Minggu, 24 May 2026 11:30 UTC

Ilustrasi: Laporan haji di layer TV. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Liputan musim haji pernah menjadi momen yang identik dengan televisi nasional. Banyak keluarga Indonesia dulu mengikuti kabar jamaah lewat siaran berita malam, tayangan dokumenter, atau laporan langsung menjelang waktu salat.
Kini situasinya berubah sangat cepat. Perjalanan haji tidak lagi hanya dinikmati lewat televisi, tetapi juga melalui TikTok, Instagram, YouTube, hingga live streaming harian dari Tanah Suci.
Perubahan ini membuat pengalaman mengikuti haji terasa jauh lebih personal dan dekat, terutama bagi generasi muda yang tumbuh bersama media digital.
Indonesia sendiri memiliki jumlah jamaah haji terbesar di dunia. Pada musim Haji 1447 H atau 2026, kuota jamaah Indonesia mencapai 221 ribu orang. (Kementerian Agama RI)
Di saat bersamaan, penetrasi internet nasional juga terus meningkat. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat jumlah pengguna internet Indonesia pada 2025 mencapai 229,4 juta orang atau sekitar 80,66 persen populasi nasional. (APJII)
Kondisi ini ikut mengubah budaya masyarakat dalam mengikuti perjalanan ibadah haji.
Dulu Menunggu Siaran TV, Sekarang Semua Serba Real-Time
Pada era televisi, masyarakat biasanya hanya mendapat informasi haji pada jam tertentu. Liputan datang lewat berita malam atau program khusus religi.
Visual yang muncul pun terbatas. Publik hanya melihat potongan suasana thawaf, keberangkatan jamaah, atau laporan singkat dari reporter televisi.
Sekarang situasinya berbeda total. Media sosial memungkinkan masyarakat mengikuti perjalanan jamaah hampir tanpa jeda waktu. Video suasana Masjidil Haram, perjalanan bus jamaah Indonesia, hingga kondisi cuaca di Arafah bisa muncul langsung di timeline dalam hitungan menit.
Platform seperti TikTok dan Instagram membuat liputan haji terasa lebih spontan dan natural. Banyak orang kini merasa lebih dekat dengan suasana Tanah Suci karena kontennya hadir secara real-time dan tidak terlalu formal.
Generasi Muda Lebih Suka Konten yang Personal
Perubahan platform juga mengubah gaya penyampaian informasi haji. Generasi muda cenderung lebih tertarik pada cerita personal dibanding laporan resmi yang terlalu kaku. Karena itu, vlog jamaah, video candid, dan cerita keseharian di Tanah Suci sering mendapat perhatian besar.
Konten sederhana seperti jamaah Indonesia mencari makanan, berjalan kaki menuju masjid, atau berbincang dengan sesama jamaah justru terasa lebih relatable.
Fenomena ini sejalan dengan perubahan perilaku konsumsi media digital masyarakat Indonesia.
Data We Are Social dan DataReportal 2025 menunjukkan masyarakat Indonesia menghabiskan rata-rata lebih dari 3 jam per hari khusus untuk media sosial. Video pendek menjadi format konten paling banyak dikonsumsi.
Karena itu, konten haji dengan pendekatan visual dan emosional jauh lebih mudah menjangkau audiens muda.
Mereka tidak hanya ingin tahu informasi teknis ibadah, tetapi juga ingin merasakan pengalaman manusia di balik perjalanan tersebut.
Media Sosial Membuat Haji Terasa Lebih Dekat
Dulu banyak orang menganggap ibadah haji sebagai sesuatu yang terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Selain faktor biaya dan antrean panjang, informasi tentang haji juga lebih sering tampil formal dan eksklusif.
Kini media sosial perlahan mengubah persepsi itu. Banyak kreator dan media digital mulai menampilkan sisi keseharian jamaah secara lebih santai dan autentik. Hal ini membuat perjalanan haji terasa lebih mudah dipahami masyarakat luas.
Orang bisa melihat bagaimana jamaah menghadapi cuaca panas, menjaga kesehatan, hingga saling membantu selama ibadah berlangsung.
Kedekatan visual seperti ini memunculkan koneksi emosional yang lebih kuat dibanding format liputan televisi konvensional.
Tidak sedikit anak muda yang akhirnya mulai tertarik mempelajari ibadah haji karena sering melihat kontennya muncul di media sosial.
Perubahan Cara Mengikuti Haji Akan Terus Berkembang
Transformasi digital kemungkinan akan membuat pengalaman mengikuti musim haji semakin interaktif di masa depan.
Live streaming, video vertikal, hingga laporan real-time kini sudah menjadi bagian penting dari konsumsi informasi masyarakat modern.
Namun, di balik semua perubahan teknologi tersebut, ada satu hal yang tetap sama. Publik Indonesia masih sangat tertarik pada cerita manusia di balik perjalanan haji.
Tangisan jamaah, perjuangan keluarga, dan suasana spiritual di Tanah Suci tetap menjadi bagian yang paling menyentuh perhatian masyarakat.
Perubahan dari televisi ke media sosial akhirnya bukan hanya soal teknologi, tetapi juga perubahan cara orang merasakan kedekatan emosional terhadap ibadah haji.
Musim Haji 1447 H memperlihatkan bahwa perjalanan spiritual kini tidak lagi terasa jauh dan formal. Lewat layar ponsel, masyarakat bisa mengikuti cerita jamaah secara lebih hangat, spontan, dan manusiawi setiap hari.
