Kamis, 13 August 2026 08:00 UTC

Ilustrasi: Kreasi Digital Merdeka. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - AI generatif mulai masuk ke ruang kreatif yang beberapa tahun lalu identik dengan pekerjaan manual. Poster kegiatan, konsep dekorasi, ilustrasi, teks pengumuman, hingga ide konten kini dapat disiapkan lebih cepat dengan bantuan kecerdasan buatan.
Menjelang 17 Agustus, penggunaannya terasa dekat dengan kebutuhan sehari-hari. Panitia lingkungan bisa mencari konsep poster. UMKM dapat menyusun gagasan visual promosi. Kreator konten mempunyai alat tambahan untuk mengeksplorasi suasana kemerdekaan.
Namun, ada jarak cukup lebar antara menggunakan AI untuk membantu berkarya dan menyerahkan seluruh kreativitas kepada mesin.
Indonesia sendiri sedang berada dalam fase adopsi digital yang besar. Survei APJII 2024 memperkirakan jumlah pengguna internet mencapai 221,56 juta orang atau sekitar 79,5 persen populasi. BPS, dengan metodologi berbeda, mencatat 72,78 persen penduduk telah mengakses internet pada tahun yang sama.
Di kota seperti Surabaya, penggunaan teknologi itu bertemu dengan aktivitas Agustusan yang sangat fisik: warga mengecat gapura, rapat panitia, memasang bendera, menyiapkan panggung, dan merancang lomba.
AI bisa membantu bagian digitalnya. Suasana manusianya tetap berasal dari lingkungan tersebut.
Mulai dari Pekerjaan Kecil yang Memakan Waktu
Bayangkan panitia RT sedang menyiapkan poster lomba. Informasi dasarnya sederhana: tanggal, lokasi, daftar kegiatan, waktu pendaftaran, dan kontak panitia.
Masalah biasanya muncul ketika seseorang harus menentukan judul, susunan informasi, kombinasi warna, atau kalimat ajakan.
AI generatif dapat dipakai untuk menghasilkan beberapa konsep awal.
Panitia kemudian memilih gagasan yang paling cocok, memperbaiki teks, memasukkan informasi sebenarnya, dan menyesuaikan visual dengan karakter lingkungan.
Proses tersebut lebih masuk akal dibanding menerima keluaran AI mentah lalu langsung mengunggahnya. Pendekatan serupa berlaku untuk konten media sosial.
Satu dokumentasi kerja bakti di Surabaya, misalnya, dapat dikembangkan menjadi beberapa materi. AI bisa membantu merangkum keterangan kegiatan, mencari alternatif caption, atau menyusun kerangka video pendek. Manusia tetap perlu membaca hasil akhirnya.
Kesalahan kecil seperti nama kampung, tanggal kegiatan, ejaan nama orang, atau alamat bisa menjadi persoalan ketika konten sudah tersebar melalui grup percakapan dan media sosial.
Kecepatan AI berguna. Pemeriksaan manusia jauh lebih penting.
Pengguna Indonesia Sudah Akrab dengan AI. Pemanfaatan kecerdasan buatan bukan lagi pembicaraan yang terbatas pada perusahaan teknologi.
Microsoft dan LinkedIn dalam Work Trend Index 2024 melaporkan 92 persen knowledge workers di Indonesia telah menggunakan AI generatif dalam pekerjaan. Angka tersebut berada di atas rata-rata global yang tercatat 75 persen.
Survei itu berfokus pada pekerja berpengetahuan dan tidak dapat dibaca sebagai persentase seluruh pekerja Indonesia. Meski begitu, temuannya memperlihatkan bahwa AI generatif telah masuk ke aktivitas profesional dengan cukup cepat.
Kebutuhan kreatif menjadi salah satu pintu masuk yang mudah dipahami. Orang tidak harus membuat sistem AI sendiri untuk memanfaatkannya.
Mereka bisa meminta alternatif tulisan, membuat konsep visual, merangkum dokumen, atau mengembangkan beberapa gagasan dari satu instruksi.
Dalam konteks perayaan kemerdekaan, peluangnya bahkan cukup luas. Panitia dapat membuat rancangan sertifikat lomba. Karang taruna bisa mencari konsep dekorasi panggung.
Pengelola UMKM dapat mengembangkan kemasan edisi Agustus. Kreator digital dapat mencari sudut cerita tentang lingkungan tempat tinggalnya.
AI bekerja paling baik sebagai meja penuh sketsa: banyak pilihan tersedia, tetapi seseorang masih harus menentukan mana yang layak dipakai.
Surabaya Tak Perlu Dibuat seperti Kota Fiksi
Masalah mulai terlihat ketika AI digunakan untuk menciptakan gambar. Perintah seperti “buat suasana 17 Agustus di Surabaya” dapat menghasilkan kota yang terlihat meyakinkan sekilas, tetapi detailnya belum tentu benar.
Bentuk bangunan bisa berubah, tulisan pada papan jalan kacau, atribut sejarah keliru, bahkan landmark dapat ditempatkan dalam lingkungan yang tidak sesuai.
Untuk konten dekoratif, tingkat kebebasan visual mungkin lebih besar. Untuk konten yang mengaku menggambarkan tempat, peristiwa, atau sejarah nyata, standarnya berbeda.
