Minggu, 02 September 2018 01:16 UTC

Makam Islam Tembok Gede Surabaya. Foto Dimas Tri Pamungkas.
JATIMNET.COM, Surabaya – Bagi sebagian orang pemakaman adalah tempat yang menyeramkan. Mungkin karena letaknya yang lazim jauh dari pemukiman dan minim penerangan di kala malam.
Di Surabaya, ada satu pemakanan yang sangat luas. Namanya Makam Islam Tembok Gede di kawasan Bubutan. Dengan luas mencapai 13 hektar, usia komplek pemakaman ini cukup tua, dibuka pada 1909.
Letaknya berdampingan dengan pemukiman warga. Jalan setapak dibangun tertata meski di beberapa titik belum sempurna. Saat malam tiba, tak seluruh sudutnya dibalut kegelapan. Lampu penerangan dipasang di titik-titik utama.
“Ini pemakaman tua di Surabaya,” kata Munajih (48), pengurus pemakaman, Kamis 30 Agustus 2018.
Menurut dia, pemakaman ini dikelolah oleh Pemerintah Kota Surabaya. “Di bawah naungan Dinas Kebersihan,” katanya, menambahkan.
Beberapa orang menjuluki pemakaman ini sebagai Makam Artis. Ya, penyebutan itu cukup beralasan karena tempat ini menjadi peristirahatan terakhir bagi sejumlah pesohor Kota Surabaya. Ada pelawak, penyanyi, hingga kiai. Siapa mereka, dikutip dari sejumlah sumber, berikut di antaranya :
- Sudjarwoto Sumarsono

Makam Soedjarwoto Soemarsono alias Gombloh. Foto Dimas Tri Pamungkas.
Tak banyak orang mengenal nama aslinya. Tapi begitu menyebut nama Gombloh, ingatan kita segera tertuju pada penyanyi legendaris tahun 1980an.
Lahir di Jombang 14 Juli 1948, Sudjarwoto Sumarsono alias Gombloh meninggal pada 9 Januari 1988 di Surabaya. Ia meninggal akibat penyakit paru-paru yang diderita sejak lama.
Semasa hidup, Gombloh dikenal sebagai musisi balada sejati. Lagu-lagunya terlahir dari kedekatannya dengan masyarakat bawah. Maka tak heran, publik masih mengenangnya hingga kini. Banyak karyanya pun populer hingga kini. Di antaranya Berita Cuaca, yang populer dengan nama Lestari Alamku.
- Cak Durasim

Makam Cak Durasim. Foto Dimas Tri Pamungkas.
“Bekupon omahe doro, melok Nipon tambah soro”. Parikan itu melekat dalam keseharian masyarakat, tak hanya warga kota Surabaya. Tapi tahukah Anda siapa pencetusnya? Ya, dialah Durasim atau akrab disebut Cak Durasim.
Semasa hidup, lelaki bernama asli Gondo Durasim ini dikenal sebagai seniman teater. Ia pendiri ludruk Suroboyo. Di tangan Cak Durasim, seni tak sekadar menghibur tapi sekaligus membakar jiwa nasionalisme.
Tahun 1942 Jepang mendarat di Hindia Belanda. Penjajah Belanda memang hengkang dari Nusantara tapi kehidupan masyarakat tetap sengsara. “Bekupon omahe doro, melok Nipon tambah soro”. Di bawah Dai Nipon, penderitaan malah menjadi-jadi.
Sindiran itu memicu amarah tentara Jepang. Biarlah, asal kesadaran rakyat berjuang merebut kemerdekaan tercapai.
Cak Durasim meninggal pada 7 Agustus 1944. Untuk mengenang kisah kepahlawanannya, namanya diabadikan menjadi nama Taman Budaya Jawa Timur.
- Krishna Mustajab

Makam Krishna Mustajab. Foto Dimas Tri Pamungkas.
Ia pelukis sekaligus sastrawan. Ia menulis puisi sejak 1951, di antaranya Kumpulan Api Sunyi (1973) dan Sajak adalah Sukma Sejati. Kiprahnya sebagai seniman tak hanya dikenal di dalam negeri. Pada 1970an ia menggelar pameran tunggal pertama dan sejak itu ia tak berhenti pameran. Bahkan pernah ia menggelar pameran di sejumlah kota di Amerika; Washington DC, Maryland, dan New York.
Krishna Mustajab lahir di Mojokerto pada 4 Desember 1931 dan meninggal 3 Mei 1987. Jasadnya dikebumikan di Makam Islam Tembok Gede.
- KH. Ridlwan Abdullah

Makam KH.Ridlwan Abdulloh. Foto Dimas Tri Pamungkas.
Ia adalah pencipta lambang Nahdlatul Ulama, organisasi massa Islam terbesar di Indonesia.
Meski tak punya pesantren, KH.Ridwan Abdullah dikenal luas oleh kalangan pesantren Tanah Air. Selain karena pengetahuan agamanya mumpuni, orang mengenalnya sebagai ahli seni lukis dan kaligrafi. Salah satu karyanya adalah bangunan Masjid Kemayoran Surabaya.
Pada masa perang kemerdekaan, KH.Ridwan Abdullah dikenal sebagai seorang pejuang. Ia bergabung dalam Barisan Sabilillah dan turut berperang melawan tentara penjajah.
KH.Ridwan Abdullah lahir di Bubutan Surabaya 1 januari 1884 dan meninggal pada 1962.
