Logo

Peneliti Sebut Tiga Nama Potensial Jadi Cawapres, Ada Nama  Erick Thohir dan Khofifah

Reporter:,Editor:

Rabu, 04 October 2023 13:24 UTC

Peneliti Sebut Tiga Nama Potensial Jadi Cawapres, Ada Nama  Erick Thohir dan Khofifah

no image available

JATIMNET.COM, Malang - Direktur Demostat Indonesia Fatlur Rhozi mengungkapkan Jawa Timur menjadi barometer untuk menentukan siapa yang menang dalam Pemilu 2024. Terdapat tiga nama yang dinilai punya kekuatan signifikan sehingga bisa mendulang suara.

Fatlur Rhozi dalam diskusi publik "Peta politik Pilpres 2024 di Jawa Timur" yang digelar di sebuah hotel wilayah Kota Malang, itu menyebut tiga nama itu antara lain Khofifah Indar Parawansa yang merupakan Gubernur Jawa Timur, Mahfud MD yang merupakan Menkopolhukam serta Erick Thohir yang merupakan Menteri BUMN sekaligus Ketua PSSI.

Menurut dia, nama Erick Thohir muncul dari hasil penelitian sebab Jawa Timur barometernya sepak bola sangat besar.  Sebagai Ketua PSSI, Erick Thohir mampu mengakomodasi atau menyatukan suporter yang saat ini sudah banyak damai. Ada juga perbaikan Stadion Kanjuruhan.

"Sehingga, memang yang paling potensial dari nama itu memiliki peluang yang sama. Tapi hari ini Erick Thohir paling unggul dan yang paling diminati karena dianggap tegas, jujur dan lainnya," katanya kepada wartawan, Rabu (4/10/2023).

Ia menambahkan, posisinya sebagai Ketua PSSI juga berpengaruh. Bahkan, di jajaran NU dan organisasi masyarakat, nama Erick Thohir menjadi orang yang masih diterima. Hal ini seperti terlihat saat momentum ketika Erick Thohir menjadi ketua steering komite pada saat 1 abad NU, dan dianggap sukses dan lancar oleh masyarakat.

Dirinya pun mengungkapkan, nama Erick Thohir digandeng dengan siapapun tetap unggul di antara nama calon Wakil Presiden potensial lainnya.

Ia pun mengakui, nama Erick Thohir juga tidak kalah populer dengan nama sosok calon Wakil Presiden Muhaimin Iskandar maupun dengan Khofifah Indar Parawansa. 

"Tapi kami tidak bicara tentang popularitas. Yang menentukan adalah bagaimana setelah dikenal, maka kita disukai atau tidak. Ketika disukai, maka apakah mereka akan memilih.  Erick Thohir paling atas. Elektabilitas dia paling unggul," tegas dia.

Dirinya pun mengatakan, kemampuan managerial seorang  Erick Thohir juga diakui sebagai Ketua PSSI. Jiak dahulu di PSSI ramai isu mafia bola dan lain sebagainya, saat ini ketika dijabat oleh yang bersangkutan justru masyarakat puas, dengan berbagai kompetisi tingkat dunia yang hadir di Indonesia. 

Sementara itu, tokoh muda NU yang juga dari PP Al Islahiyah Singosari Malang Ahsani Fathurohman mengatakan nama Erick Thohir dan Khofifah Indar Parawansa, memang cukup potensial. Ada juga nama Yenny Wahid serta Mahfud MD yang muncul dari survei. 

Namun, ia mengatakan dari hasil riset dan lembaga survei, nama  Erick Thohir masih menjadi peringkat pertama di lembaga survei.
 
Dirinya menyebut, dari tokoh-tokoh tersebut mengerucut menjadi dua nama besar yakni ada nama Erick Thohir dan Yenny Wahid. 

"Kenapa, Erick Thohir?, karena sudah jelas di PSSI juga sukses, BUMN kepemimpinannya sukses, dan lainnya. Kedua Yenny Wahid, karena tidak terlepas dari nama Gus Dur, kedua, beliau tumbuh dari kalangan Nahdliyin, cicit dari KH Hasyim Asy'ari dan memiliki track record yang banyak dan mewakili perempuan. Khofifah, sementara ini memang lebih fokus di Muslimat atau dari beberapa program lama sebelumnya," jelasnya. 

Menurut dua, nama Erick Thohir dan Yenny Wahid iutu juga mewakili milenial. Seperti pilihan anak muda yang cenderung berharap pemimpin muda, sehingga muncul dua nama itu.  

Pihaknya pun mengakui seorang tokoh tentu ada rekam jejak. Namun, nama Erick Thohir dinilai punya rekam jejak yang positif. 

"Yang menjadi pertimbangan, pemimpin visioner juga memiliki nilai managerial yang baik. Dari tahun ke tahun naik turun BUMN era pak Erick Thohir ini meningkat dari 78 persen ke 200 persen. Ini prestasi luar biasa. Di BUMN,
di PSSI. Walaupun tidak ada yang sempurna dengan prestasi itu, jadi nilai yang tidak bisa ditolak, karena fakta akan membuktikan di lapangan, sehebat apapun branding akan kalah dengan fakta di lapangan," pungkas Ahsani Fathurohman.