Logo

BPBD Jatim Periksa Kesehatan 200 Relawan Kebencanaan

Kolaborasi BRIN dan CIS Jepang, Fisik dan Mental Jadi Perhatian
Reporter:,Editor:

Jumat, 21 August 2026 06:26 UTC

BPBD Jatim Periksa Kesehatan 200 Relawan Kebencanaan

BPBD Jatim membantu memberikan cek kesehatan untuk relawan bencana, Jumat, 21 Agustus 2026. Foto: Januar

JATIMNET.COM, Surabaya – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur memberikan fasilitas pemeriksaan kesehatan kepada 200 relawan kebencanaan dari berbagai daerah di Jawa Timur. Pemeriksaan ini menyasar kondisi fisik sekaligus mental relawan yang selama ini aktif membantu penanganan bencana di lapangan.

BPBD Jatim menggelar pemeriksaan tersebut melalui kolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Chiba Institute of Science (CIS) Jepang, dan Universitas Budi Luhur. Kegiatan berlangsung selama tiga hari, 19-21 Agustus 2026, di Aula Taman Edukasi Bencana BPBD Jatim.

Rangkaian kegiatan dimulai dengan seremoni pembukaan pada Rabu, 19 Agustus 2026. Sejumlah pihak menghadiri kegiatan itu, di antaranya Koordinator Tim CIS Jepang Prof Ryo Tanaka, peneliti utama BRIN Prof Ma'mun Nuryana, serta perwakilan Universitas Budi Luhur.

BPBD Jatim juga mengirimkan Sekretaris BPBD Jatim Andhika N Sudigda yang mewakili Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto. Selain itu, Kabid PK BPBD Jatim Deni Kiki Melia Tamara turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Koordinator Tim CIS Jepang Prof Ryo Tanaka mengatakan pemeriksaan kesehatan menjadi bentuk perhatian terhadap kondisi relawan yang memiliki peran penting dalam berbagai operasi penanggulangan bencana.

Menurut Ryo, tugas relawan di lapangan membutuhkan kondisi fisik yang prima. Namun, situasi darurat sering membuat mereka mengesampingkan kebutuhan dasar, seperti waktu istirahat dan pola makan, demi menyelesaikan penanganan bencana.

“Kita akan melakukan cek kesehatan, baik fisik maupun mental. Karena beban kerjaan yang berat kadang juga berdampak pada psikologis seseorang,” katanya, Jumat, 21 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, pemeriksaan tidak hanya bertujuan mengetahui kondisi kesehatan fisik relawan. Tim juga memperhatikan aspek psikologis yang berpotensi terdampak tekanan serta tingginya intensitas kegiatan selama menjalankan tugas kebencanaan.

 

Relawan Hadapi Risiko Fisik dan Psikologis

Relawan selama ini menjadi bagian penting dalam berbagai operasi penanggulangan bencana. Mereka turun langsung dalam sejumlah kondisi darurat, termasuk penanganan kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Bromo serta membantu menangani dampak gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur.

Intensitas tugas tersebut membuat perhatian terhadap kesehatan relawan menjadi penting. Kondisi fisik dan mental yang terjaga dapat membantu mereka menjalankan tugas secara optimal sekaligus mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat penanganan bencana dalam waktu panjang.

Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto mengapresiasi kolaborasi dengan BRIN, CIS Jepang, dan Universitas Budi Luhur dalam pemeriksaan kesehatan tersebut.

Gatot mengatakan BPBD Jatim sebelumnya telah beberapa kali membangun kerja sama dengan pihak Jepang dan sejumlah lembaga lain. Menurutnya, kolaborasi itu diperlukan karena Jawa Timur memiliki potensi bencana yang beragam dan membutuhkan penguatan kapasitas penanggulangan bencana.

“Kolaborasi ini bukanlah yang pertama, namun sudah yang kesekian kali karena potensi bencana di Jatim memang sangat beragam. Hanya saja, fokus kali ini pada pemeriksaan kesehatan relawan,” ujarnya.

Gatot menilai pemeriksaan kesehatan menjadi bagian penting untuk menjaga keberlanjutan tugas relawan. Mereka tidak hanya menghadapi medan yang berubah-ubah, tetapi juga harus menanggung kelelahan akibat padatnya aktivitas selama menangani bencana.

“Selain dampak fisik, tentu juga ada dampak psikologis akibat padatnya aktivitas mereka, dan beban hidup keluarga yang kerap mereka tinggalkan,” katanya.

 

Hasil Pemeriksaan Diharapkan Jadi Rekomendasi

Gatot berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada pemeriksaan kesehatan. Ia mendorong hasil pemeriksaan dikembangkan menjadi kajian yang dapat menghasilkan rekomendasi untuk memperkuat perlindungan dan menjaga kesehatan relawan kebencanaan.

Menurutnya, hasil kajian dapat membantu mengidentifikasi sekaligus mencegah berbagai risiko kesehatan yang mungkin muncul ketika relawan menjalankan tugas di lapangan maupun setelah kembali dari operasi penanganan bencana.

“Harapannya, dengan adanya pemeriksaan kesehatan ini, akan ada kajian yang bisa menjadi rekomendasi atas kesehatan para relawan, sekaligus menjadi upaya pencegahan terhadap dampak yang tidak diinginkan,” katanya.