Rabu, 20 May 2026 07:30 UTC

Ilustrasi: Percaya karena kenalan. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Fenomena orang dalam masih menjadi bagian kuat dalam budaya transaksi masyarakat Indonesia. Dalam banyak situasi, keberadaan “teman teman”, “saudara showroom”, atau “kenalan terpercaya” sering dianggap cukup untuk membangun rasa aman saat melakukan transaksi besar.
Budaya ini terlihat jelas dalam jual beli kendaraan, properti, hingga urusan pekerjaan. Ketika ada pihak yang mengaku punya koneksi atau dikenalkan oleh orang terpercaya, tingkat kewaspadaan biasanya langsung turun.
Di satu sisi, pola ini lahir dari budaya sosial Indonesia yang memang sangat mengandalkan hubungan personal. Namun di sisi lain, fenomena tersebut mulai menjadi celah yang sering dimanfaatkan dalam berbagai modus penipuan modern, termasuk skema segitiga dalam jual beli mobil yang belakangan ramai diperbincangkan.
Masalahnya, banyak orang tidak sadar bahwa rasa percaya berbasis relasi sosial bisa dimanipulasi dengan sangat mudah di era digital.
Masyarakat Indonesia Sangat Mengandalkan Relasi Sosial
Indonesia dikenal sebagai masyarakat kolektif yang memiliki hubungan sosial kuat. Dalam kehidupan sehari-hari, rekomendasi personal sering lebih dipercaya dibanding sistem formal.
Survei Edelman Trust Barometer 2024 menunjukkan bahwa masyarakat di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, cenderung lebih percaya rekomendasi dari orang dekat dibanding institusi formal atau iklan resmi. (edelman.com)
Fenomena ini sebenarnya punya sisi positif. Relasi sosial membuat masyarakat lebih mudah saling membantu dan membangun jaringan ekonomi informal yang kuat.
Namun dalam transaksi modern, pola tersebut juga menciptakan blind spot. Orang sering merasa aman hanya karena transaksi diperantarai kenalan.
Padahal, kedekatan sosial belum tentu identik dengan keamanan transaksi. Sosiolog Universitas Indonesia, Prof. Imam B. Prasodjo, pernah menjelaskan bahwa budaya gotong royong dan kedekatan sosial masyarakat Indonesia memang membentuk tingkat interpersonal trust yang tinggi dalam kehidupan sehari-hari.
Masalah muncul ketika rasa percaya itu digunakan tanpa proses verifikasi tambahan.
“Ada Orang Dalam” Sering Dianggap Jalan Pintas
Dalam budaya urban modern, keberadaan “orang dalam” sering dipersepsikan sebagai keuntungan sosial. Banyak orang merasa transaksi akan lebih murah, lebih aman, atau lebih cepat jika dibantu kenalan tertentu.
Fenomena ini terlihat mulai dari pembelian tiket konser, urusan rumah sakit, hingga jual beli kendaraan.
Padahal menurut riset Jakpat pada 2024 tentang perilaku digital masyarakat Indonesia, lebih dari 62 persen responden mengaku lebih mudah percaya transaksi online jika ada rekomendasi teman atau mutual connection.
Di titik ini, koneksi sosial berubah menjadi alat validasi psikologis.
Pelaku penipuan memahami pola tersebut. Mereka tidak lagi hanya menjual barang, tetapi membangun ilusi kedekatan sosial. Nama kenalan, grup WhatsApp komunitas, atau bahasa yang terasa akrab sering dipakai untuk menciptakan rasa aman palsu.
Akibatnya, korban merasa sedang bertransaksi dengan “lingkaran sendiri”, bukan dengan orang asing.
Era Digital Membuat Manipulasi Sosial Makin Mudah
Dulu membangun kepercayaan membutuhkan waktu lama. Sekarang, identitas sosial bisa direkayasa hanya lewat media sosial dan percakapan digital.
Akun terlihat profesional. Foto bersama komunitas terlihat meyakinkan. Bahkan banyak pelaku sengaja menggunakan bahasa santai khas pertemanan agar terasa dekat secara emosional.
Pakar keamanan siber dari CISSReC, Pratama Persadha, menyebut bahwa sebagian besar penipuan digital modern kini lebih banyak memanfaatkan social engineering dibanding kemampuan teknis peretasan. (cissrec.org)
Artinya, target utama pelaku bukan sistem digital, melainkan psikologi manusia.
Kondisi ini semakin kompleks karena masyarakat Indonesia termasuk pengguna media sosial terbesar di dunia. Data We Are Social 2025 menunjukkan rata-rata pengguna internet Indonesia menghabiskan lebih dari 7 jam sehari di internet dan sekitar 3 jam di media sosial.
Paparan sosial digital yang sangat tinggi membuat orang semakin terbiasa membangun rasa percaya lewat interaksi online singkat.
Padahal, kedekatan digital sering kali hanya ilusi sosial.
Budaya Tidak Enakan Membuat Orang Jarang Verifikasi
Salah satu hal paling khas dalam budaya Indonesia adalah rasa sungkan. Banyak orang merasa tidak nyaman bertanya terlalu detail karena takut dianggap tidak percaya.
Dalam transaksi besar, sikap ini justru sering berbahaya. Korban penipuan biasanya mengabaikan insting awalnya sendiri. Mereka sebenarnya merasa ada kejanggalan, tetapi memilih diam demi menjaga suasana tetap nyaman.
Psikolog sosial dari Universitas Airlangga, Prof. Bagong Suyanto, pernah menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia memiliki budaya harmoni sosial yang tinggi sehingga sering menghindari konflik kecil dalam interaksi sehari-hari.
Akibatnya, banyak orang lebih memilih percaya daripada terlihat terlalu curiga. Padahal dalam transaksi bernilai besar, pertanyaan detail dan verifikasi justru bentuk kewaspadaan yang sehat.
Rasa Percaya Tetap Penting, Tapi Harus Disertai Verifikasi
Budaya saling percaya sebenarnya adalah kekuatan sosial yang sangat berharga. Tidak semua relasi sosial harus dipenuhi kecurigaan berlebihan.
Namun di era digital modern, rasa percaya perlu berjalan bersama literasi verifikasi. Masyarakat perlu mulai membiasakan diri mengecek identitas, memastikan alur transaksi jelas, dan tidak mudah merasa aman hanya karena ada nama kenalan di tengah proses.
Karena pada akhirnya, fenomena “orang dalam” bukan sekadar soal koneksi sosial. Ia juga menunjukkan bagaimana masyarakat modern sering mencari rasa aman lewat kedekatan emosional, bahkan ketika risiko sebenarnya masih sangat besar.
Dan di era ketika identitas digital bisa dibentuk dengan mudah, kemampuan membedakan relasi asli dan manipulasi sosial menjadi keterampilan hidup yang semakin penting dimiliki siapa pun.
