mudah dianggap sebagai pemeriksaan medis yang terus berjalan.

Batas tersebut perlu dijaga. Sensor konsumen bekerja dalam kondisi dunia nyata: tangan bergerak, tali jam bisa longgar, kulit berkeringat, perangkat dipakai berbeda-beda. Bahkan ACSM mencatat inovasi wearable dapat berkembang lebih cepat daripada proses validasinya.

Jika jam berulang kali menampilkan pembacaan yang tidak biasa, langkah yang lebih masuk akal adalah melihat konteks dan, bila perlu, mendiskusikannya dengan tenaga kesehatan. Terlebih bila data tersebut muncul bersama keluhan seperti nyeri dada, pingsan, sesak, atau gejala yang mengkhawatirkan.

Sebaliknya, perasaan tubuh juga tidak perlu diabaikan hanya karena layar memberikan skor bagus. AI di smartwatch paling berguna ketika berperan seperti catatan harian yang sangat rajin. Ia mengumpulkan detail yang mungkin terlupakan manusia dan membantu memperlihatkan pola.

Setelah lari pagi di Surabaya selesai, angka pada pergelangan tangan boleh diperiksa. Lalu jamnya bisa kembali menjadi jam. Tubuh tetap perlu didengarkan tanpa harus mengubah setiap pagi menjadi sesi membaca dashboard.