Senin, 15 June 2026 05:00 UTC
Ilustrasi: Teman di Perantauan. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Membangun pertemanan menjadi salah satu tantangan terbesar saat seseorang merantau ke kota baru. Bagi mahasiswa, pengalaman ini sering muncul sejak hari pertama memasuki lingkungan kampus yang asing, jauh dari keluarga, dan tanpa lingkaran sosial yang sudah dikenal sebelumnya.
Banyak orang mengira mencari teman adalah proses yang terjadi secara alami. Padahal dalam kenyataannya, membangun hubungan sosial membutuhkan usaha, waktu, dan keberanian untuk keluar dari zona nyaman.
Di Indonesia, tantangan ini semakin relevan karena jumlah anak muda yang hidup di wilayah perkotaan terus meningkat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sekitar 60,72 persen pemuda Indonesia pada 2024 tinggal di daerah perkotaan. Artinya, semakin banyak anak muda yang harus beradaptasi dengan lingkungan sosial yang terus berubah.
Lingkungan Baru Membutuhkan Strategi Baru
Saat berada di kota asal, banyak pertemanan terbentuk secara alami karena kedekatan sekolah, lingkungan rumah, atau komunitas yang sudah berjalan bertahun-tahun.
Situasi tersebut berbeda ketika seseorang merantau. Semua orang memulai dari titik yang hampir sama. Tidak ada sejarah panjang yang menjadi penghubung.
Karena itu, langkah pertama yang paling efektif adalah memperluas kesempatan bertemu orang baru. Mengikuti kegiatan kampus, organisasi mahasiswa, komunitas hobi, atau kegiatan sukarela sering menjadi jalan yang lebih mudah dibanding menunggu orang lain datang lebih dulu.
Pertemuan yang berulang dalam berbagai aktivitas biasanya menciptakan rasa nyaman secara bertahap. Dari sinilah hubungan sosial mulai berkembang menjadi pertemanan yang lebih dekat.
Jangan Terjebak Menunggu Kelompok yang Sempurna
Salah satu kesalahan yang cukup umum terjadi pada mahasiswa perantau adalah terlalu fokus mencari kelompok pertemanan yang dianggap ideal.
Akibatnya, banyak kesempatan berkenalan justru terlewat karena seseorang terlalu selektif sejak awal. Padahal hubungan sosial yang sehat biasanya berkembang secara bertahap. Teman diskusi kuliah belum tentu menjadi sahabat dekat. Begitu pula teman organisasi bisa saja menjadi rekan profesional yang berharga di masa depan.
Lingkaran sosial yang kuat sering terbentuk dari banyak jenis hubungan yang berbeda, bukan hanya satu kelompok pertemanan eksklusif.
Semakin beragam orang yang dikenal, semakin luas pula wawasan dan pengalaman yang bisa diperoleh selama masa kuliah.
Dunia Digital Bisa Membantu, tetapi Tidak Bisa Menggantikan Kehadiran Nyata
Generasi mahasiswa saat ini hidup di era yang sangat terkoneksi. Data APJII menunjukkan jumlah pengguna internet Indonesia mencapai lebih dari 221 juta orang pada 2024 atau sekitar 79,5 persen dari total populasi. Generasi Z menjadi kelompok yang paling dominan dalam penggunaan internet nasional.
Kemudahan teknologi membuat proses mengenal orang baru terasa lebih cepat. Grup kampus, komunitas daring, hingga media sosial sering menjadi pintu awal membangun relasi.
Namun hubungan yang hanya berlangsung secara digital memiliki keterbatasan. Percakapan langsung, kerja sama dalam kegiatan nyata, dan pengalaman bersama masih menjadi fondasi terkuat dalam membangun kepercayaan antarteman.
Karena itu, media digital sebaiknya dipandang sebagai alat untuk membuka koneksi, bukan sebagai pengganti interaksi sosial secara langsung.
Kemampuan Mendengarkan Lebih Penting daripada Terlihat Menarik
Banyak orang merasa harus tampil menarik agar cepat diterima dalam lingkungan baru. Padahal dalam praktiknya, kemampuan mendengarkan sering jauh lebih berpengaruh dibanding kemampuan berbicara.
Orang cenderung merasa nyaman ketika didengar, dihargai, dan diberi ruang untuk bercerita. Sikap sederhana seperti mengingat nama teman baru, menanyakan kabar, atau menunjukkan ketertarikan terhadap cerita mereka sering meninggalkan kesan yang lebih kuat.
Hubungan sosial yang sehat tidak dibangun melalui pencitraan, tetapi melalui rasa percaya yang tumbuh secara perlahan. Semakin konsisten seseorang menunjukkan perhatian yang tulus, semakin besar peluang terbentuknya hubungan yang bertahan lama.
Pertemanan Berkualitas Membutuhkan Waktu
Di tengah budaya serba cepat, banyak mahasiswa berharap memiliki lingkaran pertemanan yang solid hanya dalam hitungan minggu.
Padahal hubungan sosial memiliki ritmenya sendiri. Ada pertemanan yang langsung akrab sejak awal. Ada pula yang membutuhkan waktu berbulan-bulan sebelum berkembang menjadi hubungan yang dekat.
Hal terpenting adalah menjaga konsistensi dalam berinteraksi. Menyapa lebih dulu, hadir saat teman membutuhkan bantuan, dan menjaga komunikasi sederhana sering menjadi fondasi yang lebih kuat dibanding usaha besar yang dilakukan sesekali.
Pada akhirnya, cara membangun lingkaran pertemanan di tempat baru bukan tentang menjadi orang paling populer. Yang jauh lebih penting adalah menemukan orang-orang yang membuat proses merantau terasa lebih ringan, lebih hangat, dan lebih bermakna.
Bagi banyak mahasiswa perantau, hubungan yang dibangun selama masa kuliah sering menjadi salah satu kenangan paling berharga yang terus bertahan jauh setelah wisuda selesai.
