Logo

Mengapa Jajanan Masa Kecil Selalu Bikin Rindu?

Kadang yang kita cari dari makanan lama bukan rasanya, melainkan orang dan suasana yang pernah menyertainya.
Reporter:,Editor:

Jumat, 09 October 2026 05:00 UTC

Mengapa Jajanan Masa Kecil Selalu Bikin Rindu?

Ilustrasi: Rasa yang dirindukan. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COMJajanan masa kecil punya kemampuan aneh. Satu gigitan kue tradisional, kerupuk, permen, atau makanan buatan ibu bisa membawa ingatan kembali ke rumah, sekolah, warung kecil, bahkan seseorang yang sudah lama tidak ditemui.

Hubungan makanan dengan kenangan memang kuat karena pengalaman makan melibatkan banyak indra sekaligus. Aroma, rasa, tekstur, warna, dan suasana sosial tersimpan sebagai satu pengalaman. Ketika salah satunya muncul kembali, ingatan lama ikut terbuka.

Di Indonesia, ruang untuk nostalgia makanan sangat luas. Statistik Kebudayaan Indonesia pernah mencatat sedikitnya 1.258 makanan tradisional dalam basis data kebudayaan nasional. Angka tersebut memperlihatkan bahwa makanan bukan sekadar kebutuhan harian, tetapi bagian penting dari keragaman budaya masyarakat.

 

Indonesia Punya Ribuan Cerita dari Makanan

Makanan tradisional biasanya tidak lahir sendirian. Ada bahan lokal, cara memasak, peralatan, kebiasaan keluarga, hingga perayaan tertentu yang menyertainya.

Karena itu, makanan yang sama dapat memiliki makna berbeda antardaerah. Ada hidangan yang muncul setiap hari, ada yang hanya dibuat ketika hajatan, Ramadan, Lebaran, selamatan, atau upacara adat.

Kekayaan tersebut berjalan bersama besarnya sektor pangan Indonesia. Badan Pusat Statistik mencatat pengeluaran makanan masih mengambil porsi 50,10 persen dari rata-rata pengeluaran per kapita per bulan masyarakat Indonesia pada Maret 2024. Artinya, sekitar separuh pengeluaran konsumsi masyarakat masih berkaitan dengan makanan.

Pada saat bersamaan, makanan dan minuman juga menjadi bagian penting industri nasional. Kementerian Perindustrian mencatat industri makanan dan minuman tumbuh 5,82 persen sepanjang triwulan III 2024 dan berkontribusi 40,17 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas.

Besarnya angka itu menjelaskan satu hal sederhana: makanan berada sangat dekat dengan kehidupan ekonomi sekaligus kehidupan emosional masyarakat Indonesia.

 

Jajanan Sekolah Punya Tempat Tersendiri

Bagi banyak orang, nostalgia makanan paling kuat justru bukan berasal dari restoran. Ingatan itu muncul dari jajanan yang dahulu dibeli menggunakan uang saku. Ada es dalam plastik, gorengan, kue pasar, mi kering, permen, kerupuk, cilok, telur gulung, atau makanan lain yang berbeda menurut daerah dan generasinya.

Pengalaman membeli jajanan juga membentuk kenangan. Anak harus memilih karena uang sakunya terbatas. Kadang makanan dibagi dengan teman. Ada pula pedagang tertentu yang ditunggu ketika jam istirahat.

Itulah yang sulit digantikan ketika produk serupa ditemukan puluhan tahun kemudian.

Rasanya mungkin masih sama, tetapi sekolahnya sudah berubah. Temannya sudah tinggal di kota berbeda. Pedagang yang dahulu dikenal mungkin sudah tidak berjualan. Makanan kemudian bekerja seperti penanda waktu.

 

Pasar Tradisional Menjaga Banyak Rasa Lama

Sebagian jajanan masa kecil masih bertahan karena ada pasar tradisional dan usaha makanan rumahan. BPS dalam Statistik Potensi Desa 2024 mencatat terdapat 16.895 desa atau kelurahan yang memiliki kelompok pertokoan.

Sebanyak 14.193 desa atau kelurahan memiliki pasar dengan bangunan permanen maupun semipermanen. Di ruang seperti inilah banyak makanan lokal tetap diperdagangkan tanpa harus berubah menjadi produk industri besar.

