Logo

Warung Ndeprok Dawarblandong, Buka 24 Jam dengan Menu Nasi Jagung dan Pindang Pedas

Reporter:,Editor:

Minggu, 04 October 2026 00:09 UTC

Warung Ndeprok Dawarblandong, Buka 24 Jam dengan Menu Nasi Jagung dan Pindang Pedas

Atma, pemilik Warung Ndeprok, menunjukkan menu makanan yang menjadi andalan warungnya di Dawarblandong, Mojokerto. Foto: Wanto

JATIMNET.COM, Mojokerto – Di bawah rindangnya pohon jati, sebuah warung sederhana berdiri di kawasan perbatasan Dawarblandong, Mojokerto, dengan Sidoarjo. Meski tampil apa adanya, warung tersebut tak pernah benar-benar sepi.

Warung itu bernama Warung Ndeprok. Sesuai namanya, tempat makan ini menawarkan suasana sederhana dan merakyat. Meja dan kursi tertata seadanya, sementara aroma masakan dari dapur membuat suasana semakin mengundang selera.

Yang menarik, Warung Ndeprok buka selama 24 jam. Pelanggan dapat datang kapan saja, baik untuk makan maupun sekadar beristirahat dalam perjalanan.

Di balik usaha tersebut terdapat sosok Atma, perempuan berusia 44 tahun sekaligus ibu tiga anak. Warga asli Dawarblandong, Mojokerto, itu meracik sendiri berbagai bumbu yang digunakan untuk memasak menu Warung Ndeprok.

Kini, Warung Ndeprok menyediakan sekitar 16 pilihan menu. Dua di antaranya menjadi menu yang identik dengan warung tersebut, yakni nasi jagung dan nasi pecel.

Harga makanan juga relatif terjangkau. Pelanggan cukup merogoh kocek mulai Rp11 ribu, sedangkan menu dengan harga paling tinggi sekitar Rp30 ribu.

Salah satu menu yang banyak digemari pelanggan adalah pindang oseng dan pindang tomat. Kedua menu tersebut memiliki cita rasa pedas yang disesuaikan dengan selera pelanggan, terutama kalangan anak muda.

“Selera anak muda kan sukanya yang pedas-pedas,” ujar Atma saat ditemui, Minggu, 4 Oktober 2026.

Konsep makanan bercita rasa pedas sebenarnya sudah menjadi bagian dari Warung Ndeprok sejak awal berdiri. Ketika pertama kali berjualan, pilihan menunya masih terbatas. Salah satunya nasi jagung dengan rica-rica.

 

Berawal dari Meja dan Kursi Kecil

Perjalanan Warung Ndeprok dimulai sekitar tahun 2000. Saat itu, Atma mengawali usaha kulinernya secara sederhana dengan berjualan menggunakan meja dan kursi kecil di depan sebuah toko.

Seiring waktu, jumlah pelanggan terus bertambah. Kondisi tersebut mendorong Atma memindahkan warungnya ke lokasi yang lebih luas agar tersedia ruang makan dan area parkir yang lebih nyaman bagi pelanggan.

Perubahan lain terjadi pada jam operasional. Pada awalnya, Atma hanya membuka warung pada sore hari. Namun, banyak anak muda datang untuk makan malam sehingga jam buka perlahan diperpanjang hingga malam.

Saat Ramadan, kebutuhan pelanggan kembali berubah. Mereka meminta Warung Ndeprok buka sejak pagi untuk melayani waktu berbuka dan aktivitas makan selama bulan puasa.

Kebiasaan tersebut akhirnya membuat jam operasional Warung Ndeprok terus berkembang hingga 24 jam.

“Awalnya buka sore saja. Anak muda suka makan malam, akhirnya buka agak malam sampai malam terus. Waktu puasa disuruh buka pagi, akhirnya keterusan 24 jam,” tutur Atma.

 

Jadi Tempat Singgah hingga Tengah Malam

Kini, Warung Ndeprok bukan sekadar tempat untuk mengisi perut. Warung yang berada di bawah pohon jati tersebut juga menjadi tempat bertemunya berbagai kalangan.

Ada warga sekitar yang datang untuk makan, pengendara yang sedang melintas, hingga anak-anak muda yang mencari makanan bercita rasa pedas pada malam hari.

Di balik sekitar 16 menu yang tersaji, terdapat perjalanan panjang Atma dalam mempertahankan usaha kuliner yang dibangunnya dari meja dan kursi kecil.

Atma tetap meracik sendiri bumbu masakan dan mempertahankan cita rasa yang menjadi ciri khas Warung Ndeprok. Kesederhanaan tempat justru menjadi bagian dari daya tarik warung tersebut.

Setelah lebih dari dua dekade, Warung Ndeprok mampu bertahan dan berkembang dengan konsep sederhana. Warung ini tetap melayani pelanggan ketika sebagian tempat makan lain telah menutup pintu.

Jika perjalanan malam membawa Anda melintasi kawasan perbatasan Dawarblandong, Mojokerto, dan Sidoarjo, cahaya warung di bawah pohon jati itu masih mungkin terlihat.