Logo

Satu Ponsel Mengubah Cara Kita Bepergian

Dulu kita mencari kendaraan. Sekarang, kendaraan bisa dicari melalui layar yang berada di tangan.
Reporter:,Editor:

Rabu, 07 October 2026 08:00 UTC

Satu Ponsel Mengubah Cara Kita Bepergian

Ilustrasi: Perjalanan dalam genggaman. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Ponsel mengubah perjalanan sehari-hari lebih jauh daripada sekadar membantu seseorang membuka peta. Dari satu perangkat, orang bisa menentukan tujuan, memesan kendaraan, berkomunikasi dengan pengemudi, membayar perjalanan, hingga mencari tempat makan setelah tiba.

Perubahan itu terjadi ketika akses digital masyarakat Indonesia sudah semakin luas. BPS mencatat 72,78 persen penduduk Indonesia mengakses internet pada 2024. Setahun sebelumnya angkanya masih 69,21 persen.

Pada tahun yang sama, 68,65 persen penduduk telah memiliki atau menguasai telepon seluler. Bahkan di antara penduduk yang menggunakan internet, 99,08 persen mengaksesnya melalui telepon seluler. Laptop hanya digunakan 10,12 persen dan komputer 2,62 persen.

Angka tersebut membantu menjelaskan mengapa perubahan perilaku mobilitas berlangsung begitu cepat. Ponsel kini bukan lagi benda tambahan dalam perjalanan. Ia sudah menjadi bagian dari perjalanan itu sendiri.

 

Dulu Menunggu, Sekarang Memesan

Ada pengalaman yang semakin jarang dirasakan sebagian masyarakat perkotaan: berdiri cukup lama di pinggir jalan sambil berharap kendaraan umum segera datang.Teknologi mengubah pola tersebut.

Seseorang kini dapat mengetahui kendaraan yang akan digunakan bahkan sebelum meninggalkan rumah. Titik penjemputan ditentukan melalui peta digital. Perkiraan biaya dapat diketahui sebelum perjalanan dimulai.

Perubahan kecil ini memberikan sesuatu yang penting dalam kehidupan modern: kepastian. Bagi pekerja yang harus tiba tepat waktu, mahasiswa yang mengejar jadwal kuliah, atau orang tua yang membawa banyak barang dari pasar, mengetahui kapan kendaraan datang membuat perjalanan lebih mudah direncanakan. Ponsel juga memperluas pilihan.

Ketika kendaraan tidak tersedia pada satu titik, pengguna dapat mencari alternatif. Ketika jalan utama padat, navigasi digital dapat membantu mengenali rute lainnya.

Teknologi akhirnya tidak hanya menyediakan kendaraan. Ia membantu orang mengambil keputusan selama perjalanan.

 

Transportasi Kini Bertemu Ekonomi Digital

Perubahan berikutnya terjadi pada cara kita membayar. Dompet dan uang tunai belum menghilang. Namun, perjalanan semakin terhubung dengan pembayaran digital yang berada di perangkat yang sama. Bank Indonesia mencatat volume pembayaran digital mencapai 5,15 miliar transaksi pada April 2026.

Jumlah tersebut tumbuh 42,86 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Transaksi melalui QRIS bahkan tumbuh 108,43 persen secara tahunan. Skalanya semakin terlihat jika ditarik ke akhir 2025.

Bank Indonesia mencatat pengguna QRIS telah mencapai 59,53 juta pada triwulan IV 2025, melampaui target 58 juta pengguna. Jumlah merchant mencapai 42,75 juta dan sebagian besar merupakan UMKM.

Pulau Jawa menjadi wilayah dengan pengguna terbesar, mencapai 40,83 juta. Sumatra berada di urutan berikutnya dengan 10,40 juta pengguna.

Perubahan pembayaran tersebut mempunyai hubungan erat dengan mobilitas. Satu perjalanan kini dapat dimulai dengan membuka peta, dilanjutkan memesan kendaraan, membeli minuman di perjalanan, membayar makan siang, hingga mentransfer ongkos kepada teman tanpa berpindah perangkat. Ponsel perlahan menjadi semacam dompet, peta, loket, dan alat komunikasi dalam satu genggaman.

