Selasa, 13 October 2026 00:00 UTC

Pasar Induk Banyuwangi menjadi jujugan anak muda untuk bersantai di malam hari setelah direvitalisasi oleh Kementerian Pekerjaan Umum, Senin, 12 Oktober 2026. Foto: Pemkab Banyuwangi.
JATIMNET.COM, Banyuwangi - Pemandangan kota dengan latar Pegunungan Ijen, bangunan bergaya arsitektur Osing, hingga jejak sejarah telekomunikasi dunia kini bisa dinikmati di kawasan Pasar Banyuwangi.
Sejak kembali beroperasi pada 1 Oktober 2026 setelah direvitalisasi Kementerian Pekerjaan Umum, pasar ini mulai menarik pengunjung yang datang bukan hanya untuk berbelanja.
Perubahan paling terasa ketika aktivitas perdagangan mulai mereda. Menjelang sore hingga malam, kawasan pasar menjadi tempat warga menikmati kuliner, duduk santai, atau sekadar mengabadikan suasana bangunan yang tampil berbeda setelah penataan.
Balkon di lantai dua menjadi salah satu titik yang menarik perhatian. Pada siang hingga sore, pengunjung bisa melihat Pegunungan Ijen di sisi barat. Ketika malam tiba, suasananya berganti dengan pemandangan lalu lintas dan gemerlap lampu kota.
Reta, warga Kelurahan Sobo, merasakan suasana berbeda saat menghabiskan waktu bersama suaminya, Senin malam, 12 Oktober 2026. Ia menikmati sajian ketan dan minuman hangat, sementara suaminya bersantai dengan kopi.
“Suasananya hangat dan dirancang begitu nyaman. Vibes-nya seperti berwisata di luar kota. Kita di sini menikmati sajian ketan dan minuman hangat, suami juga bisa santai ngopi,” tuturnya.
Daya tarik pasar yang telah direvitalisasi itu juga menyebar melalui media sosial. Neneng, pengunjung asal Surabaya, mengaku datang setelah melihat video Pasar Banyuwangi yang ramai dibagikan di internet.
“Awalnya tahu dari medsos karena tempatnya kelihatan sangat estetis. Setelah datang sendiri, ternyata memang asyik,” kata Neneng.
Di balik tampilan barunya, Pasar Banyuwangi tetap menyimpan jejak sejarah. Bentuk gerbang depan bangunan dipertahankan sebagai bagian dari karakter lama pasar.
Lokasinya juga berdekatan dengan Asrama Inggrisan, kompleks perkantoran telegraf yang pernah menjadi bagian dari jaringan komunikasi internasional.
Pada 1871, kabel telegraf bawah laut untuk pertama kalinya menghubungkan Eropa dan Australia, dengan Banyuwangi menjadi salah satu titik penghubungnya. Keberadaan bangunan bersejarah tersebut menambah dimensi lain bagi pengunjung yang ingin mengenal perjalanan Banyuwangi, selain menikmati kuliner dan suasana kota.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, penataan pasar diarahkan untuk mengakomodasi kegiatan perdagangan sekaligus membuka ruang interaksi sosial bagi masyarakat.
“Dengan tetap menghidupkan kegiatan perdagangan, pasar ini juga menjadi alternatif destinasi heritage yang memperkaya pengalaman warga maupun wisatawan saat berkunjung ke Banyuwangi,” kata Ipuk.
