Logo

Cara Mengurangi Barang yang Jarang Digunakan

Ruang yang lebih lega sering dimulai dari keputusan kecil untuk melepas hal yang sudah tidak lagi dibutuhkan.
Reporter:,Editor:

Sabtu, 13 June 2026 04:30 UTC

Cara Mengurangi Barang yang Jarang Digunakan

Ilustrasi: Saatnya berbenah. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Barang yang jarang digunakan sering hadir tanpa disadari. Awalnya hanya satu atau dua benda yang dibeli karena promo, kebutuhan sesaat, atau sekadar mengikuti tren. Namun setelah beberapa tahun, jumlahnya bisa memenuhi lemari, rak, hingga sudut ruangan.

 

Fenomena ini tidak hanya terjadi pada rumah besar. Penghuni kos, apartemen studio, hingga keluarga muda di kawasan perkotaan seperti Surabaya juga menghadapi tantangan yang sama. Ruang terasa semakin sempit bukan karena ukuran bangunan berubah, melainkan karena jumlah barang terus bertambah.

 

Di tengah meningkatnya kesadaran terhadap gaya hidup minimalis, semakin banyak orang mulai mencari cara untuk mengurangi barang yang sebenarnya sudah lama tidak digunakan.

 

 

Mengapa Barang Tidak Terpakai Terus Menumpuk

 

Banyak orang menyimpan barang bukan karena masih dibutuhkan, tetapi karena alasan emosional. Ada yang merasa sayang membuang barang yang masih layak pakai. Ada pula yang berpikir suatu saat benda tersebut mungkin akan berguna kembali.

 

Padahal kenyataannya, sebagian barang tidak pernah lagi digunakan setelah berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun disimpan.

 

Perkembangan belanja digital juga ikut berperan. Kemudahan transaksi membuat keputusan membeli sering berlangsung lebih cepat dibanding proses mempertimbangkan manfaat jangka panjangnya.

 

Akibatnya, rumah perlahan berubah menjadi tempat penyimpanan barang yang fungsinya semakin jarang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

 

 

Dampaknya Tidak Hanya pada Ruang

 

Tumpukan barang sering dianggap sekadar persoalan kerapian. Padahal dampaknya jauh lebih luas. Ketika lemari penuh oleh barang yang tidak digunakan, seseorang cenderung kesulitan menemukan benda yang benar-benar dibutuhkan. Waktu terbuang untuk mencari, mengatur ulang, atau membersihkan area penyimpanan yang semakin sesak.

 

Dari sisi lingkungan, pola konsumsi berlebihan juga berkontribusi terhadap meningkatnya volume sampah nasional. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup mencatat timbulan sampah Indonesia mencapai sekitar 33,79 juta ton sepanjang 2024. Sekitar 50,8 persen di antaranya berasal dari sektor rumah tangga.

 

Angka tersebut menunjukkan bahwa keputusan konsumsi di tingkat rumah tangga memiliki pengaruh besar terhadap jumlah sampah yang dihasilkan setiap tahun. 

 

Karena itu, mengurangi barang yang tidak lagi digunakan bukan hanya soal estetika ruangan, tetapi juga bagian dari kebiasaan konsumsi yang lebih bertanggung jawab.

 

 

Mulai dari Barang yang Paling Mudah Dievaluasi

Salah satu kesalahan yang sering terjadi saat berbenah adalah mencoba mengosongkan seluruh rumah dalam satu hari. Pendekatan seperti ini biasanya membuat proses terasa melelahkan dan sulit dipertahankan.

 

Langkah yang lebih realistis adalah memulai dari kategori sederhana. Misalnya pakaian yang tidak dipakai selama satu tahun terakhir, perlengkapan dapur yang jarang disentuh, atau barang promosi yang hanya memenuhi laci.

 

Metode ini membantu seseorang mengambil keputusan secara bertahap tanpa merasa kehilangan terlalu banyak sekaligus.

Bagi penghuni kos atau apartemen kecil, strategi tersebut juga lebih mudah diterapkan karena area yang ditata tidak terlalu luas.

 

 

Terapkan Aturan Fungsi dan Frekuensi

 

Salah satu prinsip paling sederhana dalam gaya hidup minimalis adalah menilai barang berdasarkan fungsi dan frekuensi penggunaan.

 

Jika sebuah benda masih digunakan secara rutin, tentu layak dipertahankan. Namun jika keberadaannya hanya memenuhi ruang tanpa manfaat yang jelas, saatnya mempertimbangkan opsi lain.

 

Barang yang masih layak pakai dapat dijual kembali, disumbangkan, atau diberikan kepada orang yang membutuhkan. Pendekatan ini memberikan dua manfaat sekaligus. Ruang menjadi lebih lega dan barang tetap memiliki nilai guna bagi orang lain.

 

Selain itu, kebiasaan mengevaluasi kepemilikan secara berkala membantu mencegah penumpukan baru di masa depan.

 

 

Menata Ulang Pola Konsumsi Setelah Berbenah

 

Mengurangi barang sebenarnya hanya tahap awal. Tantangan berikutnya adalah menjaga agar ruangan tidak kembali penuh dalam beberapa bulan ke depan.

 

Karena itu, proses decluttering idealnya diikuti dengan perubahan kebiasaan membeli. Sebelum membeli barang baru, cobalah memberi jeda beberapa hari untuk menilai apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau hanya menarik secara sesaat.

 

Pendekatan sederhana ini sering kali mampu mengurangi pembelian impulsif yang menjadi penyebab utama penumpukan barang.

Menariknya, banyak orang justru merasa lebih nyaman setelah jumlah barang berkurang. Ruangan lebih mudah dibersihkan, waktu mencari barang lebih singkat, dan pengeluaran menjadi lebih terkontrol.

 

Pada akhirnya, mengurangi barang yang jarang digunakan bukan tentang hidup serba minim. Tujuannya adalah menciptakan ruang yang lebih fungsional dan nyaman untuk aktivitas sehari-hari.

 

Dalam jangka panjang, kebiasaan ini membantu membangun hubungan yang lebih sehat dengan barang yang kita miliki sekaligus mendukung gaya hidup minimalis yang lebih berkelanjutan.