Sabtu, 03 October 2026 10:14 UTC

Salah satu upaya pemadaman yang dilakukan Damkar Jember akibat kelalaian membakar sampah. Foto: Istimewa/Dok Damkar Jember
JATIMNET.COM, Jember – Kebiasaan membakar sampah tanpa memastikan api dan bara benar-benar padam menjadi salah satu perhatian UPT Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Satpol PP Kabupaten Jember. Petugas mengingatkan masyarakat agar tidak meninggalkan lokasi pembakaran, terutama saat cuaca panas dan angin bertiup kencang.
Humas dan Call Center UPT Damkar dan Penyelamatan Satpol PP Kabupaten Jember, Slamet Sugiyanto, mengatakan kelalaian mengawasi api menjadi salah satu pola yang banyak ditemukan dalam penanganan kebakaran di Jember.
"Awalnya kebanyakan dari bakar sampah. Setelah membakar, orangnya kemudian pergi dan meninggalkan api. Karena sekarang cuacanya panas dan anginnya cukup kencang, api bisa semakin besar dan merembet," ujar Slamet saat dikonfirmasi di Jember, Sabtu, 3 Oktober 2026.
Catatan Damkar menunjukkan kewaspadaan tersebut semakin penting. Sepanjang September 2026, petugas mencatat 71 kejadian kebakaran, angka tertinggi dalam satu bulan sepanjang tahun ini.
Jumlah tersebut melonjak dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Damkar mencatat 10 kejadian pada Januari, sembilan pada Februari, 14 pada Maret, 13 pada April, 13 pada Mei, 21 pada Juni, 29 pada Juli, dan 39 pada Agustus.
Dengan tambahan 71 kejadian pada September, total kebakaran yang tercatat sejak Januari hingga September mencapai 219 kasus. Angka tersebut sudah lebih dari dua kali lipat dibandingkan total 106 kejadian yang tercatat sepanjang 2025.
Slamet menjelaskan, api dari aktivitas pembakaran sampah dapat dengan cepat menyambar material kering di sekitarnya. Risiko semakin besar ketika warga membakar sampah di sekitar rumpun bambu, lahan kosong, gumuk, maupun kawasan yang dipenuhi vegetasi kering.
Data Damkar menunjukkan sekitar 85 persen kejadian kebakaran pada September berkaitan dengan lahan yang ditumbuhi bambu dan kawasan gumuk. Sementara kebakaran yang diperkirakan berkaitan dengan aktivitas sengaja membuka atau membersihkan lahan berada di kisaran dua persen.
Namun, Slamet meminta masyarakat tidak serta-merta menganggap kebakaran pada lahan kering terjadi akibat faktor alam. Menurut dia, kelalaian manusia dalam mengendalikan api juga dapat menjadi pemicu kebakaran.
Sejumlah kejadian di Jember memperlihatkan bagaimana api di area yang dipenuhi material kering dapat meluas. Pada 24 September, kebakaran melanda kawasan Perum Mojopahit, Kelurahan Sempusari, Kecamatan Kaliwates.
Kebakaran tersebut menghanguskan sekitar 250 meter persegi ilalang dan dedaunan kering. Berdasarkan laporan BPBD Jember, api berasal dari area yang terdapat tumpukan sampah sebelum kemudian menjalar ke vegetasi di sekitarnya.
Kebakaran lahan juga terjadi di Antirogo pada awal September. Api membakar lahan seluas sekitar 2.000 meter persegi yang dipenuhi rumpun bambu, ranting, dan dedaunan kering sehingga petugas gabungan harus turun melakukan penanganan.
Ancaman kebakaran bahkan dapat mendekati permukiman warga. Peristiwa di Gumuk Kerang, Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Sumbersari, pada 12 September membakar sekitar 1,6 hektare lahan. Lokasi kebakaran tersebut berjarak sekitar 80 meter dari permukiman.
Memasuki Oktober, potensi kebakaran masih perlu diwaspadai. Dalam dua hari pertama bulan tersebut, Damkar Jember telah menerima lima laporan kebakaran.
Slamet meminta warga meningkatkan kewaspadaan ketika melakukan aktivitas yang melibatkan api. Ia mengingatkan warga untuk terus mengawasi api hingga benar-benar padam sebelum meninggalkan lokasi.
"Kalau memang harus membakar, pastikan tetap diawasi sampai benar-benar padam," tegasnya.
Damkar Jember juga berkoordinasi dengan unsur kepolisian dan TNI untuk melakukan sosialisasi pencegahan kebakaran. Petugas meminta masyarakat memastikan tidak ada api maupun bara yang tersisa setelah melakukan pembakaran sampah.
"Jangan sampai kebiasaan membakar sampah justru menimbulkan kebakaran yang mengancam lingkungan dan permukiman," kata Slamet.
