JATIMNET.COM, Surabaya – Sejak dua tahun terakhir, aksi bela-bela terus bermunculan. Bermula dari aksi bela Islam berjilid-jilid, lalu muncul bela ulama, sampai bela tauhid. Bela NKRI, bela negara, bela pancasila juga ada.

Bela, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bermakna menjaga baik-baik, memelihara, merawat (1); serta melepaskan dari bahaya, menolong (2). Ketika Anda membela itu berarti Anda sedang melindungi obyek yang kondisinya terancam.

Pembelaan adalah sebuah solidaritas. Sifat itu muncul karena manusia adalah makhluk sosial yang mampu berempati sekaligus bersimpati. Terlebih agama, ulama, tauhid, negara, dan Pancasila adalah instrumen untuk menempatkan manusia secara manusiawi.  Maka, pada dasarnya membela agama, ulama, tauhid, Pancasila, dan negara adalah membela nilai kemanusiaan.

Senin  29 Oktober 2018 lalu, Tuti Tursilawati, seorang pekerja migran asal Majalengka Jawa Barat dieksekusi mati di Arab Saudi karena didakwa membunuh ayah majikannya. Pembunuhan itu dilakukan sebagai akumulasi kemarahan karena pelecehan yang dialaminya.

Tuti, sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah jadi korban pelecehan, ia dihukum mati. Sangat tidak manusiawi.  Tapi tak ada aksi bela Tuti.