Ngabuburit Ala Anak-anak Ponorogo dengan Meriam Bontosan

Gayuh Satria Wicaksono

Sabtu, 25 Mei 2019 - 11:49

JATIMNET.COM, Ponorogo – Jika kembang api sudah lumrah dikenal, maka anak-anak dan remaja di Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo, punya bontosan, alias meriam bumbung.

Meriam berbahan bambu ini sering terdengar menyalak nyaring di senja hari, menjelang waktu berbuka.

Seperti petang itu, beberapa anak laki-laki asik memotong bambu dengan panjang sekitar 1 meter. Menggunakan linggis, mereka melubangi setiap ruas bambu, hingga menyisakan ruas di ujung bagian bawah.

Kemudian pada ruas paling bawah, diberi lubang sebesar ibu jari. Ya! Mereka sedang membuat meriam bumbungnya sendiri.

BACA JUGA: Jelang Lebaran, Ponorogo Atur Pelapak di Pasar Rakyat Alun-alun

“Setiap bulan puasa kegiatan anak-anak disini selalu ngabuburit dengan bontosan, atau sering dikenal dengan meriam bumbung,” kata salah satu anak Bagus Sulaiman, Sabtu 25 Mei 2019.

Bagus menerangkan cara memainkan permainan ini dengan terlebih dahulu membeli karbit dan dicacah sebesar ibu jari.

Kemudian menyiapkan juga seember air dan sebuah bambu kecil panjang yang diberi kain, dan telah dicelupkan kedalam solar, untuk digunakan sebagai pemantik.

Setelah semua bahan siap, anak-anak membawa bambu yang sudah dibentuk sedemikian rupa ke pematang sawah.

BACA JUGA: Ribuan Personel Amankan Pilkades Serentak 198 Desa di Ponorogo

Begitu semua siap, air pun dimasukkan melalui ujung bambu sampai meluber melalui lubang kecil di pangkal bambu tersebut.

Bambu digulingkan kembali pada posisi agak miring, dan karbit dimasukkan melalui ujung bambu,” imbuhnya.

Lubang kecil di bawah pangkal bambu kemudian ditutup menggunakan telapak tangan. Seorang anak kemudian mendengarkan suara gemuruh di dalam bambu. Suaranya menyerupai air mendidih.

BONTOSAN. Anak-anak menyalakan meriam bontosan di tengah sawah

Selang beberapa detik, pemantik api disiapkan dan disulutkan pada lubang kecil tadi.

Suara  menggelegar dan semburan api keluar dari ujung bambu yang lain. Suara yang nyaring  bahkan bisa membuat telinga berdengung.

BACA JUGA: Ramadan, Produsen Cincau Madiun Ketiban Rezeki

Suara inilah yang menyebabkan anak-anak selalu memainkan bontosan di tengah sawah, selain agar tidak mengganggu warga, juga agar tidak menimbulkan kebakaran.

Bagus mengaku, permainan ini memang sudah mulai ditinggalkan, selain suaranya yang membuat bising, keterampilan seperti ini jarang dimiliki oleh anak-anak zaman sekarang, mereka lebih memilih membeli kembang api.

“Jika dulu, tidak menggunakan karbit, tapi minyak tanah, karena minyak tanah sudah langka jadi digunakan karbit,” pungkasnya.

Baca Juga

loading...