Logo

Memasak di Rumah Semakin Disukai Banyak Keluarga

Dapur yang kembali aktif sering menjadi tanda bahwa keluarga sedang membangun kebiasaan hidup yang lebih terencana.
Reporter:,Editor:

Sabtu, 11 July 2026 05:00 UTC

Memasak di Rumah Semakin Disukai Banyak Keluarga

Ilustrasi: Belanja untuk dapur. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Memasak di rumah kembali mendapat tempat di tengah kehidupan masyarakat modern. Kesibukan bekerja, aktivitas sekolah, hingga kemudahan layanan pesan antar ternyata tidak sepenuhnya menggeser kebiasaan mengolah makanan sendiri.

 

Banyak keluarga justru mulai menjadikan dapur sebagai pusat aktivitas harian karena dinilai lebih hemat, fleksibel, sekaligus memberi kepastian terhadap kualitas makanan yang dikonsumsi.

 

Fenomena ini tidak hanya terjadi pada keluarga besar. Pasangan muda, pekerja lajang, hingga keluarga kecil di kawasan perkotaan mulai menyusun menu mingguan agar pengeluaran lebih terkendali. Selain mengurangi frekuensi membeli makanan di luar, kebiasaan tersebut juga membuat proses belanja menjadi lebih terencana.

 

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan konsumsi rumah tangga secara konsisten menjadi penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, dengan porsi sekitar lebih dari 50 persen dalam beberapa tahun terakhir.

 

Di dalamnya, pengeluaran untuk makanan masih menjadi salah satu komponen utama, sehingga cara masyarakat mengelola kebutuhan pangan sangat berpengaruh terhadap kondisi ekonomi keluarga.

 

 

Perencanaan Menu Membantu Pengeluaran Lebih Efisien

 

 

Salah satu perubahan yang mulai terlihat adalah kebiasaan menyusun daftar menu sebelum berbelanja. Langkah sederhana ini membuat pembelian bahan makanan lebih sesuai kebutuhan dan mengurangi risiko membeli barang yang akhirnya tidak digunakan.

 

Perencanaan menu juga membantu keluarga menentukan kombinasi bahan yang dapat dimanfaatkan untuk beberapa jenis masakan. Misalnya, satu ekor ayam dapat diolah menjadi sup, ayam ungkep, hingga tumisan, sementara sayuran segar dapat digunakan bergantian dalam beberapa hari tanpa banyak terbuang.

 

Pendekatan seperti ini sejalan dengan upaya mengurangi limbah pangan. United Nations Environment Programme (UNEP) dalam Food Waste Index Report 2024 melaporkan bahwa dunia menghasilkan sekitar 1,05 miliar ton limbah makanan pada tahun 2022.

 

Sekitar 60 persen di antaranya berasal dari rumah tangga, menunjukkan bahwa pengelolaan makanan di dapur memiliki peran penting dalam mengurangi pemborosan.

 

Bagi keluarga, manfaatnya tidak hanya dirasakan dari sisi lingkungan. Belanja yang lebih terencana membuat anggaran bulanan menjadi lebih mudah diprediksi dan mengurangi pembelian impulsif yang sering terjadi saat berbelanja tanpa daftar kebutuhan.

 

 

Memilih Bahan Segar Menjadi Investasi untuk Kesehatan

 

 

Kebiasaan memasak di rumah juga memberikan kesempatan memilih bahan pangan dengan kualitas yang lebih baik. Sayuran segar, ikan, daging, tahu, tempe, dan buah dapat dipilih langsung sesuai kondisi terbaiknya.

 

Pilihan ini penting karena kualitas bahan sangat memengaruhi nilai gizi makanan. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Pedoman Gizi Seimbang menekankan pentingnya mengonsumsi aneka ragam pangan untuk memenuhi kebutuhan zat gizi makro maupun mikro.

 

Sementara itu, Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) menyebut keberagaman pangan sebagai salah satu kunci dalam membangun pola makan sehat yang berkelanjutan.

 

Tidak ada satu jenis makanan yang mampu memenuhi seluruh kebutuhan nutrisi tubuh, sehingga variasi bahan menjadi bagian penting dalam menu harian.

 

Di Surabaya, akses terhadap pasar tradisional maupun swalayan modern membuat masyarakat relatif mudah memperoleh bahan pangan segar.

 

Keuntungan tersebut semakin terasa ketika keluarga mampu memanfaatkan bahan lokal yang umumnya lebih mudah didapat sesuai musim.

 

 

Memasak Menjadi Aktivitas yang Mendekatkan Anggota Keluarga

 

 

Dapur bukan sekadar tempat mengolah makanan. Dalam banyak keluarga, dapur menjadi ruang interaksi yang mempertemukan berbagai aktivitas sehari-hari.

 

Anak dapat belajar mengenal bahan makanan, pasangan berbagi tugas memasak, sementara anggota keluarga lain membantu menyiapkan meja makan.

 

Aktivitas sederhana ini secara tidak langsung membangun komunikasi yang mungkin sulit terjadi ketika masing-masing sibuk dengan pekerjaan dan gawai.

 

Berbagai penelitian mengenai dinamika keluarga menunjukkan bahwa aktivitas rumah tangga yang dilakukan bersama mampu meningkatkan rasa memiliki terhadap keluarga serta memperkuat kerja sama antaranggota keluarga. Memasak menjadi salah satu bentuk aktivitas yang paling mudah dilakukan tanpa memerlukan biaya tambahan.

 

Selain itu, proses memasak juga mengajarkan keterampilan hidup yang bermanfaat dalam jangka panjang. Mengenal cara mengolah bahan, menyimpan makanan dengan benar, hingga mengatur waktu memasak merupakan kemampuan praktis yang tetap relevan di berbagai tahap kehidupan.

 

 

Memasak di Rumah Menyesuaikan Gaya Hidup Masa Kini

 

 

Berbeda dengan anggapan bahwa memasak selalu memakan waktu lama, banyak keluarga kini memilih pendekatan yang lebih praktis.

 

Persiapan bumbu dasar, penyimpanan bahan dalam porsi kecil, hingga penggunaan peralatan modern membantu mempercepat proses memasak tanpa mengurangi kualitas hasilnya.

 

Perubahan ini menunjukkan bahwa memasak di rumah mampu beradaptasi dengan ritme kehidupan modern. Dapur tidak lagi identik dengan aktivitas yang melelahkan, melainkan bagian dari manajemen waktu yang lebih efektif.

 

Di sisi lain, semakin banyak masyarakat yang menyadari bahwa makanan rumahan memberi keleluasaan untuk menyesuaikan menu dengan kebutuhan setiap anggota keluarga.

 

Anak-anak, orang tua, maupun anggota keluarga dengan kondisi kesehatan tertentu dapat memperoleh makanan yang lebih sesuai dibandingkan mengandalkan menu umum dari luar rumah.

 

Pada akhirnya, memasak di rumah bukan sekadar pilihan gaya hidup, melainkan strategi sederhana yang memadukan aspek kesehatan, efisiensi ekonomi, dan keharmonisan keluarga.

 

Ketika dilakukan secara konsisten, kebiasaan ini mampu memberikan manfaat yang jauh melampaui aktivitas memasak itu sendiri.