 

Perjalanan Pendek Menjadi Lebih Fleksibel

Dampak teknologi paling terasa bukan selalu pada perjalanan ratusan kilometer. Justru perjalanan beberapa kilometer yang mengalami perubahan besar.

Bayangkan seseorang keluar dari stasiun dan tempat tujuannya masih berjarak tiga kilometer. Berjalan terlalu jauh, sedangkan menggunakan kendaraan pribadi sejak rumah juga belum tentu efisien. Layanan transportasi berbasis aplikasi memberikan pilihan untuk menyambungkan perjalanan tersebut.

Hal serupa terjadi ketika seseorang harus pergi dari rumah menuju terminal atau stasiun. Kendaraan yang dipesan melalui ponsel dapat mengisi bagian perjalanan yang tidak terjangkau langsung oleh moda utama. Pola seperti ini membuat pilihan transportasi menjadi lebih cair.

Satu perjalanan tidak harus menggunakan satu kendaraan dari awal sampai akhir. Orang dapat menggabungkan jalan kaki, kendaraan berbasis aplikasi, bus, atau kereta sesuai kebutuhan.

Kebiasaan tersebut juga mengubah cara orang memandang jarak. Tempat yang dahulu terasa sulit dijangkau karena tidak berada di jalur angkutan umum kini terasa lebih dekat ketika perjalanan penghubung dapat dipesan dari ponsel.

 

Kemudahan Digital Belum Dinikmati dengan Cara Sama
 

Ada sisi lain yang penting diperhatikan. Ketika perjalanan semakin bergantung pada ponsel dan internet, orang yang tidak memiliki akses digital berpotensi menghadapi pilihan yang lebih terbatas.

Data BPS menunjukkan 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024. Artinya, akses digital sudah sangat besar, tetapi belum mencakup seluruh penduduk.

Kepemilikan telepon seluler juga menunjukkan variasi antardaerah dan antara kawasan perkotaan dengan perdesaan. Karena itu, transformasi transportasi sebaiknya tidak membuat semua layanan bergantung sepenuhnya pada aplikasi.

Pilihan pembayaran tunai, informasi perjalanan yang dapat dibaca tanpa ponsel, halte yang jelas, serta petugas yang dapat membantu penumpang tetap diperlukan.

Teknologi seharusnya memperluas pilihan, bukan menciptakan hambatan baru. Ada persoalan praktis lainnya. Ponsel membutuhkan baterai, koneksi internet, dan kemampuan pengguna memahami aplikasi.

Ketika salah satunya bermasalah, perjalanan yang sebelumnya terasa sangat mudah bisa mendadak merepotkan. Kebiasaan sederhana seperti memastikan baterai cukup sebelum perjalanan jauh atau menyimpan alamat tujuan secara offline tetap relevan.

 

Ponsel Tidak Menggantikan Transportasi yang Baik

Ada satu batas yang tidak dapat diselesaikan teknologi digital sendirian. Aplikasi dapat membantu menemukan kendaraan, tetapi tidak dapat menggantikan trotoar yang aman. Peta digital dapat menunjukkan halte, tetapi tidak membuat bus datang lebih sering.

Sistem pembayaran dapat menjadi sangat cepat, tetapi perjalanan tetap membutuhkan infrastruktur fisik. Karena itu, teknologi dan transportasi seharusnya berkembang bersama.

Jalan kaki perlu dibuat nyaman. Angkutan umum perlu mudah dijangkau. Informasi perjalanan perlu jelas. Pembayaran harus sederhana. Kendaraan penghubung dapat melengkapi bagian perjalanan yang belum terlayani.

Jika semuanya terhubung, masyarakat memperoleh sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar aplikasi baru: pilihan. Hari ini perubahan itu sudah terlihat dari kebiasaan sederhana.

Sebelum pergi, banyak orang memastikan dua benda tersedia: kunci dan ponsel. Bahkan kunci kendaraan pun tidak selalu diperlukan.
Ponsel telah mengubah cara kita bepergian karena ia menghubungkan kebutuhan perjalanan dengan informasi, kendaraan, komunikasi, dan pembayaran dalam satu perangkat.

Namun, masa depan mobilitas bukan tentang membuat manusia semakin bergantung pada layar. Teknologi paling berguna justru ketika membantu perjalanan menjadi lebih mudah, aman, terhubung, dan memberi lebih banyak pilihan dalam kehidupan sehari-hari.