Kamis, 11 June 2026 05:00 UTC

Ilustrasi: Rutinitas menuju kampus. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Komuter kampus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari jutaan mahasiswa di Indonesia. Sebagian tinggal di kos dekat kampus, sementara lainnya harus berpindah dari rumah atau tempat tinggal menuju lokasi perkuliahan setiap hari.
Dalam praktiknya, biaya transportasi sering dianggap sebagai pengeluaran rutin yang tidak bisa dihindari. Padahal, cara seseorang mengatur mobilitas harian sangat menentukan besar kecilnya anggaran yang keluar setiap bulan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan terdapat 7,59 juta pekerja komuter di Indonesia pada Agustus 2024. Angka ini meningkat sekitar 210 ribu orang dibandingkan tahun sebelumnya. Meskipun data tersebut menggambarkan kelompok pekerja, fenomena mobilitas harian yang tinggi juga terlihat pada mahasiswa dan pelajar di berbagai kota pendidikan.
Karena itu, memahami kebiasaan komuter yang efisien bukan hanya soal menghemat ongkos perjalanan. Kebiasaan ini juga membantu mahasiswa mengelola waktu, energi, dan kondisi keuangan secara lebih baik.
Berangkat Sekali untuk Banyak Keperluan
Salah satu kebiasaan yang paling membantu mengurangi pengeluaran adalah menggabungkan beberapa aktivitas dalam satu perjalanan.
Banyak mahasiswa masih terbiasa bolak-balik antara kos dan kampus beberapa kali dalam sehari. Misalnya datang untuk kuliah pagi, pulang siang, lalu kembali lagi untuk rapat organisasi atau belajar kelompok.
Jika setiap perjalanan membutuhkan biaya transportasi tambahan, pengeluaran harian akan meningkat tanpa disadari.
Mahasiswa yang lebih efisien biasanya menyusun agenda harian sejak pagi. Setelah kuliah selesai, mereka langsung menyelesaikan urusan organisasi, perpustakaan, atau administrasi kampus sebelum pulang.
Kebiasaan sederhana ini mampu mengurangi frekuensi perjalanan sekaligus menghemat waktu yang biasanya habis di jalan.
Memanfaatkan Jalan Kaki untuk Jarak Pendek
Kebiasaan berikutnya yang sering diremehkan adalah berjalan kaki. Banyak mahasiswa menggunakan kendaraan bahkan untuk jarak yang sebenarnya masih dapat ditempuh dalam waktu 10 hingga 15 menit berjalan kaki.
Selain menghemat ongkos, berjalan kaki memberikan manfaat kesehatan yang sering tidak disadari. Aktivitas fisik ringan membantu menjaga kebugaran sekaligus mengurangi waktu duduk yang terlalu lama selama perkuliahan.
Di sejumlah kota pendidikan, kawasan kampus memang dirancang agar mahasiswa dapat berpindah antargedung atau menuju area kos dengan berjalan kaki secara nyaman.
Jika dilakukan secara konsisten, penghematan dari kebiasaan ini dapat terasa cukup signifikan dalam satu semester.
Memilih Moda Transportasi yang Biayanya Stabil
Banyak mahasiswa hanya fokus pada biaya perjalanan hari ini tanpa menghitung biaya jangka panjang. Padahal moda transportasi yang tampak murah belum tentu menjadi pilihan paling hemat dalam beberapa bulan ke depan.
BPS mencatat lebih dari 90 persen pekerja komuter Indonesia masih menggunakan kendaraan pribadi atau kendaraan perusahaan, sedangkan pengguna transportasi umum berada di kisaran 6 hingga 7 persen. Data ini menunjukkan kendaraan pribadi masih mendominasi pola mobilitas masyarakat.
Namun bagi mahasiswa, kendaraan pribadi juga membawa biaya tambahan seperti bahan bakar, parkir, servis, penggantian komponen, hingga risiko kerusakan.
Karena itu, sebagian mahasiswa mulai lebih selektif memilih moda transportasi sesuai kebutuhan. Untuk rute tertentu, transportasi umum atau berbagi kendaraan dengan teman sering kali menjadi pilihan yang lebih ekonomis.
Membuat Anggaran Transportasi Bulanan
Kebiasaan yang jarang dilakukan mahasiswa adalah mencatat biaya transportasi secara khusus. Padahal banyak orang hanya mengetahui total uang yang keluar setiap bulan tanpa memahami pengeluaran terbesar berasal dari mana.
Dengan mencatat ongkos perjalanan selama 30 hari, pola penggunaan transportasi akan terlihat lebih jelas. Dari catatan tersebut biasanya muncul kebiasaan yang ternyata menghabiskan biaya cukup besar.
Misalnya terlalu sering menggunakan transportasi daring untuk jarak pendek atau terlalu sering pulang ke kos di sela-sela jadwal kuliah.
Pencatatan sederhana membantu mahasiswa mengambil keputusan yang lebih rasional karena didasarkan pada data, bukan sekadar perkiraan.
Efisiensi Transportasi Adalah Bagian dari Literasi Finansial
Mahasiswa sering mengaitkan penghematan dengan mencari tambahan pemasukan. Padahal kemampuan mengendalikan pengeluaran memiliki dampak yang sama pentingnya.
Kebiasaan komuter kampus yang efisien pada dasarnya merupakan bentuk literasi finansial dalam kehidupan sehari-hari. Semakin baik seseorang mengelola mobilitasnya, semakin besar peluang mengalokasikan dana untuk kebutuhan yang lebih produktif.
Pengeluaran transportasi memang terlihat kecil ketika dihitung per perjalanan. Namun sifatnya yang rutin membuat biaya ini dapat menjadi salah satu komponen terbesar dalam anggaran bulanan mahasiswa.
Karena itu, kebiasaan seperti menggabungkan aktivitas dalam satu perjalanan, berjalan kaki untuk jarak dekat, memilih moda yang sesuai kebutuhan, dan mencatat biaya transportasi layak menjadi bagian dari rutinitas mahasiswa modern. Dalam jangka panjang, kebiasaan komuter kampus yang terencana tidak hanya membantu mengurangi pengeluaran, tetapi juga membentuk pola hidup yang lebih disiplin dan efisien.
