Logo

Covid-19 Bikin Bangkrut Juragan Sembako, Pedagang Ini Banting Stir Produksi Tas Jali

Reporter:,Editor:

Rabu, 05 October 2022 09:40 UTC

Covid-19 Bikin Bangkrut Juragan Sembako, Pedagang Ini Banting Stir Produksi Tas Jali

Suciningati yang dulunya berjualan bakso, karena pandemi ia banting stir produksi tas. Foto: Karin

JATIMNET.COM, Mojokerto - Ibu tiga anak di Kota Mojokerto harus rela banting stir untuk membantu perekonomian keluarganya dengan membuat kerajinan tas jali anyaman sejak pertengahan tahun 2022. Lantaran, terdampak pandemi Covid-19. 

Suciningati yang sejak tahun 2011 menggeluti jual beli sembako ini, harus berbesar hati menerima kenyataan adanya dampak dari Covid - 19 di akhir tahun 2019 hingga 2021 yang meluluh lantahkan segala sektor. 

Termasuk perekonomian, hingga akhirnya mematikan mata pencahariannya itu."Awalnya jualan sembako, karena Covid-19 jalan-jalan pada ditutup, banyak di rumah. Jadi macet, akhirnya bangkrut (usaha sembako)," ucap Uci panggilan akrabnya, Rabu, 5 Oktober 2022. 

Meski mengalami kebangkrutan, Ia bangkit dan harus memutar otak untuk terus bisa membantu perekonomian keluarganya. Meski bisnis yang dirintisnya selama tujuh tahun itu bangkrut. 

Di awal tahun 2022 inilah, wanita berusia 44 tahun ini pun mendapatkan pelatihan rajut di tahun 2021 dan tali jali tahun 2022 dari pemerintah daerah (Pemda) setempat.

"Ada pelatihan dari dinas itu rajut dan jali, saya ikuti. Terus saya menekuni yang jali, alhamdulillah berjalan sampai sekarang," ucapnya yang mengawali bisnis ini dari kelompok pelatihan inkubasi di Kota Mojokerto. 

Ia pun melanjutkan pelatihan tersebut secara berkelompok dengan sepuluh orang lainnya. Namun, lama-kelamaan jumlah pesertanya berkurang dan hanya tertinggal Uci dan dua rekannya yang terus mempertahankan kegiatan itu. 

Hingga akhirnya, ia memberanikan diri mengeluarkan uang Rp 500 ribu sebagai modal awal bisnis rumahan ini. Dia pun harus membeli bahan dasar tas jali dari plastik dengan harga perkilonya mencapai Rp 50 ribu di wilayah Kabupaten Ponorogo.

"Terus saya beranikan diri lanjut, dengan modal Rp 500 ribu. Bahan bakunya dari Ponorogo," ujar wanita kelahiran Mojokerto, 24 April 1978 ini. 

Untuk menghasilkan tas jali yang epik dan berkualitas, istri dari Khoirudin ini memilih jali plastik yang berbahan tebal agar lebih kuat. Selain itu, ia mampu menghasilkan satu tas jali berukuran sedang dalam waktu tiga jam. 

Saat ini, wanita yang hanya mengenyam pendidikan sampai bangku SMP tersebut bisa menghasilkan berbagai model tas jali. Diantaranya tas jali jinjing, tas jali laptop, tas jali selempang, dompet, hingga tas ransel. 

Tas jali yang dibandrolnya mulai harga Rp 30 ribu sampai Rp 100 ribu ini, rupanya tak hanya digemari warga Mojokerto, tapi juga dari luar. Seperti, Bali, Surabaya, maupun perkantoran. 

"Omset masih dikisaran Rp 2 juta sampai Rp 3 juta per bulan. Alhamdulillah bisa bantu-bantu kebutuhan harian di rumah," akunya. 

Meski begitu, dirinya masih mengalami kendala dalam hal penjualan. Uci mengaku masih menjual secara offline, karena kelemahannya yang masih belum bisa mengikuti dunia marketing digital. 

"Kendalanya penjualan saja, saya baru masarkan offline. Kalaupun online hanya pesanan melalui WA saja," ucap lulusan SMP PGRI 1 Kota Mojokerto ini.