Pasar juga memungkinkan hubungan antara makanan dengan daerah asalnya tetap terlihat. Pembeli mengetahui siapa pembuatnya, dari mana bahan datang, atau kapan makanan tertentu biasanya tersedia.

Bagi masyarakat Jawa Timur, pengalaman itu mudah ditemukan dalam berbagai bentuk. Ada pasar pagi, pasar desa, penjual keliling, warung kampung, hingga sentra jajanan yang mempertahankan makanan khas daerah.

Karena itu, berburu makanan masa kecil tidak selalu harus dilakukan melalui toko modern. Kadang jejaknya justru masih berada beberapa kilometer dari rumah.

 

Resep Keluarga Bisa Hilang dalam Satu Generasi

Ada bentuk nostalgia makanan yang lebih personal: masakan keluarga. Seseorang mungkin masih mengingat rasa sambal buatan nenek, sayur yang biasa dimasak ibu, atau kue yang selalu tersedia ketika Lebaran. Persoalannya, banyak resep keluarga tidak pernah ditulis.

Takaran sering menggunakan ukuran yang sangat informal. Segenggam tepung, sedikit garam, satu gayung santan, atau bumbu secukupnya terasa jelas bagi orang yang memasaknya setiap hari. Bagi generasi berikutnya, ukuran tersebut belum tentu mudah diterjemahkan.

Di sinilah dokumentasi sederhana menjadi penting. Resep bisa ditulis, difoto, atau direkam ketika orang tua sedang memasak. Cara tersebut tidak hanya menyimpan daftar bahan. Kita juga bisa merekam teknik kecil yang sering tidak tercantum dalam buku resep: kapan api harus dikecilkan, bagaimana mengenali adonan yang tepat, atau mengapa satu bahan harus dimasukkan lebih dahulu.

Pengetahuan dapur seperti itu merupakan bagian dari pengalaman antargenerasi.

 

Makanan Tradisional Juga Menghadapi Generasi Baru

Menjaga makanan lama bukan berarti semua resep harus dibekukan persis seperti masa lalu. Perubahan gaya hidup membuat makanan terus beradaptasi. Ukuran porsi berubah, kemasan menjadi lebih praktis, pemasaran berpindah ke media sosial, sementara transaksi semakin banyak dilakukan secara digital.

Perubahan perilaku digital memang besar. BPS mencatat 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024. Kondisi ini membuka kesempatan bagi makanan yang dahulu hanya dikenal di lingkungan lokal untuk ditemukan konsumen yang jauh lebih luas.

Pedagang kue rumahan kini dapat memajang produknya melalui media sosial. Pembeli bisa menemukan jajanan daerah melalui mesin pencari. Resep keluarga bahkan dapat disimpan dalam bentuk video agar mudah dipelajari anak dan cucu. Adaptasi tersebut justru dapat memperpanjang usia sebuah makanan.

Yang penting adalah menjaga identitas dasarnya: cerita, bahan utama, teknik, serta hubungan makanan dengan masyarakat yang melahirkannya.

 

Mencicipi Kembali Masa Kecil

Ada cara sederhana menikmati nostalgia makanan tanpa menjadikannya sekadar tren. Cobalah mencari satu makanan yang dahulu sering dimakan ketika kecil. Cari tahu siapa yang masih membuatnya.

Tanyakan resep kepada orang tua. Ajak anak mencicipinya sambil menceritakan pengalaman di balik makanan tersebut. Bila menemukan resep keluarga, catat sebelum terlambat.

Makanan memiliki kelebihan yang tidak dimiliki foto. Ia tidak hanya memperlihatkan masa lalu, tetapi memungkinkan seseorang mencicipinya kembali.

Itulah sebabnya jajanan masa kecil selalu bikin rindu. Yang kembali bukan hanya rasa manis, gurih, atau pedas di lidah. Di dalamnya sering tersimpan halaman rumah, suara teman sekolah, tangan seorang ibu, perjalanan ke pasar, dan masa ketika kebahagiaan bisa datang hanya dari satu jajanan sederhana.

Berita Lainnya