JATIMNET.COM, Surabaya – Anda tahu Aksi Kamisan? Ya, tentu saja, itu aksi yang digelar di hari Kamis. Tapi tahukah Anda, sebenarnya Aksi Kamisan adalah simbol perjuangan mencari kebenaran dan keadilan, serta melawan lupa.

Sejak lebih satu dekade lalu, sekelompok aktivis demokrasi dan korban pelanggaran hak asasi manusia menginisiasi aksi itu. Disebut Aksi Kamisan, karena aksi itu pertama kali digelar di Jakarta tepat pada hari Kamis, 18 Januari 2007. Dalam perjalanannya, aksi yang sama juga digelar di sejumlah kota; Bandung, Yogyakarta, Medan, Surabaya, hingga Malang.

Seperti bulan-bulan sebelumnya, para aktivis dan relawan demokrasi di Jawa Timur menggelar Aksi Kamisan, Kamis 27 September 2018. Di Surabaya berlangsung di depan Gedung Negara Grahadi dan di Malang berlangsung di depan Balai Kota Malang. Isunya, apalagi jika bukan mengingatkan pemerintah agar segera menyelesaikan “PR”nya, penuntasan kasus pelanggaran HAM. Di Malang, para aktivis sekaligus mengangkat isu “hentikan hoax 65”.

Tapi, ada yang berbeda dengan Aksi Kamisan di Surabaya dan Malang pekan lalu. Sekelompok orang anggota Ormas dan polisi memaksa peserta aksi bubar. Alasannya bermacam-macam; dari yang ditunggangi komunis, kelompok separatis Papua, sampai urusan administratif aksi tak ada izin/pemberitahuan kepolisian. Aneh, padahal aksi dan isu yang sama sebelumnya, tak pernah dibubarkan.