Rabu, 11 February 2026 04:30 UTC

Adi Sutarwijono atau yang akrab disapa Mas Awi saat dilantik sebagai Ketua DPRD Kota Surabaya beberapa waktu lalu. Foto: Humas DPRD Kota Surabaya..
JATIMNET.COM, Surabaya - Kota Surabaya kehilangan salah satu putra terbaiknya. Politikus PDI Perjuangan yang juga dikenal luas sebagai tokoh masyarakat, Adi Sutarwijono atau yang akrab disapa Mas Awi meninggal dunia pada Selasa 10 Februari 2026 pukul 20.36 WIB di Jakarta.
Kepergian Mas Awi meninggalkan duka mendalam. Tidak hanya bagi keluarga dan rekan sejawat di partai, tetapi juga warga Surabaya yang selama ini mengenalnya. Semasa hidup, almarhum dikenal sebagai sosok pemimpin yang dekat dengan rakyat dan aktif memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Anggota DPRD Jawa Timur dari PDI Perjuangan Fuad Benardi menyampaikan bahwa Surabaya dan partai kehilangan kader terbaik yang selama hidupnya dikenal memiliki dedikasi tinggi dalam pelayanan publik.
“Warga Surabaya dan juga PDI Perjuangan kehilangan tokoh maupun kader terbaik. Pengabdian dan pelayanan beliau kepada masyarakat begitu luar biasa. Beliau sosok yang sabar, mengayomi semua generasi termasuk anak-anak muda,” ujarnya, Rabu, 11 Februari 2026.
Fuad lantas mengenang perjuangan Mas Awi dalam dunia pergerakan. Menurutnya, semasa aktif di berbagai organisasi kepemudaan seperti Banteng Muda Indonesia (BMI) Kota Surabaya hingga Karang Taruna, Mas Awi dikenal sangat akomodatif.
Almarhum juga sering menjadi jembatan aspirasi generasi muda kepada pemerintah maupun partai politik.
Menurutnya, Mas Awi juga dikenal sebagai sosok yang terbuka terhadap diskusi dan selalu siap memberikan arahan kepada kader muda yang membutuhkan masukan.
“Beliau tidak hanya sekadar ketua, tetapi benar-benar menjadi pelayan masyarakat yang terbaik untuk Kota Surabaya. Banyak sekali arahan dan masukan beliau yang membantu perkembangan kami,” kata Fuad.
Ucapan duka juga disampaikan Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur dari PDI Perjuangan Erma Susanti. Ia mengenang Mas Awi sebagai sosok yang cerdas, sederhana, dan konsisten dalam perjuangan politiknya.
“Orangnya pintar karena mantan wartawan, konsisten, kepribadiannya baik, sederhana dan santun,” ujar Erma yang juga rekan sesama partai di PDI Perjuangan.
Ia menambahkan, latar belakang Mas Awi sebagai aktivis dan jurnalis membentuk karakter kepemimpinan yang idealis dan dekat dengan persoalan masyarakat akar rumput. Hal tersebut dinilai sejalan dengan ideologi PDI Perjuangan yang menekankan keberpihakan pada rakyat.
“Background beliau aktivis dan jurnalis, tentunya idealis dan itu mewarnai partai sehingga partai bisa lebih membumi dengan persoalan masyarakat,” katanya.
Erma mengaku cukup terkejut mendengar kabar wafatnya Mas Awi. Apalagi, baru mengetahui bahwa almarhum beberapa minggu terakhir tengah berjuang melawan sakitnya.
"Pertemuan terakhirnya dengan Mas Awi terjadi saat pelaksanaan konferensi cabang partai di Surabaya," jelasnya.
Kepergian Adi Sutarwijono meninggalkan jejak panjang pengabdian dalam dunia politik dan pelayanan publik, sekaligus menjadi kehilangan besar bagi masyarakat Surabaya yang selama ini merasakan langsung kiprah dan dedikasinya.
