Kamis, 13 August 2026 05:00 UTC

Ilustrasi: Konten dari Kampung. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM, Konten Agustusan punya bahan visual yang nyaris tidak habis. Memasuki pertengahan Agustus, gang-gang Surabaya mulai ramai oleh umbul-umbul, latihan lomba, pemasangan lampu, pengecatan gapura, sampai obrolan panitia yang kadang lebih seru daripada acaranya sendiri.
Semua mudah direkam menggunakan ponsel. Tantangannya justru muncul ketika hasil rekaman terlihat terlalu dibuat-buat.
Di media sosial yang dipenuhi video pendek, foto, Stories, dan konten vertikal, suasana 17 Agustus bisa kehilangan kehangatannya ketika semua orang diarahkan berpose.
Padahal daya tarik perayaan di lingkungan warga datang dari spontanitas: ekspresi peserta lomba, anak-anak berlarian, sampai tetangga yang sibuk menyiapkan kursi.
Ada alasan lain mengapa cara membuat konten semakin relevan dibicarakan. APJII mencatat jumlah pengguna internet Indonesia pada 2024 diperkirakan mencapai 221,56 juta orang, dengan tingkat penetrasi 79,5 persen.
Sementara itu, BPS mencatat 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024. Perbedaan angka tersebut berkaitan dengan metodologi dan populasi rujukan masing-masing lembaga, tetapi keduanya menggambarkan besarnya ruang digital dalam keseharian masyarakat.
Agustusan kini berlangsung di dua tempat sekaligus: lingkungan tempat acara digelar dan layar tempat ceritanya dibagikan.
Mulailah dari Kejadian, Bukan Tren
Suara musik dari pengeras suara, seseorang mengecat trotoar, anak-anak mencoba bakiak sebelum lomba, atau bapak-bapak berdebat ringan soal posisi tiang bendera sebenarnya sudah menjadi bahan konten.
Tidak semuanya perlu mengikuti tren video yang sedang ramai. Memaksakan audio, gerakan, atau format populer kadang justru menghilangkan karakter lokal. Sebuah video sederhana tentang warga memasang bendera di gang sempit Surabaya bisa terasa lebih dekat karena penonton mengenali suasananya.
Konten semacam ini juga memiliki konteks yang jelas. Orang memahami siapa yang sedang melakukan sesuatu, apa kegiatannya, dan seperti apa lingkungan di sekitarnya.
Cobalah merekam rangkaian pendek daripada satu video panjang. Ambil suasana jalan, tangan yang memasang dekorasi, ekspresi warga, lalu satu gambar lebar yang menunjukkan keseluruhan lokasi.
Beberapa potongan tersebut sudah cukup untuk membangun cerita tanpa perlu banyak adegan yang diarahkan.
Media Sosial Indonesia Memang Sangat Visual
Besarnya aktivitas digital Indonesia membuat konten perayaan lokal mempunyai kemungkinan beredar jauh melewati lingkungan tempat ia dibuat.
Data Badan Pusat Statistik memberi gambaran skalanya. Pada 2024, sebanyak 68,65 persen penduduk Indonesia tercatat memiliki telepon seluler. Akses internet pada tahun yang sama mencapai 72,78 persen penduduk.
Di Jawa Timur, kehidupan digital bertemu dengan budaya komunal yang masih terasa kuat di banyak lingkungan. Ketika Agustus datang, pertemuan keduanya mudah terlihat.
Informasi lomba berpindah ke grup percakapan, poster acara dibuat digital, sementara dokumentasinya masuk media sosial beberapa menit setelah kegiatan selesai. Situasi itu membuat setiap orang berpotensi menjadi pembuat dokumentasi.
Namun, banyaknya kamera juga menghasilkan pola visual yang seragam. Peserta berdiri berjajar, semua mengacungkan jempol, kamera merekam beberapa detik, lalu selesai. Padahal layar kecil justru membutuhkan detail.
Close-up tangan yang penuh cat ketika menghias gapura bisa lebih kuat daripada gambar sepuluh orang berdiri jauh dari kamera. Ekspresi peserta sebelum lomba juga memberi rasa berbeda dibanding rekaman setelah semuanya selesai.
Untuk konten vertikal, biarkan subjek mengisi sebagian besar layar. Latar tetap penting, tetapi jangan sampai manusia terlihat terlalu kecil.
Surabaya Punya Suara, Jangan Selalu Dihapus
Video media sosial sering langsung diberi musik. Kebiasaan ini praktis, tetapi ada sesuatu yang hilang ketika suara asli seluruhnya ditutup.
