Logo

Kekeringan di Jember Tekan Hasil Panen Tembakau, Petani Berharap Bantuan Pompa Air

Reporter:,Editor:

Kamis, 22 October 2026 13:24 UTC

Kekeringan di Jember Tekan Hasil Panen Tembakau, Petani Berharap Bantuan Pompa Air

Warga di Dusun Kasengan, Desa Gumuksari, Kecamatan Kalisat, Jember, memandangi sumur di desanya yang tak lagi bisa menyediakan air bersih secara cukup, Kamis, 22 Oktober 2026. Foto: Fauzan Arif Satrio/Jatimnet.com

JATIMNET.COM, Jember – Kekeringan yang melanda Dusun Kasengan, Desa Gumuksari, Kecamatan Kalisat, Jember, Jawa Timur, berdampak pada produktivitas pertanian. Sejumlah petani mengalami penurunan hasil panen karena tanaman kekurangan air, sementara mereka harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mencari sumber pengairan.

Muhammad Ferdiansyah, salah seorang petani setempat, mengatakan tanaman tembakau, cabai, dan jagung miliknya tidak tumbuh optimal akibat minimnya pasokan air. Kondisi tersebut turut memengaruhi pendapatannya dari hasil panen tembakau tahun ini.

Dari sekitar 4.500 tanaman tembakau yang ditanam, Ferdi hanya memperoleh pendapatan sekitar Rp8 juta. Padahal, pada musim panen tahun sebelumnya, pendapatannya bisa melampaui Rp10 juta.

“Dampaknya ke tanaman jelas ada. Pertumbuhannya kurang bagus karena kekurangan air,” tuturnya, saat ditemui Jatimnet.com pada Kamis, 22 Oktober 2026.

BACA: Lima Bulan Kekeringan di Jember, Warga Terpaksa Mandi di Sungai dan Berburu Air ke Desa Sebelah 

Dampak serupa dialami Dedi Sumantono. Dari sekitar 3.000 bibit tembakau yang ditanam, ia memperoleh pendapatan sekitar Rp8 juta. Dalam kondisi normal, pendapatan dari tanaman tersebut diperkirakan bisa mencapai Rp25 juta.

Kekurangan air juga memengaruhi tanaman cabai milik Dedi. Dari sekitar 8.000 bibit yang ditanam, ia memperkirakan hanya sekitar 4.000 tanaman yang masih bertahan.

Untuk mengatasi keterbatasan pengairan, Dedi membeli tiga mesin pompa air menggunakan dana pribadi. Setiap mesin berharga sekitar Rp5 juta dan digunakan untuk menyedot air dari sungai yang lokasinya cukup jauh dari lahan pertanian.

Pengeluaran tersebut menjadi tambahan beban bagi petani yang sudah menghadapi penurunan hasil panen. Dedi berharap pemerintah membantu menyediakan mesin pompa atau penyedot air agar petani dapat memanfaatkan sumber air yang masih tersedia untuk mengairi lahan.

“Harapan saya cuma satu, minta bantuan mesin penyedot air supaya bisa membantu petani. Di sini sebenarnya ada air yang bisa disedot,” tegasnya.

BACA: Mahasiswa Unhan Diduga Terlibat Penganiayaan di Sekolah Rakyat Jember
 

Ketua RT 001/RW 006 Dusun Kasengan, Suhermanto, mengatakan keterbatasan air turut membuat sebagian petani mempertimbangkan untuk tidak kembali menanami sawah setelah panen. Ia berharap pemerintah menyiapkan solusi yang dapat mengatasi kekeringan berulang setiap musim kemarau.

“Tetangga saya ini, satu panen sudah enggak ditanami lagi sawahnya. Kami berharap ada solusi supaya warga dan petani tidak terus kesulitan air setiap musim kemarau,” pungkasnya.

Kekeringan yang berlangsung sekitar lima bulan di Dusun Kasengan juga memengaruhi kebutuhan dasar masyarakat. Sekitar 100 kepala keluarga (KK) di wilayah RT 001/RW 006 kesulitan memperoleh air bersih karena sumur mengering, sehingga warga harus mencari air ke sumber lain. BPBD Jember telah menyalurkan empat tandon berkapasitas sekitar 1.200 liter per unit, tetapi pasokan tersebut belum mencukupi kebutuhan warga.

Reporter: Fauzan Arif Satrio