Logo

Fenomena Impulse Buying di Kalangan Generasi Muda

Tidak semua barang yang dibeli lahir dari kebutuhan. Sebagian muncul karena dorongan sesaat yang terasa masuk akal pada saat itu.
Reporter:,Editor:

Jumat, 12 June 2026 08:30 UTC

Fenomena Impulse Buying di Kalangan Generasi Muda

Ilustrasi: Godaan Diskon Modern. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Impulse buying atau pembelian impulsif menjadi salah satu fenomena konsumsi yang semakin sering dibahas dalam beberapa tahun terakhir. Istilah ini merujuk pada keputusan membeli yang terjadi secara spontan tanpa perencanaan matang sebelumnya.

 

Bagi generasi muda, impulse buying bukan lagi sekadar perilaku yang terjadi di pusat perbelanjaan. Kini, dorongan membeli bisa muncul kapan saja melalui notifikasi aplikasi, promosi media sosial, hingga rekomendasi algoritma yang muncul di layar ponsel.

 

Kondisi ini semakin relevan karena akses internet di Indonesia terus berkembang. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan jumlah pengguna internet Indonesia telah mencapai 221,5 juta orang atau sekitar 79,5 persen dari total populasi nasional. Generasi Z menjadi kelompok usia yang paling terkoneksi dengan internet. 

 

Semakin banyak waktu yang dihabiskan di ruang digital, semakin besar pula peluang seseorang terpapar berbagai stimulus yang mendorong keputusan belanja spontan.

 

 

Ketika Belanja Menjadi Aktivitas Emosional

 

Banyak orang mengira keputusan membeli selalu didasarkan pada logika dan kebutuhan. Kenyataannya, emosi sering memiliki peran yang jauh lebih besar.

 

Perasaan senang setelah menerima gaji, rasa bosan saat bersantai, atau keinginan mengikuti tren dapat menjadi pemicu pembelian yang tidak direncanakan.

 

Fenomena ini diperkuat oleh berbagai strategi pemasaran digital yang dirancang untuk menciptakan rasa urgensi. Label "stok terbatas", "diskon berakhir malam ini", atau "tinggal beberapa produk tersisa" memicu respons emosional yang membuat seseorang takut kehilangan kesempatan.

 

Penelitian mengenai perilaku Generasi Z di platform e-commerce menunjukkan bahwa faktor seperti promosi flash sale, kualitas produk yang ditampilkan, serta pengaruh ulasan digital dapat mendorong perilaku impulse buying secara signifikan. 

 

Karena itu, pembelian impulsif sering kali terasa masuk akal ketika terjadi, meskipun kemudian disesali setelah transaksi selesai.

 

 

Media Sosial Mengubah Cara Konsumen Membuat Keputusan

 

Perubahan terbesar dalam perilaku belanja generasi muda sebenarnya bukan terletak pada produk yang dibeli, melainkan pada cara keputusan tersebut terbentuk.

 

Dulu konsumen harus datang ke toko untuk melihat barang. Kini inspirasi belanja muncul setiap kali membuka media sosial.

 

Konten gaya hidup, rekomendasi influencer, video unboxing, hingga tren viral menciptakan lingkungan yang membuat konsumsi terasa sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari.

 

Ketika seseorang terus-menerus melihat produk yang sama dari berbagai sumber, muncul efek familiaritas. Produk tersebut terasa semakin menarik meskipun sebelumnya tidak pernah masuk daftar kebutuhan.

 

Dalam kondisi seperti ini, batas antara kebutuhan dan keinginan menjadi semakin kabur.

 

 

Dampak Kecil yang Sering Tidak Disadari

 

Salah satu alasan impulse buying sulit dikendalikan adalah karena dampaknya jarang terasa langsung. Sebagian besar pembelian impulsif justru terjadi pada nominal yang relatif kecil.

 

Namun ketika dilakukan berulang kali, total pengeluarannya bisa cukup besar. Misalnya, pengeluaran tambahan Rp50.000 sebanyak empat kali dalam seminggu terlihat tidak signifikan. Namun dalam sebulan jumlahnya bisa mencapai sekitar Rp800.000. Dalam setahun, nilainya mendekati Rp10 juta.

 

Angka tersebut menunjukkan bahwa tantangan terbesar sering bukan berasal dari satu pembelian besar, melainkan dari akumulasi keputusan kecil yang tidak direncanakan.

 

Inilah alasan mengapa banyak anak muda merasa uang cepat habis meski jarang membeli barang mahal.

 

 

Mengapa Generasi Muda Lebih Rentan

 

Generasi muda hidup dalam lingkungan digital yang sangat berbeda dibanding generasi sebelumnya. Mereka terhubung dengan internet hampir sepanjang hari, menerima paparan iklan yang lebih personal, dan memiliki akses transaksi yang jauh lebih cepat.

 

APJII mencatat tingkat penetrasi internet Indonesia meningkat dari 64,8 persen pada 2018 menjadi 79,5 persen pada 2024. Kenaikan ini menunjukkan semakin besarnya aktivitas masyarakat di ruang digital. 

 

Di sisi lain, sistem pembayaran modern membuat proses pembelian semakin mudah. Hanya dengan beberapa sentuhan layar, transaksi dapat selesai tanpa perlu berpindah tempat.

 

Kombinasi antara paparan promosi yang tinggi dan kemudahan transaksi inilah yang membuat generasi muda lebih sering menghadapi godaan impulse buying dibanding generasi sebelumnya.

 

 

Membangun Kebiasaan Belanja yang Lebih Sadar

 

Menghindari impulse buying sepenuhnya mungkin tidak realistis. Sesekali membeli sesuatu secara spontan bukanlah masalah besar.

Yang lebih penting adalah membangun kesadaran terhadap alasan di balik setiap pembelian.

 

Kebiasaan sederhana seperti membuat daftar belanja, menetapkan anggaran bulanan, atau memberi jeda 24 jam sebelum membeli barang non-primer dapat membantu mengurangi keputusan emosional.

 

Tujuannya bukan untuk menghilangkan kesenangan saat berbelanja. Sebaliknya, langkah tersebut membantu memastikan bahwa setiap pengeluaran benar-benar sesuai dengan prioritas keuangan yang dimiliki.

 

Pada akhirnya, fenomena impulse buying di kalangan generasi muda bukan sekadar soal kebiasaan konsumtif. Fenomena ini merupakan konsekuensi dari kehidupan digital yang semakin terhubung. Memahami cara kerjanya menjadi langkah penting agar aktivitas belanja tetap menyenangkan tanpa mengorbankan kesehatan finansial di masa depan.