Logo

Budaya Main HP Saat Forum Serius Makin Dianggap Normal

Banyak orang kini hadir secara fisik, tetapi pikirannya sibuk di layar lain.
Reporter:,Editor:

Senin, 18 May 2026 04:00 UTC

Budaya Main HP Saat Forum Serius Makin Dianggap Normal

Ilustrasi: Hadir tapi tidak hadir. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Etika bermain HP saat rapat perlahan berubah dalam beberapa tahun terakhir. Dulu, membuka ponsel saat forum formal dianggap tidak sopan. Kini, pemandangan itu terasa biasa, bahkan di ruang kerja, kelas, acara keluarga, hingga forum pemerintahan.

 

Kasus viral anggota DPRD Jember yang terekam bermain game saat rapat membahas stunting kembali membuka percakapan publik tentang perubahan perilaku digital masyarakat. Peristiwa itu memicu kritik bukan hanya karena dilakukan dalam forum resmi, tetapi juga karena menyangkut isu sensitif tentang kesehatan anak dan kemiskinan.

 

Fenomena tersebut sebenarnya lebih besar dari satu kasus. Banyak orang modern mulai mengalami pergeseran cara menghargai perhatian, komunikasi, dan kehadiran sosial.

 

 

Etika Bermain HP Saat Rapat Mengalami Pergeseran

 

Perubahan paling terasa terjadi setelah smartphone menjadi bagian utama kehidupan sehari-hari. Ponsel kini bukan sekadar alat komunikasi, tetapi sumber hiburan, pekerjaan, berita, transaksi, hingga pelarian emosional.

 

Karena terlalu sering digunakan, membuka HP di tengah percakapan perlahan dianggap wajar. Bahkan banyak orang melakukannya tanpa sadar.

 

Riset Pew Research Center menunjukkan mayoritas pengguna smartphone mengaku sering mengecek ponsel beberapa menit setelah menerima notifikasi. Kebiasaan ini membentuk pola respons otomatis yang sulit dihentikan. (pewresearch.org)

 

Profesor psikologi sosial Sherry Turkle dari MIT menjelaskan bahwa teknologi membuat manusia berada dalam kondisi “alone together”. Secara fisik bersama, tetapi perhatian mental tersebar ke ruang digital lain. Dalam berbagai penelitiannya, Turkle menyebut kualitas percakapan menurun ketika ponsel hadir di meja, bahkan saat tidak digunakan aktif. (mit.edu)

 

Akibatnya, kehadiran fisik tidak lagi otomatis berarti keterlibatan penuh.

 

 

Otak Modern Makin Sulit Diam Tanpa Stimulasi

 

Salah satu alasan banyak orang membuka HP saat rapat adalah otak modern sudah terbiasa menerima stimulasi cepat.

 

Media sosial, video pendek, game, dan notifikasi memberi rangsangan instan yang membuat otak terus mencari “hadiah kecil” dalam bentuk hiburan atau informasi baru.

 

Profesor Gloria Mark, peneliti attention span dari University of California, Irvine, menemukan rata-rata fokus manusia pada satu layar kini semakin pendek dibanding dua dekade lalu. Menurut penelitiannya, perpindahan perhatian terjadi jauh lebih cepat akibat paparan digital yang terus-menerus.

 

Kondisi ini membuat forum panjang terasa semakin berat. Banyak orang akhirnya mencari distraksi mikro seperti membuka chat, scrolling media sosial, atau bermain game singkat.

 

Namun, kebiasaan tersebut menciptakan masalah baru. Orang terlihat hadir, tetapi sebenarnya tidak benar-benar mendengarkan.

 

Dalam dunia kerja, fenomena ini dikenal sebagai “continuous partial attention”, yaitu kondisi ketika seseorang terus membagi fokus ke banyak sumber sekaligus tanpa pernah benar-benar penuh pada satu aktivitas.

 

 

Forum Formal Kini Harus Bersaing dengan Layar Ponsel

 

Banyak rapat formal masih berjalan dengan pola lama. Presentasi panjang, komunikasi satu arah, dan minim interaksi membuat peserta cepat kehilangan perhatian.

 

Data Microsoft Work Trend Index 2023 menunjukkan pekerja global menganggap rapat yang tidak efektif sebagai hambatan produktivitas terbesar. Sebanyak 68 persen responden merasa kesulitan mendapatkan waktu fokus tanpa gangguan selama jam kerja.

 

Ahli organizational behavior Steven Rogelberg dari University of North Carolina Charlotte juga menjelaskan bahwa rapat buruk dapat memicu kelelahan mental dan menurunkan kualitas kerja setelah rapat selesai. Ia menyebut fenomena itu sebagai “meeting hangover”. (hbr.org)

 

Artinya, masalahnya bukan hanya peserta yang kehilangan etika. Banyak forum juga gagal membangun keterlibatan yang sehat.

 

Tetapi ketika rapat menyangkut isu publik seperti stunting, perhatian tetap menjadi tanggung jawab moral. Data Survei Status Gizi Indonesia menunjukkan prevalensi stunting nasional masih berada di angka 19,8 persen pada 2024. Masalah ini berkaitan langsung dengan kualitas kesehatan, pendidikan, dan ekonomi generasi mendatang.

 

Karena itu, publik bereaksi keras ketika forum serius terlihat diperlakukan seperti ruang santai biasa.

 

 

Kehadiran Digital Membuat Batas Sopan Santun Kabur

 

Perubahan budaya digital membuat standar kesopanan ikut berubah. Banyak orang kini tidak lagi merasa bersalah membuka HP di tengah percakapan.

 

Padahal, dalam komunikasi sosial, perhatian adalah bentuk penghormatan paling dasar.

 

Sosiolog Erving Goffman sejak lama menjelaskan bahwa interaksi sosial dibangun melalui tanda-tanda kecil seperti kontak mata, respons tubuh, dan perhatian aktif. Ketika fokus berpindah ke layar, hubungan sosial otomatis melemah.

 

Fenomena ini terlihat jelas di kehidupan sehari-hari. Orang makan bersama sambil scrolling. Nongkrong sambil sibuk membalas chat. Bahkan rapat formal sering berubah menjadi ruang multitasking digital.

 

Karena itu, etika digital modern bukan berarti anti gadget. Yang dibutuhkan adalah kesadaran kapan layar harus menjadi prioritas, dan kapan manusia di depan kita lebih penting.

 

Pada akhirnya, etika bermain HP saat rapat bukan sekadar soal sopan atau tidak sopan. Ini tentang kemampuan manusia modern untuk benar-benar hadir di tengah dunia yang terus berebut perhatian.