Logo

Privilege Jawa Timur: Tidak untuk Dinikmati Sendiri

Reporter:,Editor:

Rabu, 14 October 2026 07:42 UTC

Privilege Jawa Timur: Tidak untuk Dinikmati Sendiri

Alhimni Fahma S.Kom.I, M.Med.Kom, dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Islam Syarifuddin Lumajang

JATIMNET.COM - Ada satu hal yang sering luput kita sadari ketika tinggal di Jawa Timur: betapa banyak hal yang sebenarnya sudah kita nikmati, tetapi kerap kita anggap biasa. Listrik yang menyala di tengah saudara-saudara kita di daerah lain terdampak mati total berjam-jam (black-out), distribusi pangan yang relatif terjaga, jalan yang menghubungkan antarkota sudah banyak yang bagus, pasar yang hidup, industri yang bergerak, hingga akses terhadap berbagai fasilitas pendidikan dan kesehatan. Semua hadir dalam keseharian, sampai-sampai kita lupa bahwa tidak semua daerah di Indonesia memiliki kemudahan yang sama.

Sebagai warga Jawa Timur, momentum Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur, 12 Oktober 2026 kemarin menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak dan menghitung kembali privilege tersebut. Bukan untuk membangun rasa superioritas sebagai warga Jawa Timur.  Bahwa rasa bangga ada, rasa syukur pasti, tidak sambat sekaligus sadar bahwa kelebihan Jawa Timur membawa tanggung jawab yang mengikuti perlu diterjemahi sekali lagi.

Dalam perspektif sosiologi Émile Durkheim, masyarakat tidak bisa hanya dibangun atas kepentingan individu, tetapi membutuhkan solidaritas sosial. Ada kesadaran bahwa kehidupan kita saling terhubung dan bahwa kemajuan satu kelompok tidak boleh mengabaikan kelompok lainnya. Maka, privilege Jawa Timur seharusnya tidak berhenti sebagai kebanggaan geografis, tetapi menjadi modal untuk membangun tanggung jawab bersama.

Jawa Timur dalam Geger Pecinan (Daradjadi, 2013), digambarkan bukan sekadar latar geografis yang pasif, melainkan medan laga penentu yang mengubah peta politik Mataram Islam dan kolonial VOC pada abad ke-18. Sejarah mencatat bahwa wilayah ini pernah menjadi ruang pertarungan kepentingan, kekuasaan, dan pengaruh yang menentukan arah perjalanan politik Nusantara. Namun, Jawa Timur hari ini menghadapi pertarungan yang berbeda. Tidak ada lagi pasukan bersenjata yang berhadapan di medan perang. Pertarungan Jawa Timur kontemporer justru berlangsung di ruang-ruang yang lebih subtil: bagaimana mengelola pertumbuhan ekonomi, mengatasi kemiskinan, mempersempit kesenjangan antardaerah, memberdayakan potensi pemuda, dan memastikan pembangunan berjalan bersama dengan atensi masyarakatnya menjaga lingkungan.

 

Gerbang Baru Nusantara: Untuk Semua Pemuda

Dalam setiap perubahan zaman, anak muda selalu menjadi salah satu penentu arah masa depan. Kita berharap, di Jawa Timur pemuda-pemuda yang terpilih menjadi wakil rakyat, kepala daerah, kepala camat, kepala desa, ataupun menjajal menjadi lurah dan ketua BUMDes adalah benar-benar membawa amanah yang baik, bukan semata hanya ‘estafet sambil lalu’ dari pendahulunya. Alih-alih hanya instrumen untuk memperpanjang kekuasaan bayangan kerabatnya yang ada di tampuk kekuasaan. Jika demikian, akan sangat disayangkan. Padahal kita meyakini pola kepemimpinan baru yang dibawa semangat pemuda akan memperbaiki kehidupan warga negara.

Dalam konteks inilah Jawa Timur memiliki peluang untuk memainkan peran yang lebih besar. Jawa Timur memiliki modal untuk menjadi ruang tumbuh bagi talenta muda, tidak hanya dari wilayahnya sendiri, tetapi juga dari kawasan Indonesia Timur. Potensi itu bukan jumlah yang kecil. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 mencatat Jawa Timur memiliki sekitar 9,56 juta penduduk Generasi Z dan 9,96 juta milenial. Artinya, terdapat lebih dari 19,5 juta penduduk dari dua kelompok generasi tersebut yang menjadi bagian penting dari kekuatan demografi Jawa Timur.

Anak muda dari Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga Papua yang datang di Jawa Timur sebagai saudara. Mereka adalah bagian dari potensi Nusantara yang dapat tumbuh bersama melalui kolaborasi. Sebaliknya, pemuda Jawa Timur yang memperoleh pendidikan, pengalaman, dan jejaring di luar daerah juga perlu didorong untuk kembali atau berkontribusi bagi kampung halamannya. Pertukaran gagasan, keterampilan, dan pengalaman antargenerasi serta antardaerah inilah yang dapat menciptakan kekuatan baru bagi pembangunan kawasan.

Pemikiran Amartya Sen dalam Development as Freedom (1999) memberikan perspektif menarik untuk membaca persoalan ini. Pembangunan sejatinya bukan semata-mata peningkatan angka pertumbuhan ekonomi, melainkan perluasan kemampuan manusia untuk menentukan dan menjalani kehidupan yang mereka nilai berharga. Dalam konteks Jawa Timur, keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari bertambahnya kawasan industri atau besarnya investasi. Kita juga harus memastikan bahwa anak-anak muda memiliki kesempatan nyata untuk bekerja, berkembang, dan hidup layak di tanah kelahirannya.

