Rabu, 22 July 2026 13:00 UTC

Ilustrasi: Nilai Barang Lama. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Barang lama tidak selalu berakhir sebagai tumpukan di gudang atau tempat pembuangan. Semakin banyak masyarakat menyadari bahwa produk yang sudah tidak digunakan masih dapat memberi manfaat bagi orang lain.
Pergeseran cara pandang ini membuat pasar preloved terus berkembang, bukan hanya sebagai alternatif berbelanja, tetapi juga sebagai bagian dari pola konsumsi yang lebih efisien.
Fenomena tersebut terlihat di berbagai kota, termasuk Surabaya. Toko barang bekas berkualitas, bazar komunitas, hingga platform jual beli digital semakin mudah ditemukan. Masyarakat mulai melihat bahwa sebuah barang tidak kehilangan seluruh nilainya hanya karena berpindah pemilik.
Perubahan perilaku ini juga didukung oleh tren global. Resale Report 2025 yang diterbitkan ThredUp bersama GlobalData memperkirakan nilai industri fesyen preloved dunia akan mencapai 367 miliar dolar AS pada 2029.
Pertumbuhan itu menunjukkan bahwa penggunaan kembali barang bukan lagi kebiasaan kecil, melainkan bagian dari perubahan pasar ritel secara internasional.
Nilai Barang Tidak Hanya Ditentukan oleh Harga Baru
Banyak orang masih mengukur nilai sebuah produk berdasarkan harga saat pertama kali dibeli. Padahal, kualitas material, fungsi, dan daya tahan sering kali membuat sebuah barang tetap bernilai meskipun usianya sudah bertambah.
Peralatan rumah tangga, furnitur kayu, kamera, jam tangan, hingga buku menjadi contoh barang yang sering tetap diminati setelah digunakan bertahun-tahun. Selama kondisinya terawat, produk tersebut masih mampu memberikan manfaat yang sama kepada pemilik berikutnya.
Cara pandang seperti ini membuat masyarakat semakin selektif saat membeli barang baru. Produk yang memiliki umur pakai panjang dianggap lebih menguntungkan dibandingkan barang yang cepat rusak meski harganya lebih murah.
Memperpanjang Umur Pakai Mengurangi Pemborosan
Menurut United Nations Environment Programme (UNEP), dunia menghasilkan lebih dari 2 miliar ton limbah padat setiap tahun, sementara sektor fesyen menjadi salah satu penyumbang emisi dan limbah terbesar. Sebagian besar limbah muncul karena produk dibuang ketika sebenarnya masih layak digunakan.
Memperpanjang masa pakai barang menjadi salah satu langkah yang direkomendasikan dalam pendekatan ekonomi sirkular. Prinsipnya sederhana, yaitu menjaga agar produk tetap digunakan selama mungkin melalui perawatan, perbaikan, atau penjualan kembali.
Langkah ini memang tidak menghilangkan seluruh persoalan limbah. Namun semakin banyak barang yang berpindah tangan, semakin sedikit pula kebutuhan memproduksi barang baru dalam waktu singkat.
Pasar Barang Bekas Mendorong Ekonomi yang Lebih Efisien
Barang yang kembali beredar menciptakan aktivitas ekonomi baru. Penjual memperoleh tambahan pendapatan, sementara pembeli mendapatkan produk berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau.
Di sisi lain, muncul berbagai usaha yang menawarkan jasa pencucian, restorasi ringan, kurasi produk, hingga penjualan konsinyasi. Rantai usaha seperti ini memberi peluang bagi pelaku UMKM untuk berkembang tanpa harus memulai produksi dari nol.
Data Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia menunjukkan UMKM berkontribusi sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Kehadiran usaha berbasis preloved menjadi salah satu bagian dari ekosistem ekonomi tersebut karena memanfaatkan barang yang sudah ada agar kembali memiliki nilai jual.
Memilih Barang Berkualitas Lebih Penting daripada Mengejar Tren
Perubahan gaya hidup juga membuat masyarakat lebih mempertimbangkan kualitas dibanding jumlah barang yang dimiliki. Banyak konsumen mulai bertanya apakah sebuah produk benar-benar dibutuhkan dan memiliki umur pakai yang panjang.
Kebiasaan tersebut mendorong lahirnya pola konsumsi yang lebih rasional. Barang dipilih berdasarkan fungsi, kualitas material, dan kemudahan perawatannya, bukan semata-mata karena sedang populer.
Pilihan seperti ini membuat perpindahan kepemilikan barang menjadi sesuatu yang wajar. Ketika sebuah produk masih berfungsi dengan baik, berpindah ke tangan pemilik baru justru memperpanjang manfaat yang bisa diberikan.
Barang lama membuktikan bahwa nilai sebuah produk tidak berhenti ketika pemilik pertama selesai menggunakannya. Selama kualitasnya masih terjaga, barang tersebut tetap dapat menghadirkan manfaat ekonomi, mengurangi pemborosan, sekaligus mendukung pola konsumsi yang lebih bertanggung jawab.
Pergeseran cara pandang inilah yang membuat pasar preloved terus berkembang sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat modern.
