Logo

Mengapa Pulang ke Rumah Terasa Berbeda Saat Dewasa?

Rumah yang sama bisa terasa berbeda ketika kita pulang membawa pengalaman hidup yang lebih panjang.
Reporter:,Editor:

Jumat, 09 October 2026 13:00 UTC

Mengapa Pulang ke Rumah Terasa Berbeda Saat Dewasa?

Ilustrasi: Akhirnya pulang lagi. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Pulang ke rumah saat dewasa tidak selalu sama dengan pulang ketika masih sekolah. Dahulu rumah merupakan titik awal hampir semua aktivitas. Setelah bekerja, kuliah, menikah, atau merantau, rumah perlahan berubah menjadi tempat yang didatangi kembali.

Jarak membuat hal-hal biasa memperoleh makna baru. Masakan rumah terasa lebih istimewa. Suara kendaraan di depan rumah terdengar akrab. Kamar lama, meja makan, bahkan pertanyaan sederhana dari orang tua dapat menghadirkan perasaan yang sulit ditemukan di tempat lain.

Perubahan itu terjadi ketika kehidupan generasi muda Indonesia juga semakin dinamis. Statistik Pemuda Indonesia 2024 dari Badan Pusat Statistik memotret kondisi pemuda melalui berbagai dimensi, mulai demografi, pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan hingga kondisi sosial ekonomi. Data tersebut bersumber antara lain dari Susenas Maret dan Sakernas Agustus 2024.

Di Jawa Timur, dinamika serupa menjadi bagian kehidupan jutaan pemuda. BPS Jawa Timur bahkan menerbitkan statistik khusus untuk menggambarkan struktur demografi, pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, serta penggunaan teknologi kelompok muda di provinsi tersebut.

 

Rumah Tidak Berubah, Kita yang Berubah

Ada masa ketika seseorang ingin segera meninggalkan rumah. Kuliah di kota lain terasa menarik. Pekerjaan pertama membuka kesempatan hidup mandiri. Merantau menawarkan pengalaman yang tidak tersedia di kampung halaman. Setelah beberapa tahun, cara memandang rumah dapat berubah.

Hal-hal yang dahulu dianggap biasa mulai terasa berharga karena tidak lagi tersedia setiap hari. Makan bersama keluarga, suara orang tua memanggil dari ruangan lain, atau bertemu tetangga lama menjadi pengalaman yang hanya muncul pada waktu tertentu. Rumah akhirnya tidak hanya dimaknai sebagai bangunan.

Ia menyimpan rutinitas yang membentuk seseorang sebelum dunia di luar rumah memperkenalkan banyak pengalaman baru.
Itulah mengapa pulang ketika dewasa kadang terasa aneh sekaligus akrab. Kita mengenali tempatnya, tetapi datang sebagai orang yang sudah berubah.

 

Ponsel Membuat Jarak Terasa Lebih Pendek

Merantau sekarang juga berbeda dibandingkan beberapa dekade lalu. Dahulu keluarga yang berjauhan bergantung pada surat, telepon rumah, atau percakapan singkat melalui warung telekomunikasi. Kini anggota keluarga dapat saling melihat melalui panggilan video hampir setiap hari.

Perubahannya sangat besar. BPS mencatat 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024, naik dari 69,21 persen pada 2023. Pada tahun yang sama, 68,65 persen penduduk telah memiliki telepon seluler.

Telepon seluler bahkan menjadi perangkat utama untuk mengakses dunia digital. Data BPS menunjukkan hampir seluruh pengguna internet pada 2024 mengandalkan ponsel sebagai salah satu media aksesnya.

Keluarga akhirnya dapat tetap mengetahui kehidupan anggota yang merantau. Foto makanan bisa dikirim. Kondisi rumah dapat diperlihatkan melalui kamera.

Anak yang tinggal ratusan kilometer jauhnya masih bisa mengikuti percakapan keluarga. Namun komunikasi digital tidak sepenuhnya menggantikan pengalaman pulang.

Melihat meja makan melalui layar berbeda dengan duduk di sana. Mendengar suara ibu melalui telepon juga berbeda dengan berada di dapur ketika ia sedang memasak.

Teknologi memperpendek jarak komunikasi, tetapi tubuh tetap mengenali perbedaan antara terhubung dan hadir.

 

Pulang Membuat Kita Menemukan Perubahan Kecil

Salah satu pengalaman paling menarik ketika lama meninggalkan rumah adalah menemukan perubahan. Warung langganan mungkin sudah berganti pemilik. Jalan yang dahulu sempit menjadi lebih lebar. Pohon di halaman bertambah besar. Teman masa kecil sudah menikah dan memiliki anak. Orang tua pun berubah.

Perubahan tersebut sering tidak terlihat ketika seseorang bertemu setiap hari. Jarak membuatnya lebih mudah disadari.
Pada saat yang sama, rumah juga memperlihatkan benda-benda yang seperti berhenti bergerak bersama waktu.

