Senin, 22 September 2025 07:00 UTC

Stok gula di gudang PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) PG Gempolkrep, Desa Gempolkrep, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto melimpah. Foto: Hasan.
JATIMNET.COM, Mojokerto - Ribuan ton gula hasil produksi petani tebu di Jawa Timur kini terancam tak terserap pasar.
Penyebabnya, gula rafinasi yang semestinya hanya dipakai di sektor industri makanan dan minuman ikut membanjiri pasar konsumsi dengan harga lebih murah.
Harga gula konsumsi dari pabrik gula rakyat kini tembus di atas Rp15 ribu per kilogram. Sementara, gula rafinasi yang beredar di pasar hanya Rp14.300–Rp14.600 per kilogram. Selisih harga itu membuat pedagang lebih memilih rafinasi ketimbang gula lokal.
Kondisi ini membuat gula rakyat kalah bersaing hingga akhirnya menumpuk. Di gudang PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) PG Gempolkrep, Desa Gempolkrep, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto, misalnya, komoditas tersebut sudah menumpuk 35 ribu ton karena belum terjual.
BACA: Wagub Emil Tinjau Pabrik Gula di Probolinggo, Pastikan Stok Aman
Dari jumlah itu, sekitar 8 ribu ton adalah milik petani. “Di gudang saat ini, ada sekitar 35 ribu ton gula yang belum terjual. Produksi harian kami mencapai 450–500 ton. Kalau ini terus berlanjut, penumpukan akan makin besar karena musim giling sudah 70 persen,” ujar Edi Purnomo, General Manager PT SGN PG Gempolkrep, Senin, 22 September 2025.
Edi menyebut serapan pemerintah melalui Daya Anagata Nusantara (Danantara) nyaris tidak memberi dampak berarti. Dari total produksi gula nasional senilai Rp10 triliun, pemerintah hanya menyerap sekitar Rp1,5 triliun atau 10 persen.
“Kami khawatir pasokan tebu ke pabrik terganggu. Petani kesulitan biaya operasional, karena dana dari penjualan belum cair,” ungkap Edi.
BACA: Harga Tetes Tebu Anjlok, APTR PG Glenmore Bersurat ke Mendag-DPR RI
Situasi ini makin menekan petani tebu. Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) Mojokerto, Mubin, mengungkapkan mayoritas petani kini terhimpit utang lantaran hasil panen tak kunjung terjual.
“Petani sudah terikat kewajiban kredit ke bank. Kalau gula tidak laku, kami kesulitan membayar tepat waktu dan terancam penalti,” ucapnya.
Mubin menjelaskan, biaya operasional per hektare tanaman tebu bisa mencapai Rp25–30 juta. Jika hasil panen tak terserap, petani akan menunda musim tanam berikutnya.
Ia mendesak pemerintah untuk segera menertibkan peredaran gula rafinasi yang membanjiri pasar rakyat.
“Kalau tidak ada langkah lebih besar, petani akan terus merugi. Harapan kami, distribusi gula rafinasi diperketat supaya hanya masuk ke industri. Dengan begitu, gula konsumsi dari tebu rakyat bisa terserap di pasar,” tegasnya.
