Senin, 12 October 2026 09:30 UTC

Wakil Wali Kota Kediri KH KH Qowimuddin Thoha yang akrab disapa Gus Qowim menyerahkan tabungan emas kepada beberapa perwakilan koperasi di Kediri, Senin, 12 Oktober 2026. Foto: Queen/Jatimnet.
JATIMNET.COM, Kediri – Ratusan koperasi di Kota Kediri belum menuntaskan kewajiban Rapat Anggota Tahunan (RAT). Dari total 584 koperasi yang dibina, baru 251 yang tercatat melaksanakan RAT.
Wakil Wali Kota Kediri KH Qowimuddin Thoha pun mengingatkan pengurus agar tidak sekadar menjalankan organisasi, tetapi memastikan koperasi dikelola secara terbuka dan memberi manfaat bagi anggota.
Pesan tersebut disampaikan Gus Qowim, sapaan akrab Qowimuddin Thoha saat membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Perkoperasian di Hotel Grand Surya Kediri, Senin, 12 Oktober 2026.
Ia menegaskan, keberhasilan koperasi tidak diukur dari banyaknya anggota atau besarnya usaha, melainkan kontribusinya terhadap kesejahteraan anggota.
“Sekecil apa pun, sedikit anggotanya, selama itu memberikan kontribusi kepada anggotanya, itulah yang sebenarnya menjadi tujuannya,” tegas Gus Qowim.
Menurutnya, , RAT bukan sekadar kewajiban administratif. Forum tersebut menjadi sarana menjaga kepercayaan anggota sekaligus memastikan pengelolaan koperasi berjalan secara terbuka dan tertib.
“Karena koperasi ini mengelola amanat bersama, maka pengurusnya harus terbuka, keuangan harus tertib,” ujarnya.
Gus Qowim juga menyoroti keberadaan 46 Koperasi Kelurahan Merah Putih di Kota Kediri. Menurut dia, koperasi tersebut berpeluang menggerakkan ekonomi masyarakat dari tingkat kelurahan.
Namun, pembentukan koperasi perlu diikuti kejelasan bidang usaha agar mampu berkembang dan memberikan manfaat ekonomi.
Ia mencontohkan potensi industri tenun ikat di Bandar yang telah dikenal hingga mancanegara. Potensi lokal tersebut, menurut dia, perlu terus dikembangkan sebagai salah satu peluang usaha.
Selain penguatan usaha, digitalisasi menjadi fokus dalam Bimtek Perkoperasian kali ini. Gus Qowim berharap pemanfaatan teknologi memudahkan anggota mengakses informasi dan memantau perkembangan koperasi sehingga mereka dapat terlibat lebih aktif dalam pengelolaannya.
“Dengan digital itu diharapkan mempermudah anggota untuk bisa berperan aktif, untuk mengelola koperasinya, dia tahu perkembangan koperasinya. Sehingga anggota itu bisa semangat untuk menggerakkan ekonomi, menggerakkan koperasinya,” katanya.
Gus Qowim mengingatkan koperasi agar terus berinovasi mengikuti perkembangan zaman. Ia mengutip kaidah dalam kitab Idhotun Nasyiin, yakni at-tajaddudu sirru al-baqa’, yang bermakna pembaruan merupakan salah satu kunci keberlangsungan.
Menurut dia, inovasi diperlukan agar koperasi mampu bertahan sekaligus mengembangkan usahanya di tengah perubahan.
Pemerintah Kota Kediri berharap penguatan tata kelola, digitalisasi, dan kemitraan dapat mendorong koperasi menjadi lebih aktif, mandiri, serta memberikan manfaat bagi anggotanya.
Dukungan terhadap digitalisasi juga disampaikan perwakilan Bank Syariah Indonesia (BSI), Sylvia Permatasari. Ia menyatakan kesiapan BSI menjadi mitra koperasi, tidak hanya dalam layanan keuangan, tetapi juga melalui dukungan sosial dan spiritual.
“Kami ingin hadir membersamai teman-teman semua dalam menjalankan operasional koperasinya. BSI juga hadir tidak ingin hanya sebagai sahabat finansial, tapi juga sahabat spiritual dan sahabat sosial,” ujar Sylvia.
BSI turut menawarkan program BSI Agen yang memungkinkan koperasi menjadi perpanjangan layanan perbankan kepada masyarakat. Melalui layanan tersebut, koperasi berpeluang memperoleh pendapatan berbasis komisi atau fee-based income.
“Dengan adanya fungsi kepanjangan tangan ini, tentunya juga akan menambah pendapatan koperasi dari layanan yang diberikan kepada masyarakat di sekitarnya,” jelasnya.
