Logo

Lima Bulan Kekeringan di Jember, Warga Terpaksa Mandi di Sungai dan Berburu Air ke Desa Sebelah

Bantuan datang 4 hari sekali, air sudah habis dalam 2 hari
Reporter:,Editor:

Kamis, 22 October 2026 12:31 UTC

Lima Bulan Kekeringan di Jember, Warga Terpaksa Mandi di Sungai dan Berburu Air ke Desa Sebelah

Warga di Dusun Kasengan, Desa Gumuksari, Kecamatan Kalisat, Jember, menggunakan air bersih bantuan BPBD yang mulai menipis. Foto: Fauzan Arif Satrio/Jatimnet.com

JATIMNET.COM, Jember – Sekitar 100 kepala keluarga (KK) di Dusun Kasengan, Desa Gumuksari, Kecamatan Kalisat, Jember, Jawa Timur, kesulitan mendapatkan air bersih akibat kekeringan yang berlangsung sekitar lima bulan. Sumur-sumur warga mengering, sehingga sebagian terpaksa mandi di sungai atau mencari air hingga ke desa tetangga.

Kondisi tersebut dialami warga RT 001/RW 006 Dusun Kasengan. Sumur dengan kedalaman sekitar tujuh hingga delapan meter tidak lagi menyediakan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Muhammad Ferdiansyah, 21, salah seorang warga yang bekerja sebagai petani, mengatakan kekeringan tahun ini lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hujan yang jarang turun membuat warga semakin kesulitan memperoleh air.

“Kalau tahun-tahun sebelumnya memang sering kekeringan, tetapi tidak selama sekarang. Kali ini sudah sekitar lima bulan tidak ada air di sumur,” ujar Ferdi saat ditemui pada Rabu sore, 21 Oktober 2026.

Untuk kebutuhan minum dan memasak, Ferdi meminta air dari sumur tetangga yang masih memiliki sedikit persediaan. Sementara itu, ia terkadang menggunakan air sungai untuk mandi dan mencuci.

“Kalau untuk minum dan memasak, saya biasanya meminta air dari sumur tetangga. Kalau untuk mandi dan mencuci, kadang mengambil dari sungai,” ungkapnya.

Namun, ketika sungai mulai mengering, warga harus mencari sumber air di wilayah lain. Kondisi tersebut membuat mereka tidak bisa sepenuhnya mengandalkan sumber air yang berada di sekitar tempat tinggal.

Ketua RT 001/RW 006 Dusun Kasengan, Suhermanto, mengatakan krisis air bersih telah berlangsung lebih dari lima bulan dan berdampak terhadap sekitar 100 KK di wilayahnya. Ia juga harus memanfaatkan air sungai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Saya sendiri kalau mandi ke sungai. Warga juga ada yang harus mencari air ke tempat lain,” sebut Suhermanto.

Menurut Suhermanto, warga telah melaporkan persoalan kekeringan melalui kanal aspirasi Wadul Gus’e agar mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten Jember. Pemerintah Desa Gumuksari kemudian melakukan survei lokasi sebelum Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember menyalurkan bantuan air bersih.

BPBD Jember memberikan empat tandon air dengan kapasitas sekitar 1.200 liter per unit. Bantuan tersebut membantu warga memperoleh pasokan air, tetapi jumlahnya belum cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh warga terdampak.

Pengiriman air dilakukan setiap empat hari sekali, sedangkan persediaan dalam tandon dapat habis dalam waktu sekitar dua hari. Akibatnya, warga kembali harus mencari sumber air alternatif sembari menunggu bantuan berikutnya.

“Air itu bukan hanya untuk minum dan masak, tetapi warga juga membutuhkan untuk mandi. Kalau habis dua hari, kami masih harus menunggu lagi sampai kiriman berikutnya,” lanjutnya.

Suhermanto berharap pemerintah menghadirkan solusi jangka panjang agar warga tidak terus mengalami kesulitan air setiap musim kemarau. Krisis tersebut juga berdampak pada mata pencaharian warga, terutama petani yang kesulitan mengairi lahan dan mengalami penurunan hasil panen akibat terbatasnya pasokan air. Reporter: Fauzan Arif Satrio