Pengamat Menilai Remisi untuk Susrama Menyerupai Grasi

Rochman Arief
Rochman Arief

Kamis, 7 Februari 2019 - 18:17

JATIMNET.COM, Jakarta – Direktur Pusat Pengkajian Pancasila dan Konstitusi (Puskapsi) Fakultas Hukum Universitas Jember Bayu Dwi Anggono menyebutkan remisi yang I Nyoman Susrama memiliki kemiripan dengan grasi.

“Presiden memberikan remisi berdasarkan Pasal 9 Keppres Nomor 174 Tahun 1999 tentang remisi yang di dalamnya mengandung muatan grasi, di situlah pangkal permasalahannya,” kata Bayu, Kamis 7 Februari 2019.

Dalam sebuah diskusi Bayu menjelaskan bahwa di dalam ketentuan tersebut, tertulis perubahan hukuman seumur hidup menjadi pidana sementara.

BACA JUGA: Ahli Hukum Minta Kepres Remisi Susrama Ditinjau Kembali

Bayu menegaskan Presiden memang memiliki kewenangan untuk memberikan grasi. Namun, pemberian itu tidak boleh diputuskan tanpa pertimbangan Mahkamah Agung (MA).

“Kalau Keppres Nomor 174/1999 untuk mengubah hukuman penjara seumur hidup menjadi penjara sementara, itu tidak perlu pertimbangan MA, padahal itu sama-sama model grasi,” kata Bayu.

Hal ini dikatakan Bayu akan berakibat buruk bagi keadilan hukum, karena adanya standar ganda antara pemberian grasi dan remisi yang tertuang berdasarkan Keppres Nomor 174/1999.

Akibatnya, terpidana seumur hidup akan memilih jalur remisi berdasarkan Keppres Nomor 174/1999 yang sebetulnya merupakan model grasi.

“Asalkan dia sudah menjalani hukuman lima tahun, berkelakuan baik, maka hukumannya bisa diubah menjadi penjara sementara,” tambah Bayu.

Sementara itu, orang yang memanfaatkan jalur grasi harus melalui pertimbangan MA yang terkadang.

BACA JUGA: Pemberian Remisi Susrama Merampas Keadilan Keluarga Prabangsa

“Jadi, mari dimurnikan konsep remisi ini, remisi adalah pengurangan menjalani masa pidana, bukan pengubahan jenis hukuman dari seumur hidup menjadi pidana sementara," kata Bayu.

Apa yang terjadi dalam kasus Susrama ini adalah perubahan hukuman yang sebenarnya ada di dalam ranah grasi. Akan tetapi, keputusan presiden untuk memberikan remisi tidak sepenuhnya bisa disalahkan karena presiden memutuskan berdasarkan Kepres Nomor 174/1999.

Sementara itu, Presiden RI Joko Widodo menyebutkan usulan revisi atas remisi yang diberikan kepada terpidana seumur hidup I Nyoman Susrama, otak pembunuhan wartawan Bali, AA Gde Bagus Narendra Prabangsa, masih dalam proses.

"Masih dalam proses semuanya, dalam proses di Ditjen juga di Kemenkumham,” kata Presiden Jokowi usai menghadiri Perayaan Imlek Nasional 2019 di kawasan Kemayoran Jakarta, Kamis 7 Februari 2019. (ant)

Baca Juga

loading...