Logo

Warga Jember Sulap Arang Limbah Jadi Bahan Bakar Kompor

Reporter:,Editor:

Jumat, 09 October 2026 03:00 UTC

Warga Jember Sulap Arang Limbah Jadi Bahan Bakar Kompor

Asep mengembangkan prototipe kompor yang disebutnya kompor DME (dimethyl ether), Kamis, 8 Oktober 2026. Foto: Fauzan Arif Satrio/Jatimnet

JATIMNET.COM, Jember – Arang limbah yang bernilai jual rendah dimanfaatkan Ahmad Syaifudin, warga Dusun Gayasan A, Desa/Kecamatan Jenggawah, Kabupaten Jember, menjadi bahan bakar alternatif kompor.

Inovasi ini memanfaatkan gas yang dihasilkan dari pembakaran arang di dalam tabung reaktor untuk menghasilkan nyala api.

Pria yang akrab disapa Asep tersebut mengembangkan prototipe kompor yang disebutnya kompor DME (dimethyl ether). Namun, teknologi itu masih dalam tahap penelitian dan pengembangan sehingga jenis serta komposisi gas yang dihasilkan perlu dipastikan melalui pengujian lebih lanjut.

“Setahu saya gas yang saya pakai ini namanya DME, dimethyl ether. Ada yang juga menyebutnya sintetik gas,” kata Asep saat dikonfirmasi sejumlah wartawan, Kamis, 8 Oktober 2026.

Asep menjelaskan, arang dibakar di dalam tabung reaktor dengan kondisi tertentu hingga menghasilkan gas. Gas tersebut kemudian dialirkan melalui saluran menuju kompor untuk menghasilkan api.

“Selama arang itu terbakar, tidak ada ruangan untuk terbentuknya api. Itu nanti terkonversi jadi gas. Gasnya kita salurkan ke kompor gas seperti biasa,” jelasnya.

Menurut Asep, prototipe tersebut dirancang agar dapat digunakan dengan kompor rumah tangga yang biasa dipakai untuk LPG melalui konektor yang disesuaikan. Dengan konsep itu, pengguna tidak harus menyediakan kompor khusus.

“Untuk kompor gas biasa juga bisa. Kita buatkan konektornya, langsung masuk ke selang kompor di rumah. Jadi tidak harus ada kompor khusus,” ujarnya.

Bahan baku yang digunakan berupa arang sortiran yang sudah hancur dan memiliki nilai jual lebih rendah dibandingkan arang utuh. Asep menyebut harga arang jenis tersebut berkisar Rp1.000 hingga Rp1.300 per kilogram.

“Kalau untuk arang yang sudah hancur-hancur itu biasanya harganya sangat murah. Setahu saya saat ini harga arang sortiran yang hancur-hancur itu sekitar Rp1.000 sampai Rp1.300 per kilogram,” katanya.

Prototipe reaktor yang dikembangkan Asep saat ini memiliki kapasitas sekitar tiga kilogram arang. Dalam pengujian sementara, tabung yang diisi penuh telah digunakan selama sekitar satu jam. Namun, pengujian tersebut belum cukup untuk memastikan efisiensi bahan bakar dan daya tahan perangkat.

“Untuk durability-nya masih kita belum tahap jauh. Cuma yang sudah kita coba, kita isi penuh, kita uji sampai satu jam kemarin dan kita cek yang terbakar ternyata tidak banyak,” ungkapnya.

Asep menilai teknologi tersebut berpotensi dikembangkan sebagai bahan bakar alternatif, terutama ketika terjadi kelangkaan LPG. Meski begitu, ia mengakui masih perlu menyempurnakan sejumlah bagian, khususnya agar pengoperasian dan proses menyalakan kompor menjadi lebih praktis.

“Ini masih dalam tahap R&D. Alhamdulillah sudah bisa menyala, cuma nanti ke depan mungkin akan kita tingkatkan lagi dari segi simpelnya, cara menyalakannya supaya bisa semudah kompor gas LPG umumnya,” jelasnya.

Camat Jenggawah Agus Sucahyo menyambut inovasi tersebut. Menurutnya, temuan Asep membutuhkan dukungan dan pendampingan pemerintah agar potensinya dapat dikaji lebih lanjut, terutama terkait pemanfaatan limbah dan pengembangan energi alternatif.

“Dalam rangka untuk lebih memaksimalkan temuan-temuan atau inovasi ini, bagaimana temuan ini merupakan solusi dalam rangka untuk mengatasi kelangkaan gas LPG dan pengelolaan sampah yang menjadi permasalahan saat ini dihadapi pemerintah daerah di seluruh Indonesia,” kata Agus.

Agus mengatakan, pemerintah daerah akan mengoordinasikan kemungkinan kajian lebih lanjut terhadap teknologi tersebut. Ia juga menyinggung peluang perlindungan hak kekayaan intelektual atas inovasi yang dikembangkan Asep.

“Saya kira nanti ada semacam di badan perencanaan riset daerah yang akan mengkaji dan bisa menyampaikan atau mendaftarkan hak ciptanya dari Mas Asep ini supaya menjadi pengakuan yang memang layak,” ujarnya.

Sementara itu, prototipe kompor tersebut diperkirakan memiliki harga sekitar Rp2,5 juta. Namun, nilai tersebut belum final karena perhitungan biaya produksi masih dilakukan seiring proses pengembangan.

“Kalau saya hitung kemarin itu mungkin kita jual di harga Rp2,5 juta. Tapi masih kita hitung ulang nanti, karena ini masih dalam tahap R&D,” pungkasnya.