Senin, 20 July 2026 14:58 UTC

Beauty creator, Gabriele Kaylaa. Foto: Istimewa
JATIMNET.COM – Perubahan algoritma media sosial membuat cara kreator digital membangun audiens ikut bergeser. Mengandalkan konten yang sedang viral saja tak lagi cukup. Di tengah persaingan yang semakin padat, kreator dituntut memiliki personal branding yang kuat agar tetap relevan dan terus dipercaya oleh pengikutnya.
Besarnya persaingan tersebut sejalan dengan tingginya jumlah pengguna internet dan media sosial di Indonesia. Berdasarkan laporan Digital 2025 Indonesia dari DataReportal, Indonesia memiliki sekitar 212 juta pengguna internet dan sekitar 143 juta identitas pengguna media sosial. Kondisi ini membuka peluang besar bagi kreator, tetapi sekaligus membuat persaingan dalam menarik perhatian audiens semakin ketat.
Beauty creator, Gabriele Kaylaa menilai perubahan algoritma merupakan dinamika yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun yang berkarya di platform digital. Karena itu, menurutnya, kreator tidak seharusnya terpaku mencari satu formula yang dianggap ampuh untuk mendongkrak jangkauan konten.
"Algoritma media sosial terus berubah sehingga tidak ada satu formula yang selalu berhasil. Yang lebih penting adalah memahami audiens, membuat pembukaan video yang menarik, mempertahankan perhatian penonton, memilih topik yang relevan, dan terus mengevaluasi performa konten," ujarnya, Selasa, 21 Juli 2026.
Menurut Gabriele, memahami kebutuhan audiens jauh lebih penting dibanding sekadar mengikuti tren yang sedang ramai. Kreator juga perlu rutin mengevaluasi performa konten agar dapat mengetahui strategi yang paling efektif untuk mempertahankan keterlibatan penonton.
Ia mengakui tren dapat menjadi sarana untuk memperluas jangkauan konten. Namun, tren tidak cukup untuk membangun hubungan jangka panjang dengan audiens apabila tidak dibarengi identitas yang kuat.
"Tren dapat membantu jangkauan, tetapi identitas dan konsistensi tetap dibutuhkan agar audiens mempunyai alasan untuk terus mengikuti seorang kreator," katanya.
Gabriele yang dikenal melalui konten beauty dan lifestyle di TikTok maupun Instagram mengaku sejak awal memilih membangun karakter visual yang konsisten dengan gaya penyampaian yang sederhana dan mudah dipahami. Baginya, personal branding bukan berarti menciptakan sosok baru, melainkan memperkuat karakter asli agar lebih mudah dikenali dan diingat audiens.
"Personal branding bagi saya adalah bagaimana seseorang dikenal, diingat, dan dipercaya oleh audiens. Bukan sekadar tampilan visual, tetapi juga karakter, cara berkomunikasi, nilai yang dibawa, hingga konsistensi dalam berkarya," ujarnya.
Ia menegaskan, membangun personal branding membutuhkan proses panjang dan tidak bisa diperoleh secara instan. Karena itu, kreator perlu menjaga konsistensi agar kepercayaan audiens tetap terpelihara meski tren media sosial terus berubah.
Selain menekankan pentingnya identitas, Gabriele juga memanfaatkan perkembangan teknologi untuk mendukung proses kreatifnya. Di sisi lain, ia tetap mengingatkan bahwa kepercayaan audiens harus dijaga melalui konten yang autentik dan bertanggung jawab. Kedua hal tersebut akan dibahas lebih lanjut pada artikel berikutnya.
