Selasa, 06 October 2026 04:01 UTC

Ilustrasi virus. Pixabay
JATIMNET.COM, Jember – Peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dengan gejala batuk, pilek, demam, dan nyeri kepala mulai menjadi perhatian masyarakat. Sejumlah gejala tersebut juga menyerupai infeksi influenza.
Dokter Spesialis Paru Rumah Sakit Umum Universitas Muhammadiyah Jember (RSU Unmuh Jember), dr. Wahyu Agung Purnomo, Sp.P., membenarkan adanya peningkatan kasus ISPA. Namun, ia menegaskan belum ada kepastian bahwa seluruh kasus tersebut disebabkan virus Influenza A.
“Fenomena saat ini memang didapatkan peningkatan kasus ISPA dengan gejala batuk, pilek, demam, nyeri kepala, tetapi belum terbukti bahwa penyebabnya adalah virus Influenza A. Untuk memastikannya membutuhkan pemeriksaan PCR,” jelasnya.
Menurut dr. Wahyu, gejala yang muncul memang memiliki kemiripan dengan infeksi influenza. Virus influenza dapat menular melalui udara dan kemudian menginfeksi saluran pernapasan.
Pada fase awal, infeksi influenza biasanya menimbulkan demam, batuk, pilek, nyeri kepala, serta rasa sakit pada tubuh. Kumpulan gejala tersebut dikenal sebagai flu-like syndrome.
BACA: Kasus ISPA di Jatim Naik 25,6 Persen Selama Kemarau Panjang, Surabaya Tertinggi
Sebagian besar infeksi dapat membaik seiring meningkatnya daya tahan tubuh. Meski demikian, masyarakat perlu segera memeriksakan diri apabila gejala semakin berat, terutama ketika mengalami demam tinggi, batuk berkepanjangan, atau sesak napas.
“Terutama bagi kelompok usia balita dan lansia, atau dengan penyakit penyerta seperti asma, PPOK, diabetes, dan sakit jantung,” ungkap dr. Wahyu.
Ia menjelaskan, infeksi yang berkembang menjadi berat dapat menyebabkan gangguan pernapasan hingga gagal napas. Risiko tersebut lebih tinggi pada pasien yang memiliki penyakit penyerta berat.
Anak Lebih Rentan Mengalami Influenza
Dokter Spesialis Anak RSU Unmuh Jember, dr. Dion Krismashogi Dharmawan, M.Si., M.Ked.Klin., Sp.A., mengatakan anak, terutama yang berusia di bawah lima tahun, lebih rentan mengalami influenza A.
Menurutnya, sistem kekebalan tubuh dan saluran pernapasan anak masih dalam tahap perkembangan. Risiko penularan juga meningkat karena anak memiliki intensitas interaksi yang tinggi di sekolah maupun tempat bermain.
Gejala influenza pada anak juga dapat berbeda dibandingkan orang dewasa. Demam pada anak cenderung muncul secara mendadak dengan suhu lebih tinggi, bahkan dapat mencapai lebih dari 39 derajat Celsius.
dr. Dion Krismashogi Dharmawan, M.Si., M.Ked.Klin., Sp.A. (kiri) dan dr. Wahyu Agung Purnomo, Sp.P. (kanan), dokter spesialis dari RSU Unmuh Jember. Foto: Humas Unmuh Jember
Anak juga lebih sering mengalami gejala penyerta berupa mual, muntah, diare, dan sakit perut. Selain itu, influenza dapat memicu komplikasi seperti infeksi telinga tengah atau otitis media dan croup.
Orang tua juga perlu memperhatikan perubahan perilaku anak. Anak yang menjadi lebih rewel, gelisah, atau sangat lemas dapat menunjukkan kondisi yang membutuhkan perhatian lebih.
Kenali Tanda Influenza Mulai Berat
dr. Dion mengingatkan orang tua agar tidak hanya memantau demam dan batuk. Perubahan kondisi anak selama mengalami infeksi juga perlu diperhatikan untuk mengenali tanda bahaya sejak dini.
Orang tua perlu segera membawa anak ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila muncul tanda bahaya atau red flags. Salah satunya berupa sesak napas atau frekuensi napas yang menjadi lebih cepat.
Kondisi tersebut dapat terlihat dari bagian dada anak yang tertarik ke dalam ketika bernapas. Orang tua juga perlu mewaspadai munculnya suara napas seperti mengi atau stridor.
Bibir atau wajah yang tampak kebiruan maupun pucat juga menjadi tanda yang perlu mendapat perhatian. Kondisi tersebut dapat menunjukkan penurunan kadar oksigen dalam tubuh.
Orang tua juga perlu segera mencari pertolongan medis apabila anak terlihat sangat lemas, sulit dibangunkan, tidak mau berinteraksi, atau terus-menerus tidur.
BACA: Kediri Masih Punya PR 442 Kasus TBC, Tracing Diperluas
Tanda dehidrasi berat juga tidak boleh diabaikan. Beberapa di antaranya adalah anak tidak mengeluarkan air mata saat menangis, popok tetap kering selama lebih dari delapan jam, atau kondisi mulut yang sangat kering.
Kejang yang muncul akibat demam tinggi secara mendadak juga termasuk kondisi yang membutuhkan penanganan medis.
Cegah Penularan Influenza di Rumah
Selain mengenali gejala dan tanda bahaya, keluarga perlu melakukan langkah pencegahan untuk mengurangi risiko penularan, terutama ketika terdapat anggota keluarga yang sedang sakit.
dr. Wahyu menganjurkan masyarakat menggunakan masker, rajin mencuci tangan, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, mengonsumsi makanan bergizi dan bervitamin, mencukupi waktu istirahat, serta tetap berolahraga.
“Karena penyakit yang disebabkan oleh virus ini sifatnya self-limiting disease, artinya bisa sembuh dengan kekebalan tubuh kita sendiri,” pungkas dr. Wahyu.
Keluarga yang memiliki anak juga perlu membiasakan mereka mencuci tangan menggunakan air mengalir dan sabun selama minimal 20 detik. Kebiasaan tersebut terutama perlu dilakukan setelah batuk atau bersin dan sebelum makan.
Orang tua juga perlu mengajarkan etika batuk dan bersin kepada anak. Anak dapat menutup mulut dan hidung menggunakan siku bagian dalam atau tisu. Setelah digunakan, tisu harus segera dibuang ke tempat sampah.
Ketika ada anggota keluarga yang sakit, penggunaan masker di dalam rumah dapat membantu mengurangi risiko penyebaran virus. Keluarga juga perlu membersihkan benda yang sering disentuh bersama, seperti gagang pintu, mainan, sakelar lampu, dan pengendali jarak jauh televisi.
Sirkulasi udara di dalam rumah juga perlu dijaga dengan membuka jendela agar udara segar dapat masuk. Selain itu, vaksinasi influenza tahunan dapat menjadi salah satu upaya perlindungan, termasuk bagi anak berusia enam bulan ke atas dan anggota keluarga lainnya.
Dengan mengenali gejala serta tanda bahaya sejak dini dan menerapkan langkah pencegahan secara konsisten, orang tua dapat memberikan penanganan yang tepat. Langkah tersebut juga penting untuk mencegah infeksi influenza pada anak berkembang menjadi kondisi yang lebih berat.
