Minggu, 22 October 2023 17:44 UTC

no image available
JATIMNET.COM, Blitar- Menteri Sosial Tri Rismaharini memerintahkan untuk perbaikan rumah Sasmiati (58), warga Dusun Dawung, Desa Pagerwojo, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, dan dilakukan secepatnya. Perbaikan dilakukan sehingga mereka bisa kembali tinggal di dalam rumah. Selama proses perbaikan, mereka tinggal di tenda yang dibangun di depan rumah.
Mensos mengatakan, perbaikan rumah menjadi prioritas dengan harapan agar kondisi mereka lebih baik lagi.
"Ada yang ingin saya tindaklanjuti terutama percepatan pembangunan rumah ini. Untuk permakanan disabilitas itu terealisasi karena ada hal tertentu di sini yang harus ditangani bersama supaya kondisinya tidak bertambah buruk," katanya saat berkunjung ke rumah Sasmiati, Minggu (22/10/2023).
Mensos menjelaskan waktu perbaikan sekitar dilakukan sekitar satu pekan. Proses perbaikan rumah dibantu oleh tagana dan tim lainnya yang juga siaga.
Pihaknya juga mengambil sampel air di sumur milik Sasmiati, guna memastikan apakah ada kandungan logam atau tidak. Jika ada kandungan, maka sumur harus diubah.
Sekda Kabupaten Blitar Izul Marom menambahkan sesuai dengan petunjuk dari Mensos, dilakukan penyelesaian perbaikan tempat tinggal.
"Menyelesaikan tempat tinggal dulu. Model bangunan juga beda, tidak seperti yang kami bangun selama ini. Misalnya soal tata letak, tempat mandi, menyesuaikan dengan kondisi mereka," jelasnya.
Menteri Sosial Tri Rismaharini berkunjung langsung ke rumah Sasmiati, seorang ibu dan tiga anaknya penyandang disabilitas intelektual. Sasmiati diketahui punya empat anak. Untuk anak pertama bekerja serabutan, dua anak lainnya yang merupakan saudara kembar dan saat ini bersekolah di SMALB, sementara satu anak lainnya diadopsi.
Kemensos juga telah melakukan pemeriksaan psikologis dalam penanganan Sasmiati dan keluarga di RSUD Wlingi, Kabupaten Blitar. Kemensos juga memberikan akses perbaikan rumah, serta memberikan bantuan Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI).
Sasmiati juga mendapatkan bantuan tambahan nutrisi, pakaian, sandal, tikar, peralatan kebersihan diri dan lemari. Sementara itu, dua anak Sasmiati yang masih sekolah di SLB diberikan bantuan berupa peralatan sekolah, pakaian, tikar, peralatan kebersihan diri dan almari pakaian. Anak pertama, Guruh Rahayu (28) diberikan bantuan usaha berupa dua ekor kambing.
Keluarga ini tinggal di rumah berukuran 12 x 7 meter persegi. Rumah yang ditempati merupakan bangunan permanen berdinding batu merah, atap genting dengan rangka kayu dan lantai semen. Kondisi dinding tembok sudah retak, lantai dari semen tetapi banyak yang pecah- pecah, rangka atau kayu tiang dan rangka atap sudah lapuk, jendela dan pintu sudah lapuk, genting banyak yang pecah dan tidak rapi.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Sasmiati mengandalkan bagi hasil panen dari sawah orang tua yang digarap orang lain. Hasil panen rata-rata 500 kilogram gabah atau beras 300 sampai dengan 400 kilogram. Selain itu, keluarga ini sering dibantu oleh para tetangga, diberikan uang saku untuk anaknya. Setiap bulan keluarga ini mendapatkan bantuan sembako dari organisasi masyarakat.
Sasmiati sebelumnya pernah mendapatkan bantuan PKH dari ibunya yang menjadi kepala keluarga. Setelah ibunya pindah ke Kalimantan dan terpisah KK, Sasmiati tidak lagi memperoleh PKH. Menurut pihak perangkat desa, hal itu terjadi karena tidak ada laporan terlebih dahulu sebelum membuat surat KK, sehingga data yang ada adalah data lama.
Namun, saat ini Sasmiati dan anak-anaknya sudah terdaftar di data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS), memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS) Penerima bantuan Iuran (PBI). (*)
