Kamis, 26 February 2026 10:15 UTC

Ketua Umum KONI Jawa Timur, Muhammad Nabil (kiri) dan Direktur Puskud Jatim, Aida Fitri usai pertemuan, Kamis, 26 Februari 2026. Foto: Januar
JATIMNET.COM, Surabaya – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Timur mulai merancang pembentukan koperasi serba usaha sebagai strategi memperkuat kemandirian ekonomi atlet dan insan olahraga. Program ini ditujukan untuk menopang kesejahteraan atlet aktif maupun purna secara berkelanjutan.
Ketua Umum KONI Jawa Timur, Muhammad Nabil, menegaskan pihaknya ingin menghadirkan kontribusi konkret bagi para atlet di luar arena pertandingan.
“Kami ingin menghadirkan peran nyata KONI bagi atlet dan insan olahraga agar mereka memiliki kemudahan dalam menunjang aktivitas serta kehidupan ekonominya,” ujar Nabil, Kamis, 26 Februari 2026.
Nabil menjelaskan, koperasi tersebut tidak hanya berfungsi sebagai unit simpan pinjam. KONI Jatim akan mengembangkan koperasi menjadi badan usaha multiguna dengan berbagai lini bisnis produktif. Atlet yang telah mengikuti pelatihan kewirausahaan (athletepreneur) akan memimpin pengelolaan unit usaha.
“Teman-teman atlet yang sudah dilatih sebagai entrepreneur akan kami fungsikan sebagai leading sector dalam kegiatan usaha koperasi. Ini kegiatan nyata dan berkelanjutan,” jelasnya.
Melalui skema ini, KONI Jatim ingin membangun ekosistem ekonomi olahraga yang mandiri. Organisasi tersebut juga membuka peluang usaha baru agar atlet dapat menyiapkan masa depan sejak dini.
"Sehingga atlet sudah mempersiapkan langkah kedepannya untuk bisa berwirausaha," tambahnya.
Dalam proses pendirian koperasi, KONI Jatim menggandeng Pusat Koperasi Usaha Daerah Jawa Timur (Puskud Jatim) sebagai pendamping. Direktur Puskud Jatim, Aida Fitri, memastikan pihaknya akan mengawal seluruh tahapan, mulai dari pengurusan legalitas hingga pengembangan bisnis.
“Puskud Jatim akan mendukung sepenuhnya berdirinya koperasi KONI skala Provinsi Jawa Timur, termasuk perizinan dan pengembangan unit usahanya,” kata Aida.
Aida memaparkan, koperasi akan membuka sejumlah bidang usaha, antara lain simpan pinjam, jasa keuangan, perdagangan sembako, distribusi beras dan minyak goreng, serta sektor usaha lain yang dikelola secara kolaboratif.
Ia menegaskan, koperasi ini juga memprioritaskan pemberdayaan atlet purna agar tetap produktif. Melalui sistem koperasi, mantan atlet dapat bertransformasi menjadi pelaku usaha mandiri dan memiliki kemandirian finansial.
“Kami ingin membuka ruang besar pemberdayaan ekonomi sehingga atlet-atlet purna dapat menjadi entrepreneur dan mandiri secara finansial,” tambah Aida.
Saat ini, KONI Jatim masih mematangkan nama koperasi. Tim perumus menyesuaikan nama tersebut dengan ketentuan perizinan serta menghindari kesamaan dengan koperasi lain yang telah terdaftar.
Langkah ini menegaskan komitmen KONI Jawa Timur dalam meningkatkan kesejahteraan atlet secara menyeluruh. Organisasi tidak hanya berfokus pada pencapaian prestasi olahraga, tetapi juga membangun fondasi ekonomi yang kokoh bagi seluruh ekosistem olahraga di Jawa Timur.
"Jika terealisasi sesuai rencana, koperasi ini berpotensi menjadi model pemberdayaan ekonomi atlet di tingkat daerah yang dapat direplikasi di provinsi lain di Indonesia," terang Aida.
