Senin, 20 July 2026 04:43 UTC

Ketua DPC PPP Jember, Gus Mamak (kiri) bersama sekretaris dan bendahara DPC PPP Jember, Senin, 20 Juli 2026. Foto: Istimewa/Humas DPC PPP Jember
JATIMNET.COM, Jember – Final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina menjadi bahan refleksi politik bagi Ketua DPC Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kabupaten Jember, Madini Farouq. Menurutnya, jalannya pertandingan hingga gol penentu kemenangan Spanyol di babak perpanjangan waktu menunjukkan bahwa sebuah kontestasi tidak pernah benar-benar selesai sebelum peluit akhir dibunyikan.
Pandangan tersebut disampaikan Gus Mamak -sapaan akrabnya- saat menggelar nonton bareng (nobar) final Piala Dunia bersama kader, pengurus partai, dan warga di halaman Kantor DPC PPP Jember, Jalan Melati V Nomor 10, Kecamatan Kaliwates, Senin dini hari, 20 Juli 2026.
Laga final berlangsung ketat sepanjang waktu normal. Kebuntuan baru pecah pada menit ke-106 setelah Ferran Torres, yang masuk sebagai pemain pengganti, mencetak gol tunggal yang membawa Spanyol menang 1-0 sekaligus meraih gelar Piala Dunia keduanya setelah edisi 2010.
BACA: Ketuanya Jagokan Spanyol, PPP Jember Gelar Nobar Sembari Perkenalkan Kepengurusan Baru
Madini menilai, kemenangan yang ditentukan pada masa extra time menjadi pelajaran penting dalam dunia politik. Menurutnya, setiap tahapan harus terus dikawal hingga benar-benar berakhir karena perubahan masih bisa terjadi pada saat-saat terakhir.
"Sepak bola dan politik: bola itu bundar. Sehingga berbagai kemungkinan bisa terjadi," kata Madini.
Ia mengatakan, kerja politik yang dilakukan jauh sebelum pemilu tidak akan berarti apabila pengawalan terhadap suara di masa-masa akhir diabaikan.
"Last minute itu penting. Kita melakukan kegiatan-kegiatan jauh-jauh hari sebelum pemilu, tapi kalau di last minute menjelang pemilu kita tidak kawal betul bagaimana suara, bisa hilang suara itu. Bisa berubah peta politik," ujarnya.
Karena itu, Madini meminta seluruh kader PPP tetap bekerja hingga seluruh tahapan pemilu selesai.
"Sebelum peluit wasit dibunyikan, kita harus terus melakukan kegiatan-kegiatan dan usaha-usaha untuk bagaimana menjaring suara ke partai kami, PPP," katanya.
Selain menyoroti strategi politik, Madini juga menyinggung pentingnya netralitas penyelenggara pemilu. Ia berharap Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dapat menjalankan tugas secara profesional sehingga seluruh proses demokrasi berlangsung adil.
"Kita akan ingatkan KPU, kita ingatkan Bawaslu harus betul-betul netral. Jangan ikut bermain kalau tidak ingin terjadi kericuhan di lapangan," tegasnya.
Menurutnya, sepak bola dan politik sama-sama menuntut sportivitas. Persaingan merupakan hal yang wajar, tetapi hubungan antarpeserta harus tetap terjaga setelah kompetisi berakhir.
"Ayo junjung tinggi sportivitas, fair play. Bertanding itu sesuatu hal yang biasa, tapi setelah itu kita harus tetap menjadi teman," ujarnya.
Madini berharap semangat fair play tidak hanya hadir di lapangan sepak bola, tetapi juga menjadi budaya dalam setiap kontestasi politik sehingga perbedaan pilihan tidak memecah persaudaraan di tengah masyarakat.
Sementara itu, di balik refleksi politik yang disampaikannya, Madini mengaku sejak awal lebih menjagokan Spanyol pada partai final. Ia memiliki sejumlah alasan, mulai dari gaya bermain tiki-taka, kedekatan sejarah Islam di Spanyol, hingga keberadaan pemain muda Muslim, Lamine Yamal.
“Selain itu, Spanyol juga menjadi salah satu negara yang tegas mendukung Palestina dalam menghadapi Israel,” pungkas Gus Mamak.
