Logo

Batik in Motion 2026 Gebrak Regenerasi, 2.705 Penari di Probolinggo Ukir Rekor MURI

Reporter:,Editor:

Jumat, 04 September 2026 23:00 UTC

Batik in Motion 2026 Gebrak Regenerasi, 2.705 Penari di Probolinggo Ukir Rekor MURI

Sejumlah penari saat tampil sembari Mengenakan batik secara massal. Foto: Zulafif.

JATIMNET.COM, Probolinggo – Batik in Motion 2026 yang digelar di Kota Probolinggo menggebrak regenerasi muda untuk ikut serta mengenalkan beragam karya batik.

Gelaran yang memasuki tahun kedua penyelenggaraan ini tidak hanya menghadirkan batik dalam balutan fashion, tetapi juga menjadi ruang regenerasi sekaligus penggerak ekonomi kreatif di Kota Probolinggo.

Kegiatan yang digelar di depan Kantor Pemerintah Kota Probolinggo, Jalan Panglima Sudirman, tersebut memadukan batik, fashion, seni, budaya, serta ekonomi kreatif.

Generasi muda, khususnya pelajar, turut dilibatkan melalui kompetisi dan kreasi desain busana berbahan batik dalam kegiatan yang berlangsung pada Jumat sore, 4 September 2026.

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Probolinggo, dr Evariani Aminuddin, mengatakan pelibatan generasi muda menjadi bagian penting untuk menjaga keberlangsungan batik di masa mendatang.

Menurut Evariani, saat ini masih terdapat kesenjangan antara generasi pembatik senior dengan generasi muda. Karena itu, Batik in Motion diarahkan menjadi wadah untuk memperkenalkan batik sejak usia sekolah.

“Harapannya batik ini bisa dikenal di seluruh lapisan masyarakat. Makanya mulai dari anak-anak, dari tingkat SD sampai SMA, bagaimana mereka mengetahui desain kostum dan fashion,” ujarnya.

Ia menjelaskan, regenerasi menjadi tantangan penting karena sebagian pelaku batik saat ini didominasi generasi senior.

Kondisi tersebut perlu segera dijembatani dengan memberikan ruang kepada anak muda untuk berkreasi dan mengenal batik melalui pendekatan yang lebih kreatif.

“Kita melihat pembatik yang senior sudah banyak, tetapi gap-nya terlalu jauh dan belum ada regenerasi. Dengan adanya batik futuristik ini, kita ingin anak-anak muda ikut bergerak dan mengenal batik dengan cara mereka,” jelasnya.

Tak hanya mengedepankan batik sebagai produk fashion, Batik in Motion 2026 juga diarahkan menjadi bagian dari ekosistem ekonomi kreatif.

Digitalisasi, perhotelan, restoran, seni, budaya, UMKM hingga komunitas didorong untuk ikut bergerak dalam kegiatan tersebut.

Evariani mengatakan, keterlibatan berbagai sektor diharapkan dapat menggerakkan sanggar seni sekaligus mengangkat potensi khas Kota Probolinggo.

“Dengan digitalisasi, hotel, restoran dan semuanya bergerak, termasuk seni dan budaya. Kita menggerakkan sanggar-sanggar seni yang ada di Kota Probolinggo supaya semuanya ter-cover,” katanya.

Kolaborasi antardaerah juga menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan Batik in Motion 2026. Dekranasda Kota Probolinggo menggandeng Dekranasda dari sejumlah daerah di Jawa Timur untuk memperluas jejaring sekaligus memperkaya inovasi.

“Harapannya Batik in Motion ini menjadi laboratorium di Kota Probolinggo, menjadi contoh bahwa dengan ekonomi kreatif yang bergerak, setiap daerah itu bisa memberikan dampak,” ungkap Evariani.

Menurutnya, semakin luas penggunaan batik, semakin besar pula kebutuhan terhadap berbagai sektor pendukung. Hal tersebut diharapkan menciptakan perputaran ekonomi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Semakin banyak penggunaan batik, semakin banyak kebutuhan lain yang men-support sistem ini, mulai dari UMKM, bazar dan sebagainya,” imbuhnya.

Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) saat memberikan penghargaan kepada Ketua Dekranasda Kota Probolinggo. Foto: Zulafif.

 

2.705 Penari Ukir Rekor MURI

Rangkaian Batik in Motion 2026 kemudian berlanjut dengan pertunjukan seni budaya di venue utama peringatan Hari Jadi ke-667 Kota Probolinggo.

Sebanyak 2.705 penari tampil secara bersama-sama dan berhasil mencatatkan rekor dunia dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).

Piagam penghargaan atas pencapaian tersebut diserahkan langsung dalam rangkaian acara kepada Ketua Dekranasda Kota Probolinggo, dr Evariani Aminuddin.

Pencapaian tersebut menjadi bagian dari upaya membawa batik Probolinggo tidak hanya dikenal di tingkat lokal, tetapi juga mampu bersaing di tingkat nasional hingga internasional.

Evariani mengatakan, capaian nasional menjadi tahapan penting untuk membawa batik Probolinggo menuju panggung yang lebih luas.

“Kenapa kita mulai mengarah ke MURI? Karena kalau tidak dikenal secara nasional, apalagi oleh dunia, kita tidak akan pernah naik kelas,” pungkasnya.

Ia berharap Batik in Motion tidak berhenti sebagai pertunjukan fashion dan budaya semata. Kegiatan tersebut ditargetkan menjadi ekosistem yang mempertemukan generasi muda, pembatik, desainer, pelaku UMKM, seniman, komunitas, hingga sektor pariwisata.

“Syukur nanti bisa menjadi penggerak Dekranasda secara nasional, untuk mereplikasi kegiatan Batik in Motion di seluruh Indonesia. Dengan demikian, Batik Probolinggo yang mewakili Jawa Timur bisa mendunia,” tegas Evariani.

Wali Kota Probolinggo saat foto bersama dengan ribuan penari batik. Foto: Zulafif

 

Bidik Kharisma Event Nusantara

Senada, Wali Kota Probolinggo, dr Aminuddin, berharap Batik in Motion dapat terus berkembang dan semakin dikenal di tingkat nasional maupun internasional.

Menurutnya, keberlanjutan kegiatan tersebut penting untuk memperkuat promosi batik, budaya, pariwisata, UMKM dan ekonomi kreatif Kota Probolinggo.

“Semoga gelaran yang ke-3 nanti bisa masuk di Kharisma Event Nusantara,” ungkap Aminuddin.

Dengan capaian rekor MURI dan keterlibatan generasi muda, Batik in Motion 2026 diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat identitas batik Probolinggo sekaligus membuka ruang kolaborasi baru bagi pelaku ekonomi kreatif.

Lebih dari sekadar peragaan busana, kegiatan ini menjadi gerakan untuk mempertemukan tradisi dengan kreativitas generasi baru, sekaligus mendorong batik Probolinggo naik kelas dan semakin dikenal di panggung nasional hingga internasional. (adv/inforial)