Sabtu, 25 July 2026 00:00 UTC

Ilustrasi: Waktu untuk membaca. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Literasi membaca masih menjadi pekerjaan besar di Indonesia. Hasil PISA 2022 yang dirilis OECD menunjukkan skor kemampuan membaca siswa Indonesia berada di angka 359 poin, masih berada di bawah rata-rata OECD yang mencapai 476 poin.
Lebih jauh lagi, hanya 25 persen peserta didik Indonesia yang berhasil mencapai kompetensi membaca minimal (Level 2), sedangkan rata-rata negara OECD mencapai 74 persen.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa membangun kebiasaan membaca perlu dimulai dari aktivitas sederhana yang dilakukan setiap hari, termasuk sebelum tidur.
Di sisi lain, membaca sebelum tidur mulai kembali diminati. Fenomena ini terlihat dari semakin banyaknya komunitas baca, klub buku, hingga tantangan membaca tahunan yang berkembang di berbagai kota besar.
Banyak orang mulai menyadari bahwa beberapa menit membaca setiap malam terasa lebih menenangkan dibanding menghabiskan waktu dengan menggulir media sosial tanpa tujuan.
Kebiasaan ini tidak hanya berkaitan dengan jumlah buku yang selesai dibaca. Yang jauh lebih penting adalah membangun hubungan yang akrab dengan bacaan sehingga otak terbiasa mengolah informasi secara lebih mendalam.
Membaca Malam Hari Memberi Ruang bagi Otak untuk Beristirahat
Menjelang waktu tidur, ritme aktivitas umumnya mulai melambat. Gangguan pekerjaan berkurang, notifikasi mulai sepi, dan suasana rumah lebih tenang. Situasi seperti ini membuat perhatian lebih mudah tertuju pada isi bacaan.
Berbeda dengan video berdurasi pendek yang terus berganti, membaca mengajak otak mempertahankan fokus pada satu alur pemikiran. Aktivitas tersebut membantu pembaca mengikuti ide secara utuh, memahami hubungan antargagasan, lalu menyimpannya menjadi pengetahuan baru.
Tidak sedikit orang memilih membaca novel, buku pengembangan diri, sejarah, atau biografi sebelum tidur karena ritmenya terasa lebih santai. Bacaan tidak harus berat. Konsistensi jauh lebih berharga daripada memaksakan jumlah halaman.
Kebiasaan sederhana itu perlahan membentuk kemampuan memahami informasi secara lebih kritis. Kemampuan inilah yang menjadi salah satu fondasi literasi.
Tantangan Membaca Kini Bukan Lagi Sulit Mencari Buku
Jika satu dekade lalu akses buku menjadi tantangan utama, situasinya kini berubah. Buku tersedia dalam berbagai bentuk, mulai dari cetak, digital, hingga layanan perpustakaan elektronik.
Perubahan terbesar justru datang dari cara manusia mengelola perhatian. Waktu luang sering terpecah oleh notifikasi, video singkat, maupun percakapan digital yang berlangsung tanpa jeda.
Akibatnya, banyak orang merasa sulit mempertahankan konsentrasi saat membaca lebih dari beberapa halaman. Padahal kemampuan fokus berkembang melalui latihan yang dilakukan secara berulang.
Hasil PISA juga memperlihatkan bahwa kemampuan membaca tidak sekadar mengenali kata-kata. Pembaca dituntut mampu memahami makna, membandingkan informasi, serta menarik kesimpulan berdasarkan isi teks. Kompetensi seperti ini semakin dibutuhkan ketika arus informasi datang begitu cepat.
Lima Belas Menit Setiap Malam Sudah Menjadi Awal yang Baik
Banyak orang membayangkan membaca harus dilakukan berjam-jam. Anggapan tersebut sering membuat kebiasaan baru sulit dimulai.
Padahal menyediakan waktu sekitar 15 hingga 20 menit sebelum tidur sudah cukup untuk membangun rutinitas yang konsisten. Dalam satu bulan, durasi tersebut dapat menghasilkan beberapa jam waktu membaca tanpa terasa membebani aktivitas harian.
Pilihan buku juga berpengaruh terhadap keberlanjutan kebiasaan. Bacaan yang sesuai minat biasanya lebih mudah diselesaikan dibanding memaksakan judul yang sedang populer.
Sebagian pembaca bahkan menyiapkan satu buku di meja samping tempat tidur agar aktivitas membaca menjadi bagian alami dari rutinitas malam. Cara sederhana seperti ini membantu mengurangi godaan membuka ponsel sebelum memejamkan mata.
Kebiasaan Membaca Membentuk Cara Berpikir yang Lebih Matang
Membaca bukan sekadar menambah informasi. Aktivitas ini melatih seseorang melihat persoalan dari berbagai sudut pandang, memahami alasan di balik sebuah peristiwa, dan menyusun argumen secara lebih runtut.
Kemampuan tersebut dibutuhkan hampir di semua bidang kehidupan, mulai dari pendidikan, pekerjaan, hingga interaksi sosial sehari-hari.
Indonesia memang masih menghadapi tantangan besar dalam meningkatkan kemampuan literasi membaca. Meski begitu, perubahan tidak selalu harus dimulai melalui langkah yang besar. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten sering memberi dampak yang lebih bertahan lama.
Menyediakan waktu membaca sebelum tidur dapat menjadi salah satu investasi paling sederhana untuk memperkaya wawasan, memperkuat kemampuan berpikir kritis, sekaligus membangun budaya literasi yang tumbuh dari rumah.
