Logo

Biasanya 3 Jam Lebih, Pergantian Kapal di TPK Berlian Kini Cuma 29 Menit

Catatan dalam uji coba zona EAZI
Reporter:,Editor:

Senin, 31 August 2026 14:25 UTC

Biasanya 3 Jam Lebih, Pergantian Kapal di TPK Berlian Kini Cuma 29 Menit

Terminal Teluk Lamong mulai menerapkan Zona EAZI guna memangkas waktu bongkar muat kapal, Senin, 31 Agustus 2026. Foto: Humas Terminal Teluk Lamong

JATIMNET.COM, Surabaya – Waktu pergantian kapal di Terminal Petikemas Berlian (TPK Berlian), Surabaya, yang biasanya membutuhkan lebih dari tiga jam berhasil ditekan menjadi 29 menit dalam uji coba penerapan Zona EAZI (Easy Access Zone Integration).

Catatan tersebut muncul dalam uji coba yang dilakukan PT Terminal Teluk Lamong (TTL) bersama Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Utama Tanjung Perak sejak 4 Agustus 2026.

Uji coba perdana dilakukan saat KM Icon Filipi IV 89 menggantikan posisi KM Mitra Kendari. Proses pergantian berlangsung pukul 19.38 hingga 20.07 WIB, dihitung sejak last line KM Mitra Kendari hingga first line KM Icon Filipi IV 89.

Hasil 29 menit itu terpaut jauh dari waktu pergantian kapal sebelum uji coba. Data April-Juni 2026 mencatat rata-rata waktu Ship to Ship (STS) mencapai 209 menit atau sekitar 3,48 jam.

Secara bulanan, rata-rata waktu pergantian kapal tercatat 3,88 jam pada April, turun menjadi 3,10 jam pada Mei, lalu kembali menjadi 3,45 jam pada Juni.

Terminal Head TPK Berlian Burhanudin mengatakan capaian dalam uji coba tersebut menunjukkan perubahan pola pelayanan dapat berdampak langsung terhadap waktu operasional kapal.

“Capaian 29 menit ini menunjukkan bahwa optimalisasi zona EAZI dan koordinasi antarpihak dapat memberikan dampak nyata terhadap efisiensi waktu pelayanan kapal,” ujar Burhanudin, Senin, 31 Agustus 2026.

Menurutnya, pemangkasan waktu tersebut tidak hanya berdampak pada kecepatan pergantian kapal, tetapi juga memberi ruang untuk meningkatkan utilisasi terminal.

“Keberhasilan ini menjadi salah satu langkah dalam meningkatkan fleksibilitas pelayanan kapal sekaligus mengoptimalkan utilisasi terminal,” katanya.

Meski hasil uji coba menunjukkan penurunan waktu yang signifikan, penerapan Zona EAZI masih akan dikembangkan. Pola serupa direncanakan diterapkan untuk mendukung pelayanan pergantian kapal pada Lintas Brantas-Hijau Sejuk serta Ayer Mas-Intan Data.

Burhanudin mengatakan pengembangan tersebut akan menjadi bagian dari evaluasi untuk melihat sejauh mana pola pelayanan yang diuji dapat diterapkan pada pergerakan kapal lainnya.

“Ke depan, pola pelayanan seperti ini diharapkan dapat terus dikembangkan melalui sinergi dan koordinasi yang semakin baik, sehingga waktu tunggu kapal dapat ditekan dan pelayanan kapal lebih optimal,” ujarnya.

Penerapan Zona EAZI melibatkan koordinasi antara operator terminal, KSOP, dan pemangku kepentingan terkait. Efisiensi waktu pergantian kapal menjadi salah satu catatan utama dari uji coba yang berlangsung selama sekitar satu bulan tersebut.

“Optimalisasi Zona EAZI diharapkan dapat terus memberikan manfaat terhadap peningkatan utilisasi terminal dan percepatan pergerakan kapal,” kata Burhanudin.

Hasil uji coba ini selanjutnya menjadi bahan pengembangan pemanfaatan Zona EAZI di kawasan Pelabuhan Tanjung Perak, terutama untuk mendukung kelancaran pergerakan kapal dan aktivitas logistik.