Jika ingin membuat ilustrasi suasana Surabaya, instruksi kepada AI sebaiknya lebih spesifik. Tentukan apakah latarnya kampung, ruang publik, jalan perkotaan, atau lingkungan usaha. Jelaskan pula waktu, jenis aktivitas, pakaian, pencahayaan, serta karakter visual yang diinginkan.
Ada pilihan yang lebih menarik: gabungkan referensi kehidupan nyata. Warna cat gapura di lingkungan sendiri, bentuk rumah, pohon di tepi jalan, meja tempat warga berkumpul, atau suasana panas khas kota dapat menjadi inspirasi visual.
Hasilnya tidak terasa seperti gambar kemerdekaan generik yang bisa ditempelkan pada kota mana saja. Konteks lokal sulit digantikan hanya dengan menambahkan kata “Surabaya” ke dalam prompt.
Wajah Pahlawan Bukan Bahan Eksperimen Sembarangan
Agustus membawa banyak materi sejarah ke media sosial. Foto tokoh kemerdekaan, dokumentasi lama, pidato, dan peristiwa bersejarah kembali beredar.
AI generatif membuat materi semacam itu dapat dimodifikasi dengan sangat mudah. Foto lama bisa diberi warna. Wajah dapat dibuat bergerak. Suara seseorang dapat ditiru. Adegan sejarah bahkan bisa diciptakan ulang seolah-olah merupakan dokumentasi asli.
Kemampuan tersebut menarik secara teknis, tetapi berisiko mengaburkan batas antara arsip dan rekonstruksi. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi juga relevan ketika teknologi memproses informasi yang berkaitan dengan individu yang masih hidup.
Selain itu, persoalan hak cipta tetap perlu diperhatikan ketika pengguna memasukkan foto, ilustrasi, musik, atau karya milik pihak lain ke dalam proses kreatif.
Untuk materi sejarah, prinsip editorial yang sederhana sangat membantu: beri keterangan ketika visual merupakan hasil rekonstruksi atau dibuat dengan AI.
Jangan membuat gambar sintetis terlihat seperti foto arsip autentik. Kesalahan sejarah yang terlihat kecil juga layak diperiksa. Bentuk bendera, seragam, lokasi, tanggal, nama tokoh, hingga tulisan pada bangunan dapat mengubah pemahaman pembaca.
AI mampu menghasilkan gambar dengan cepat. Ia tidak otomatis menjadi kurator sejarah.
Prompt yang Baik Berangkat dari Detail Nyata
Membuat konten menggunakan AI sering dianggap sebagai soal menemukan kalimat perintah yang rumit. Padahal instruksi sederhana dengan detail konkret biasanya lebih berguna.
Untuk poster lomba 17 Agustus, misalnya, sebutkan siapa pembacanya, informasi yang wajib masuk, nuansa visual, ukuran media, dan bagian yang harus mudah dibaca.
Jika hasilnya terlalu ramai, minta AI mengurangi elemen. Jika bahasanya terdengar kaku, masukkan contoh gaya komunikasi warga yang biasa digunakan.
Hindari memberikan data pribadi yang tidak diperlukan seperti nomor identitas, dokumen internal, alamat lengkap individu, atau informasi sensitif lainnya hanya demi mendapatkan teks yang sebenarnya dapat dibuat tanpa data tersebut. Hasil pertama pun tidak harus dianggap final.
Generasi berikutnya dapat digunakan untuk memperbaiki komposisi, mengubah kalimat, atau mencari alternatif. Setelah itu, pekerjaan kembali ke manusia: memilih, menyunting, memeriksa, dan memastikan materi memang pantas diterbitkan.
Bagian terakhir tersebut sering menentukan kualitas sebenarnya.
Teknologi Baru, Dokumentasi Lama Tetap Berharga
Ada godaan untuk membuat seluruh materi Agustusan terlihat spektakuler karena AI memungkinkan hampir apa saja. Gapura bisa dibuat jauh lebih megah. Langit dapat berubah dramatis. Kerumunan dapat ditambah. Jalan biasa dapat disulap menjadi panorama sinematik.
Tidak semua perlu dilakukan.
Foto warga memasang umbul-umbul di bawah matahari Surabaya mungkin kalah dramatis dibanding gambar sintetis. Namun, foto itu menyimpan sesuatu yang tidak dapat dibuat ulang oleh generator gambar: peristiwa yang benar-benar terjadi pada waktu dan tempat tertentu.
AI lebih menarik ketika mengisi ruang yang memang membutuhkan kreativitas baru—poster, ilustrasi konseptual, rancangan dekorasi, permainan visual, atau eksplorasi desain.
Sementara dokumentasi tetap sebaiknya mempertahankan jejak kenyataan. Dengan pendekatan tersebut, AI generatif untuk merayakan kemerdekaan tidak harus menjadi pertunjukan teknologi. Ia cukup membantu pekerjaan menjadi lebih ringan dan memberi lebih banyak pilihan kreatif.
Di Surabaya, Agustus sudah membawa warna merah putih, keramaian kampung, panas siang hari, suara latihan lomba, dan orang-orang yang sibuk menyiapkan acara. Bahan ceritanya sebenarnya sudah lengkap. AI tinggal membantu mengolahnya tanpa mengambil alih cerita.