Foto keluarga masih berada di dinding. Gelas favorit ayah tetap digunakan. Lemari lama masih menyimpan pakaian sekolah. Ada buku, mainan, penghargaan, atau benda kecil yang pernah dianggap sangat penting.

Pertemuan antara sesuatu yang berubah dan sesuatu yang tetap itulah yang membuat pulang terasa emosional. Kita seperti melihat dua waktu sekaligus.

 

Jawa Timur Juga Semakin Terkoneksi

Perubahan cara orang menjaga hubungan dengan rumah tidak bisa dilepaskan dari meluasnya konektivitas. BPS mencatat akses internet masyarakat Jawa Timur menunjukkan perbedaan antara wilayah perkotaan dan perdesaan.

Pada 2024, sebanyak 75,22 persen penduduk usia lima tahun ke atas di perkotaan Jawa Timur mengakses internet dalam tiga bulan terakhir. Di perdesaan angkanya 61,69 persen, sedangkan gabungannya mencapai 69,36 persen.

Data lain memperlihatkan karakter pengguna internet Jawa Timur. Dari penduduk provinsi tersebut yang mengakses internet pada 2024, 23,88 persen masih bersekolah dan 73,68 persen sudah tidak bersekolah lagi. Sisanya 2,44 persen berasal dari kelompok yang tidak atau belum pernah sekolah.

Angka itu memperlihatkan bahwa internet bukan lagi ruang yang identik dengan pelajar atau mahasiswa. Koneksi digital telah masuk jauh ke kehidupan masyarakat dewasa. Ia digunakan untuk bekerja, berkomunikasi, berbelanja, mengurus kebutuhan sehari-hari, dan tentu saja menjaga hubungan dengan keluarga.

Seorang anak yang bekerja di Surabaya dapat mengetahui keadaan keluarganya di kabupaten lain setiap hari. Perantau asal Jawa Timur di kota berbeda pun tidak harus menunggu berbulan-bulan untuk mendengar kabar rumah.

Namun justru ketika kabar bisa diperoleh setiap saat, pulang secara fisik mendapatkan arti tersendiri.

 

Saat Dewasa, Waktu Bersama Tidak Lagi Otomatis

Masa kecil memberi kemewahan yang sering baru disadari setelah hilang: waktu bersama keluarga terjadi dengan sendirinya. Sarapan bertemu. Malam bertemu. Akhir pekan kemungkinan besar berada di rumah yang sama.

Ketika dewasa, kebersamaan membutuhkan pengaturan. Ada jadwal pekerjaan, perjalanan, pasangan, anak, tugas kuliah, usaha, atau tanggung jawab lain. Anggota keluarga yang dahulu tinggal dalam satu rumah dapat tersebar ke beberapa kota. Karena itu, pulang tidak harus selalu menunggu Lebaran atau libur panjang.

Kunjungan singkat pada akhir pekan juga bisa bermakna. Begitu pula menelepon orang tua tanpa menunggu ada keperluan, makan bersama tanpa sibuk dengan layar, atau meminta mereka menceritakan kembali pengalaman keluarga.

Bahkan hal sederhana seperti memotret album lama dan mencatat nama orang-orang di dalamnya dapat menjadi cara menjaga ingatan keluarga.

Semakin dewasa seseorang, semakin jelas bahwa waktu bersama tidak tersedia tanpa batas.

 

Pulang Bukan Berarti Mundur

Ada anggapan bahwa menjadi dewasa berarti harus terus bergerak ke depan. Sekolah selesai, mencari pekerjaan, membangun karier, mengejar penghasilan, membeli rumah, lalu mencapai target berikutnya.

Pulang mengingatkan bahwa hidup tidak selalu bergerak dalam garis lurus. Sesekali manusia perlu kembali ke tempat yang pernah membentuk dirinya. Bukan untuk tinggal di masa lalu, tetapi untuk melihat seberapa jauh perjalanan sudah berlangsung. Rumah memungkinkan seseorang menemukan kembali versi dirinya yang mungkin sudah lama terlupakan.

Di sana ada orang yang mengenal kita sebelum gelar, jabatan, pekerjaan, atau pencapaian apa pun muncul. Mungkin itulah sebabnya pulang ke rumah terasa berbeda saat dewasa.

Internet dapat menjaga komunikasi tetap hidup. Ponsel membuat wajah keluarga dapat terlihat dari mana saja. Transportasi membuat perjalanan antarkota semakin mungkin dilakukan. Tetapi ada pengalaman yang belum dapat digantikan oleh layar.

Membuka pintu rumah sendiri. Mendengar suara yang familiar dari dalam. Meletakkan tas perjalanan. Lalu seseorang bertanya dengan kalimat yang sangat sederhana:
“Sudah makan?” Pada usia tertentu, dua kata itu bisa terasa seperti rumah itu sendiri.