Jumat, 22 May 2026 11:30 UTC

Ilustrasi hubungan pengasuh dan keluarga urban kini semakin profesional, tetapi sering terasa lebih berjarak. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Pengasuh anak zaman dulu sering memiliki hubungan emosional yang sangat dekat dengan keluarga. Tidak sedikit orang Indonesia yang tumbuh bersama sosok pengasuh yang kemudian dianggap seperti nenek, tante, atau anggota keluarga sendiri.
Kedekatan semacam itu juga terlihat dalam kisah Soekarno dan Sarinah, pengasuh masa kecilnya yang kemudian namanya diabadikan menjadi Sarinah. Dalam autobiografinya, Soekarno mengaku banyak belajar nilai kemanusiaan dan kepedulian sosial dari perempuan sederhana tersebut.
Namun, di kota-kota besar saat ini, hubungan pengasuh dan keluarga mulai berubah. Relasinya menjadi lebih profesional, lebih terstruktur, tetapi juga terasa lebih berjarak secara emosional.
Perubahan ini bukan semata soal sikap masyarakat, melainkan bagian dari transformasi gaya hidup urban modern yang bergerak sangat cepat.
Keluarga Urban Sekarang Hidup Lebih Sibuk
Di masa lalu, struktur keluarga Indonesia cenderung lebih kolektif. Banyak anggota keluarga tinggal berdekatan sehingga pengasuhan anak dilakukan bersama-sama.
Kini, urbanisasi membuat pola hidup berubah drastis. Banyak pasangan muda tinggal jauh dari orang tua dan harus mengatur kehidupan rumah tangga sendiri di tengah ritme kerja kota yang padat.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat urbanisasi Indonesia terus meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Kota menjadi pusat pekerjaan dan mobilitas, tetapi juga membuat hubungan sosial sehari-hari menjadi lebih individual.
Akibatnya, pengasuh anak kini lebih diposisikan sebagai bagian dari sistem kerja rumah tangga modern. Ada jam kerja, aturan profesional, kontrak, hingga batas relasi yang lebih jelas.
Di satu sisi, ini membuat hubungan kerja menjadi lebih sehat dan terstruktur. Namun di sisi lain, kedekatan emosional yang dulu sering muncul perlahan mulai berkurang.
Media Sosial Mengubah Cara Orang Melihat Pengasuhan
Perubahan lain datang dari media sosial dan budaya parenting modern. Orang tua masa kini lebih banyak mengonsumsi konten tentang parenting boundaries, kesehatan mental anak, pola asuh positif, dan hubungan profesional dalam rumah tangga.
Kesadaran ini sebenarnya membawa dampak baik karena hak pekerja domestik mulai lebih diperhatikan dibanding generasi sebelumnya.
Namun, budaya digital juga membuat hubungan pengasuh dan keluarga menjadi lebih hati-hati. Banyak orang takut terlalu dekat karena khawatir muncul konflik emosional, ketergantungan, atau masalah privasi.
Akhirnya, relasi yang dulu sangat personal kini lebih sering dibangun secara fungsional.
Anak Modern Tumbuh di Tengah Relasi yang Lebih Formal
Fenomena ini diam-diam memengaruhi pengalaman emosional anak-anak urban. Dulu, anak sering tumbuh dengan banyak figur dewasa di sekitarnya: nenek, tetangga, pengasuh, hingga kerabat dekat. Sekarang, lingkar sosial anak cenderung lebih kecil dan lebih privat.
Di kota besar, banyak keluarga hidup di apartemen atau perumahan tertutup dengan interaksi sosial yang minim. Hubungan sehari-hari menjadi lebih singkat dan efisien.
Akibatnya, figur pengasuh tetap penting, tetapi posisinya tidak lagi selalu berkembang menjadi hubungan emosional jangka panjang seperti dulu.
Padahal dalam banyak penelitian perkembangan anak, kelekatan emosional dengan figur pengasuh yang konsisten memiliki pengaruh besar terhadap rasa aman dan perkembangan sosial anak.
Kedekatan Emosional Sebenarnya Masih Dicari
Meski hubungan kini lebih profesional, kebutuhan manusia terhadap kedekatan emosional sebenarnya tidak hilang. Itulah sebabnya banyak orang dewasa masih mengingat pengasuh masa kecil mereka dengan sangat hangat. Bukan karena fasilitas yang diberikan, tetapi karena perhatian kecil yang terasa tulus dan manusiawi.
Di tengah kehidupan urban yang sibuk, relasi sederhana seperti ini justru menjadi sesuatu yang semakin langka. Mungkin itu juga yang membuat kisah Soekarno dan Sarinah masih terasa relevan hingga sekarang.
Sebab, dari hubungan sederhana antara seorang anak dan pengasuhnya, lahir pelajaran tentang empati, perhatian, dan rasa dekat dengan manusia lain. Dan di era modern yang serba cepat ini, nilai-nilai seperti itu justru terasa semakin mahal.
