Ini Lima Kasus Mutilasi yang Menghebohkan di Jatim

Nani Mashita

Sabtu, 6 April 2019 - 14:58

JATIMNET.COM, Surabaya - Kasus pembunuhan dengan cara memutilasi korbanya kembali menggegerkan warga Jawa Timur. Kali ini, mayat pembunuhan sadis itu ditemukan dalam sebuah koper di Desa Karanggondang, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar, Rabu 3 April 2019 lalu.

Polisi mengidentifikasikan korban sebagai Budi Hartanto, seorang guru honorer SD di Blitar. Korban juga dikenal sebagai guru tari ssebuah sanggar di Kediri. Polda Jatim masih berupaya untuk menguak kasus mutilasi ini.

Kasus mutilasi ini bukanlah yang pertama kali terjadi di Jatim. Sebelumnya, kasus serupa juga menggegerkan Jatim, bahkan Indonesia. Berikut daftar pembunuhan dengan mutilasi yang dirangkum dari berbagai sumber.

1.  Mutilasi Guru Blitar

Jenazah Budi Hartanto ditemukan di Desa Karanggondang, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar, Rabu 3 April 2019 pagi di dalam koper.

Mayat tersebut pertama kali ditemukan seorang warga bernama Imam yang akan pergi mencari rumput di tepi sungai. Saat itu, Imam melihat ada koper tergeletak begitu saja. Ketika didekati, dia langsung kaget sebab melihat kaki manusia.

Saat ditemukan, korban dalam kondisi tanpa busana. Bagian kepalanya dimutilasi. Pelaku masih diburu oleh pihak kepolisian.

2. Ryan, Jagal Jombang

Kasus pembunuhan yang dilakukan Very Idham Henyansyah, atau dikenal dengan panggilan Ryan terungkap pada 2008 lalu. Ryan telah melakukan pembunuhan terhadap 11 orang. Motif pembunuhannya karena ekonomi dan asmara.

Ryan yang termasuk sadis membunuh dan menguburkan 10 mayat korban di halaman belakang rumahnya di Jombang. Beberapa korbannya bahkan dipotong-potong lalu dibuang di kawasan Jakarta. Ryan saat ini sedang menunggu hukuman mati untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

3. Astini, Jagal Surabaya

Astini, warga Kampung Wonorejo, Surabaya, dihukum mati gara-gara membunuh lalu memutilasi tubuh korbannya. Peristiwa pembunuhan yang dilakukan Astini itu terjadi pada 1996 saat warga menemukan kepala seseorang di Kali Wonorejo.  

Penemuan potongan kepala itu segera dilaporkan warga ke Kepolisian Sektor Kota Tegalsari, yang selanjutnya potongan kepala diserahkan ke kamar jenazah RSUD Dr. Soetomo.

Berita penemuan potongan kepala ini kemudian didengar Agus Purwanto, warga Kampung Malang, Surabaya. Saat itu, Agus mengaku kehilangan kakak perempuannya bernama Puji Astutik. Agus kemudian mendatangi kamar mayat dan mengenali potongan kepala itu sebagai kepala kakaknya.

Berdasarkan keterangan sejumlah saksi, diketahui korban sempat terlihat masuk ke rumah Astini di Kampung Malang. Astini, tetangga korban, ditangkap karena membunuh korban. Ia juga mengaku membunuh Rahayu dan Sri Astutik, dua tetangga lainnya. Latar belakangnya sama yaitu tersinggung saat ditagih membayar utang.

Astini sudah dieksekusi mati pada 20 Maret 2005, atau sembilan tahun sejak misteri pembunuhannya berhasil dipecahkan polisi.

4. H. Faisal, Jagal Maesan

Peristiwa pembunuhan dengan mutilasi sempat menggegerkan warga Bondowoso tahun 2010 silam. Saat itu, mayat yang diidentifikasi sebagai Sahrul, ditemukan terpotong-potong di persawahan di Desa Tanah Wulan, Kecamatan Maesan, pada 2010 silam.  

Polisi menetapkan 9 orang sebagai eksekutor dan satu orang H. Faisol sebagai otak pembunuhan keji tersebut. Para eksekutor divonis bervariasi mulai dari 10 tahun hingga kurungan penjara seumur hidup.

Dalam proses persidangan, H. Faisol sempat bebas murni meski ke-sembilan eksekutor mengaku membunuh atas perintah pria yang diberi julukan Jagal Maesan itu.

Tak puas atas putusan majelis hakim itu, jaksa penuntut umum saat itu langsung mengajukan kasasi. Setelah melalui proses cukup panjang Mahkamah Agung kemudian mengganjar H Faisol dengan penjara 15 tahun kurungan.

5. Mayat Mutilasi Romokalisari

Warga Romokalisari, Surabaya digegerkan dengan penemuan mayat kekar tanpa kepala di lahan kosong kawasan Bumi Pergudangan Maspion IV Kalimas, Senin 29 Maret 2010 silam. Mayat tersebut diidentifikasi sebagai Tri Agung Budiono, anggota satpam PT Kalimas.

Almarhum Tri diduga dikeroyok beramai-ramai sebelum dipenggal kepalanya dengan gobang. Dari tiga orang yang dimintai keterangan, Subandi (46) bunuh diri di sela-sela pemeriksaan seputar penemuan mayat tersebut. Motif pembunuhan diduga sakit hati karena ucapan korban saat menagih utang.

Baca Juga

loading...