Minggu, 12 July 2026 05:00 UTC

Ilustrasi: Pasar Tetap Dicari. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Pasar tradisional masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk di Surabaya. Meski jaringan minimarket dan supermarket terus berkembang, banyak keluarga tetap meluangkan waktu untuk berbelanja ke pasar karena menawarkan pengalaman yang sulit tergantikan.
Kesegaran produk, fleksibilitas harga, hingga kedekatan dengan pedagang menjadi alasan yang membuat pasar tradisional tetap bertahan di tengah perubahan pola konsumsi.
Fenomena ini menunjukkan bahwa perubahan gaya hidup tidak selalu menghapus kebiasaan lama. Justru di tengah kemudahan belanja modern, pasar tradisional masih menjadi pilihan rasional bagi masyarakat yang mengutamakan kualitas bahan pangan sekaligus efisiensi pengeluaran rumah tangga.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi komponen pengeluaran terbesar rumah tangga Indonesia.
Karena itu, lokasi masyarakat memperoleh bahan pangan sehari-hari memiliki pengaruh langsung terhadap pola konsumsi dan kemampuan mengelola anggaran keluarga.
Kesegaran Produk Menjadi Nilai yang Sulit Digantikan
Salah satu kekuatan utama pasar tradisional adalah ketersediaan bahan pangan segar. Sayuran, ikan, daging, rempah, hingga buah umumnya dipasok setiap hari dari sentra produksi di sekitar kota maupun daerah penyangga.
Bagi masyarakat Surabaya, pasokan tersebut banyak berasal dari wilayah seperti Sidoarjo, Mojokerto, Gresik, Lamongan, hingga Malang. Rantai distribusi yang relatif pendek membuat banyak produk tiba di pasar dalam kondisi yang masih segar.
Data BPS menunjukkan bahwa Indonesia memproduksi lebih dari 13 juta ton sayuran setiap tahun dan lebih dari 25 juta ton buah-buahan, sehingga pasar tradisional masih menjadi salah satu saluran utama distribusi hasil pertanian kepada masyarakat.
Kesegaran produk bukan hanya berpengaruh pada rasa makanan, tetapi juga mengurangi risiko pemborosan karena bahan pangan umumnya memiliki masa simpan yang lebih baik ketika dibeli dalam kondisi baru dipanen atau baru didistribusikan.
Harga Lebih Fleksibel Sesuai Kondisi Pasar
Berbeda dengan sistem harga tetap di sebagian besar toko modern, pasar tradisional memiliki karakter yang lebih dinamis. Harga dapat berubah mengikuti pasokan, musim panen, maupun kondisi distribusi.
Fleksibilitas ini sering menjadi keuntungan bagi konsumen. Pembeli memiliki kesempatan membandingkan harga antarpedagang sebelum menentukan pilihan.
Dalam beberapa situasi, komunikasi langsung juga memungkinkan adanya penyesuaian harga ketika membeli dalam jumlah lebih banyak.
Berdasarkan pemantauan Badan Pangan Nasional (Bapanas), harga komoditas pangan pokok memang mengalami perubahan hampir setiap hari mengikuti kondisi produksi dan distribusi nasional.
Karena itu, pasar tradisional sering kali lebih cepat menyesuaikan harga dibandingkan saluran ritel modern.
Selain harga, pembeli juga memiliki keleluasaan menentukan jumlah pembelian. Cabai, bawang, maupun bumbu dapur dapat dibeli sesuai kebutuhan harian tanpa harus mengikuti ukuran kemasan tertentu.
Menopang Perputaran Ekonomi Lokal
Pasar tradisional bukan sekadar tempat transaksi jual beli. Aktivitas di dalamnya melibatkan ribuan pelaku usaha kecil yang menjadi bagian penting dari ekonomi daerah.
Kementerian Perdagangan mencatat Indonesia memiliki sekitar 16 ribu lebih pasar rakyat yang menjadi tempat berusaha bagi jutaan pedagang.
Keberadaan pasar tersebut menciptakan lapangan pekerjaan tidak hanya bagi penjual, tetapi juga petani, nelayan, distributor, pengangkut barang, hingga pelaku usaha mikro lainnya.
Di Surabaya, pasar tradisional juga menjadi ruang interaksi sosial yang masih terjaga. Hubungan antara pedagang dan pelanggan sering kali berlangsung bertahun-tahun sehingga membangun kepercayaan yang sulit ditemukan dalam sistem belanja yang sepenuhnya otomatis.
Interaksi tersebut memberikan nilai tambah yang tidak selalu dapat diukur secara ekonomi. Banyak pembeli memperoleh informasi mengenai kualitas produk, musim panen, hingga alternatif bahan pangan langsung dari pedagang.
Pasar Tradisional Terus Beradaptasi dengan Zaman
Anggapan bahwa pasar tradisional tertinggal mulai berubah dalam beberapa tahun terakhir. Berbagai daerah melakukan revitalisasi pasar agar lebih bersih, nyaman, dan tertata tanpa menghilangkan karakter khasnya.
Kementerian Pekerjaan Umum bersama pemerintah daerah terus mendorong pembangunan dan revitalisasi pasar rakyat sebagai bagian dari penguatan ekonomi lokal.
Perbaikan drainase, pencahayaan, sanitasi, hingga area parkir membuat pengalaman berbelanja menjadi lebih nyaman bagi masyarakat.
Sebagian pedagang juga mulai memanfaatkan pembayaran digital melalui QRIS. Data Bank Indonesia menunjukkan pengguna QRIS telah melampaui 56 juta pengguna dengan lebih dari 38 juta merchant pada awal 2025. Mayoritas merchant tersebut berasal dari sektor usaha mikro dan kecil, termasuk pedagang pasar.
Perubahan ini menunjukkan bahwa pasar tradisional mampu mengikuti perkembangan teknologi tanpa kehilangan identitasnya sebagai ruang ekonomi berbasis masyarakat.
Pada akhirnya, pasar tradisional tetap memiliki daya tarik tersendiri karena menawarkan lebih dari sekadar tempat berbelanja. Kesegaran produk, fleksibilitas harga, kedekatan dengan pedagang, serta kontribusinya terhadap ekonomi lokal menjadikan pasar tetap relevan di tengah pesatnya perkembangan ritel modern.
Bagi banyak keluarga, berbelanja di pasar bukan hanya soal memenuhi kebutuhan, tetapi juga menjaga hubungan dengan ekosistem ekonomi yang telah tumbuh selama puluhan tahun.
