Logo
Keteguhan Lansia 80 Tahun

40 Tahun Bertahan Jualan Nasi Jagung, Mbah Suci di Mojokerto Tetap Pertahankan Harga Rp 4 Ribu Seporsi

Reporter:,Editor:

Minggu, 04 October 2026 05:33 UTC

40 Tahun Bertahan Jualan Nasi Jagung, Mbah Suci di Mojokerto Tetap Pertahankan Harga Rp 4 Ribu Seporsi

Mbah Suci saat menyajikan nasi jagung tradisional seharga Rp 4 ribu untuk pelanggan di warung Desa Karang Kedawang, Kecamatan Sooko, Mojokerto pada Sabtu, 3 Oktober 2026. Foto :Wanto

JATIMNET.COM, Mojokerto – Di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok, Suci (80), penjual nasi jagung di Kelurahan Karangkedawang, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, tetap mempertahankan usahanya.

Selama hampir 40 tahun, Mbah Suci konsisten menyajikan nasi jagung lengkap dengan berbagai lauk tradisional. Meski usianya telah 80 tahun, ia masih membuka lapak di rumahnya setiap hari.

Mbah Suci mulai berjualan sejak pukul 06.00 hingga 17.00 WIB. Dari rumah sederhana tersebut, pelanggan datang silih berganti untuk menikmati nasi jagung yang diraciknya.

Menu yang tersedia antara lain nasi jagung, sayur krawu, kecambah, kangkung, dan lodeh. Pelanggan juga mendapatkan rempeyek sebagai pelengkap dalam setiap porsi.

Yang menarik, Mbah Suci masih menjual seporsi nasi jagung seharga Rp4.000. Harga tersebut memang sudah naik dibandingkan saat pertama kali berjualan, tetapi ia memilih tidak menaikkannya terlalu tinggi meski harga bahan pokok terus berubah.

"Awalnya saya jual nasi jagung Rp 1.500, sekarang menjadi Rp 4.000. Ya, meskipun harga bahan pokok semakin mahal, saya tetap jual segitu," tutur Mbah Suci saat ditemui Jatimnet.com pada Sabtu, 3 Oktober 2026.

 

Tak Lagi Bisa Belanja ke Pasar

Di tengah aktivitas berjualan, Mbah Suci kini menghadapi keterbatasan fisik akibat faktor usia. Ia sudah tidak mampu pergi sendiri ke pasar untuk membeli kebutuhan memasak.

Sebagai gantinya, Mbah Suci mengandalkan pedagang sayur keliling yang mengantarkan bahan makanan langsung ke rumahnya.

"Sekarang saya sudah tidak bisa ke pasar sendiri, jalannya juga sudah susah. Jadi, setiap hari belanja sayur dikirim oleh penjual sayur. Anak-anak saya juga sudah berkeluarga semua," ungkapnya.

Keterbatasan tersebut tidak membuat Mbah Suci berhenti berjualan. Ia tetap menjalankan aktivitasnya setiap hari. Bahkan, beberapa pelanggan terkadang mengambil sendiri pesanan mereka di rumah.

Pelanggan Mbah Suci juga tidak hanya berasal dari sekitar Karangkedawang. Sejumlah pembeli datang dari wilayah lain, termasuk Kediri, untuk menikmati nasi jagung buatannya.

Deni (29), salah satu pelanggan asal Karangkedawang, mengaku sudah membeli nasi jagung Mbah Suci sejak harganya masih Rp1.500 per porsi.

Hingga kini, Deni tetap menjadi pelanggan meski harga nasi jagung tersebut telah naik menjadi Rp4.000.

"Sejak harga masih Rp 1.500 sampai sekarang Rp 4.000, saya tetap beli di sini. Rasanya enak, satu piring penuh, sudah dapat krawu dan rempeyek. Harganya juga masih terjangkau," kata Deni.

Selain nasi jagung, Mbah Suci juga menyediakan minuman dan gorengan. Harga sejumlah menu pelengkap tersebut juga mengalami kenaikan dibandingkan saat pertama kali dijual.

Es yang dahulu dibanderol Rp500 kini dijual Rp1.500. Sementara gorengan yang sebelumnya Rp500 per buah kini menjadi Rp1.000.

 

Hampir Empat Dekade Pertahankan Nasi Jagung

Selama hampir empat dekade berjualan, Mbah Suci tidak hanya mempertahankan usahanya, tetapi juga menjaga keberadaan makanan tradisional di lingkungan tempat tinggalnya.

Di tengah perubahan harga kebutuhan pokok dan keterbatasan fisik karena usia, ia tetap memilih menjalani aktivitas berjualan dengan kemampuan yang dimiliki.

Seporsi nasi jagung Rp4.000 yang dijual Mbah Suci menjadi bagian dari perjalanan panjang usahanya. Dari harga Rp1.500 hingga kini Rp4.000, pelanggan lama tetap datang dan pelanggan baru terus mengenal makanan tradisional tersebut.

Ketekunan Mbah Suci selama puluhan tahun menunjukkan bagaimana usaha kuliner sederhana di lingkungan perdesaan dapat bertahan dan tetap memiliki pelanggan lintas generasi.