Alangkah membanggakan jika kelak pemuda potensial yang sedang berkelana keluar kemudian hari kembali ke daerah masing-masing dan mau membangun kampung halamannya. Butuh jiwa-jiwa muda dan gagasan penuh gairah nan potensial untuk memulai membangun daerah. Pemerintah kota/kabupaten juga semakin gencar mengajak putra daerah untuk kembali ke asalnya, semakin tidak membuat lama laju kesejahteraan masyarakat. Dengan mengoptimalkan potensi pemuda yang sedang memiliki daya kerja yang maksimal, bonus demografi ini akan mudah membuat perubahan di masing-masing daerah. John F Kennedy pernah berpetuah "The future promise of any nation can be directly measured by the present prospects of its youth" nampaknya perlu kita amini betul.

 

PR di Rumah Sendiri: Sampah dan Masa Depan Lingkungan

Selanjutnya persoalan rumah yang wajib diurai dengan gigih oleh Jawa Timur adalah soal sampah dan lingkungan. Karena acapkali orang berfikir ini sudah menjadi urusan dinas kebersihan, badan air dan lingkungan hidup. Padahal di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin nyata, pengelolaan sampah merupakan bagian dari agenda ketahanan lingkungan dan masa depan pembangunan Jawa Timur.

Jawa Timur perlu memiliki prototipe pengelolaan sampah yang maju dan berkelanjutan. Bukan sekadar proyek percontohan yang bagus saat diresmikan, tetapi sistem yang benar-benar bekerja dan dapat direplikasi di kabupaten/kota lain, terlebih sangat bagus jika berangkat dari masyarakat dari kelompok terkecil.

Kita bisa belajar dari Jakarta yang telah mengembangkan berbagai pendekatan pengelolaan sampah berskala kawasan. Namun, Jawa Timur tidak perlu sekadar meniru. Dengan karakter wilayah yang memiliki kawasan perkotaan, industri, pertanian, pesisir, dan desa, Jawa Timur memiliki kesempatan merancang model pengelolaan sampah yang lebih sesuai dengan kebutuhan lokal.

Apresiasi untuk DLH Provinsi Jatim karena telah menggandeng lintas elemen dalam bersama-sama mewujudkan Jawa Timur bersih tampak dalam rangkaian peringatan Hari Jadi ke-81 Jawa Timur kemarin, mulai dari konsorsium Lingkungan Hidup, Wagakum (Pengawasan dan Penegakan Hukum) hingga organisasi Sungai Watch diundang untuk hadir. Ada pesan simbolis yang menarik. Ada kesadaran bahwa persoalan sungai, sampah plastik, dan pencemaran lingkungan harus menjadi perhatian bersama.

Pemahaman bahwa persoalan sampah bagian dari perilaku dan komunikasi sosial agaknya tidak terbantahkan. Jürgen Habermas dalam The Theory of Communicative Action (1981) melalui gagasan tindakan komunikatif, mengingatkan pentingnya dialog dan partisipasi dalam membangun kesepahaman sosial. Artinya, perubahan perilaku masyarakat tidak cukup dibentuk melalui imbauan atau baliho pemerintah, apalagi sebatas seremoni belaka. Warga harus dilibatkan, didengar, dan diberi ruang untuk menjadi bagian dari solusi. Pemerintah hadir lewat rangkulan dan kerjasama dengan berbagai pihak dan elemen. Karena ini kerja kolektif demi masa depan yang dinikmati bersama kelak.

 

Privilege Harus Menjadi Kekuatan Bersama

Privilege Jawa Timur tidak seharusnya menjadi keistimewaan yang dinikmati sendiri, apalagi sekadar bahan kebanggaan di tengah ketimpangan yang masih dihadapi banyak daerah. Filosofi Jawa Timur, Jer Basuki Mawa Beya, bahwa keberhasilan membutuhkan usaha, pengorbanan, dan kerja keras, perlu dimaknai lebih luas: kemajuan tidak datang dengan sendirinya, tetapi harus diperjuangkan dan diupayakan bersama. Semangat tersebut sejalan dengan nilai-nilai Nawa Bhakti Satya yang menjadi landasan pengabdian pembangunan Jawa Timur.

Namun, kekuatan itu harus dimulai dari keberhasilan membereskan pekerjaan rumah sendiri. Anak-anak muda harus mendapatkan kesempatan aktualisasi diri yang layak. Sungai harus kembali menjadi sumber kehidupan, bukan saluran sampah. Kota dan desa harus tumbuh dengan sistem pengelolaan lingkungan yang lebih baik.

Jawa Timur tidak harus menjadi yang paling kaya sendirian. Jawa Timur justru harus mampu menjadi pionir: membangun ekonomi yang membuka kesempatan, menjaga lingkungan yang memberi kehidupan, dan mengajak daerah lain menikmati kemajuan bersama. Pada akhirnya, Hari Jadi ke-81 Jawa Timur bukan sekadar momentum menghitung apa yang telah kita capai. Ini adalah kesempatan untuk mengukur seberapa bijak kita menggunakan kelebihan yang dimiliki. Dirgahayu Jatimku! (*)