Agustusan memiliki lanskap suara sendiri. Ada peluit panitia, hitungan penonton, teriakan anak-anak, suara motor melewati gang, pengeras suara yang sedikit pecah, sampai komentar spontan warga dari belakang kamera.
Di Surabaya, detail audio seperti itu membantu menciptakan rasa tempat. Video tidak lagi tampak seperti perayaan yang bisa terjadi di kota mana saja.
Rekam beberapa klip dengan suara asli sebelum menambahkan musik. Saat mengedit, sisakan bagian tertentu tanpa audio tambahan. Penonton mendapat jeda untuk merasakan situasinya.
Cara tersebut juga membuat video terasa lebih dokumenter dan kurang seperti materi promosi. Tidak perlu takut dengan ketidaksempurnaan kecil. Suara orang tertawa dari luar frame atau peserta yang salah memulai lomba bisa menjadi bagian yang paling manusiawi.
Yang perlu dihindari justru gangguan audio ekstrem, percakapan pribadi yang seharusnya tidak disebarkan, atau musik latar dari lokasi yang membuat ucapan seseorang tidak terdengar.
Kamera Tidak Memberi Izin Secara Otomatis
Ada sisi yang mudah terlupakan ketika hampir semua orang membawa kamera: tidak setiap momen harus diunggah. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi menempatkan foto wajah dalam konteks data yang dapat mengidentifikasi seseorang ketika terkait dengan informasi tertentu.
Di luar persoalan hukum, ada etika sederhana yang jauh lebih mudah diterapkan sehari-hari. Minta izin ketika seseorang menjadi fokus utama konten, terutama jika rekamannya akan dipublikasikan secara terbuka.
Perhatian lebih besar dibutuhkan ketika merekam anak. Orang tua atau pendamping sebaiknya mengetahui bagaimana gambar akan digunakan.
Hindari memperlihatkan informasi sensitif seperti alamat rumah secara lengkap, nomor telepon pada spanduk, pelat kendaraan secara sengaja, atau dokumen yang kebetulan berada di meja panitia. Lokasi real-time juga tidak selalu perlu diumumkan.
Mengunggah setelah kegiatan selesai dapat menjadi pilihan ketika konten memperlihatkan rumah, anak-anak, atau informasi yang membuat lokasi seseorang mudah diketahui.
Prinsipnya cukup sederhana: kemeriahan acara tidak menghapus hak orang lain untuk menentukan apakah wajah dan aktivitasnya ingin masuk internet.
Edit Secukupnya, Biarkan Agustus Tetap Terlihat
Warna merah putih sudah mempunyai kontras visual yang kuat. Filter dengan saturasi berlebihan justru mudah membuat kulit terlihat jingga dan warna merah kehilangan detail.
Editing dasar biasanya sudah memadai. Periksa kecerahan, kontras, warna kulit, dan kestabilan video. Pangkas bagian yang tidak diperlukan. Untuk video pendek, beberapa detik pertama sebaiknya langsung membawa penonton ke kejadian utama tanpa intro yang panjang.
Teks pada layar pun tidak perlu memenuhi frame. Nama kegiatan, lokasi umum, dan satu kalimat konteks sering sudah cukup. Jika merekam lomba di Surabaya, misalnya, penonton lebih membutuhkan informasi mengenai apa yang sedang terjadi daripada sederet tagar yang menutupi gambar.
Perhatikan pula penggunaan musik. Kementerian Hukum melalui Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual terus menempatkan lagu sebagai karya yang dilindungi hak cipta.
Platform media sosial memang menyediakan pustaka musik dengan ketentuan penggunaan masing-masing, tetapi ketersediaan sebuah lagu di internet tidak otomatis membuatnya bebas digunakan untuk semua keperluan.
Untuk akun organisasi, usaha, atau konten komersial, persoalan lisensi musik layak diperiksa lebih teliti. Ada alternatif yang sering terlupakan: gunakan suara lokasi sebagai bagian dari cerita.
Kemeriahan 17 Agustus sudah menyediakan banyak hal yang biasanya dicari pembuat konten—warna kuat, gerakan, ekspresi, konflik kecil dalam permainan, kejutan, dan suara ramai. Tidak semuanya perlu ditambahkan lewat editing.
Itulah sebabnya konten Agustusan yang natural sering terasa lebih dekat. Kamera cukup mengikuti apa yang memang terjadi. Di sebuah gang Surabaya, video belasan detik tentang warga mengecat gapura sambil saling meledek mungkin terlihat sederhana saat direkam. Lima atau sepuluh tahun kemudian, detail semacam itulah yang justru sulit dibuat ulang.
